
Tok tok tok...
Suara ketukan sudah terdengar dari luar ruangan Alex. Alex yang masih berada di ruangannya, menatap ke arah pintu dan tersenyum. Dia fikir, kalau yang datang itu adalah Dara.
"Masuk..." seru Alex mempersilahkan orang itu masuk.
Beberapa saat kemudian, Ranti membuka pintu ruangan Alex. Ranti terkejut saat Alex masih bertelanjang dada.
"Duh Pak Alex. Kok nggak pakai baju sih. Ke mana bajunya?" tanya Ranti.
Alex yang melihat Ranti sudah berdiri di dekat pintu, merasa malu sendiri karena masih dalam keadaan bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana saja saat ini.
"Ada apa Mbak?" tanya Alex menatap tajam ke arah Ranti
"Ini Pak Alex. Makanan buat Pak Alex," ucap Ranti.
"Dari siapa?"
"Dari Pak Rajasa."
"Taruh aja di meja."
"Baik Pak."
Ranti masuk ke dalam ruangan Alex dan mendekat ke arah meja. Dia kemudian meletakan rantang itu di atas meja.
"Mbak Ranti, mana Dara?" tanya Alex.
"Oh, Dara ada di bawah Pak Alex," jawab Ranti.
"Cepat panggilkan Dara! suruh dia datang ke ruangan saya sekarang!"
"Baiklah Pak Alex."
Ranti kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Alex. Setelah itu dia melangkah untuk turun ke bawah mencari Dara yang saat ini ada di lantai bawah.
Sesampainya di bawah, Ranti melangkah ke belakang kantor untuk mencari Dara.
"Dara, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Ranti pada Dara.
Dara menoleh ke arah Ranti. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Ranti.
"Ada apa Mbak?" tanya Dara.
"Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi nyuci kemejanya Pak Alex."
"Dipanggil Pak Alex tuh di atas."
"Iya Mbak. Tunggu sebentar ya tanggung nih. Aku mau jemur bajunya Pak Alex dulu."
"Iya. Nanti cepat ke ruangan Pak Alex ya. Jangan buat dia menunggu lama."
"Iya Mbak."
*****
Setelah menjemur baju Alex. Dara kemudian naik ke lantai atas dimana ruangan Alex berada. Dara kemudian melangkah ke ruangan Alex dan mengetuk pintu ruangan itu.
Tok tok tok...
"Permisi...!" seru Dara dari luar ruangan Alex.
"Masuk...!" ucap Alex.
Dara kemudian masuk ke dalam ruangan Alex setelah Alex mempersilahkan dia masuk.
"Selamat siang Pak Alex," ucap Dara.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" tanya Alex menatap Dara tajam.
"Aku dari bawah. Habis nyuci baju kamu. Siapa tahu, nanti sore kering. Kan udaranya sekarang juga lagi panas-panasnya," jawab Dara dengan santainya.
"Gara-gara kamu, aku nggak bisa ke mana-mana. Aku jadi telanjang begini. Memalukan! " gerutu Alex.
Dara yang melihat kemarahan Alex hanya diam.
"Nggak cuma kemeja aku saja yang kotor, semuanya juga ikutan kotor. Jas aku juga kotor" Alex masih tampak kesal.
"Maaf mas. Tapi aku kan nggak sengaja. Dan aku juga udah cuci baju kamu kok," ucap Alex.
"Iya. Tapi kan sekarang aku telanjang. Dan nunggu baju kering itu lama Dara."
"Kenapa nggak pinjam saja baju orang."
"Terus, baju siapa!"
"Atau, Mas Alex telpon aja Doni. Suruh dia ke sini, bawain baju ganti," ucap Dara mengusulkan.
Alex diam. Setelah itu dia tersenyum.
"Iya. Bener juga Dara. Kenapa aku nggak telpon Doni saja ya."
"Ya udah. Telpon Doni aja sekarang."
Alex kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomer Doni. Beberapa saat kemudian, suara Doni terdengar dari balik telpon.
"Halo..."
"Halo Don..."
"Lagi Bos. Ada apa bos?"
"Bisa kamu bawakan saya baju ganti?"
"Baju ganti apa Bos?"
"Tapi saya tidak tahu bos di mana bajunya si bos."
"Suruh Ratih. Suruh Ratih ambilkan!"
"Baik Bos."
****
Setelah menelpon Doni, Alex menatap Dara.
"Dara, temani aku makan ya," ucap Alex.
"Makan di mana?" tanya Dara.
"Ya di sinilah. Masa di cafe. Aku aja nggak pakai baju."
Alex bangkit dari dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke meja di mana tadi Ranti meletakan rantangnya.
"Dara, kita duduk di sini ya," ucap Alex sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Iya Mas." Dara hanya menuruti keinginan Alex.
Setelah itu dia mengikuti Alex duduk.
"Bukain Dara."
"Baik Mas."
Dara kemudian membuka rantang yang ada di depannya.
"Kamu udah makan?" tanya Alex.
__ADS_1
"Kebetulan, aku belum makan apa-apa Mas. Aku juga belum ke kantin. Aku kan tadi lagi sibuk nyuci kemeja kamu."
"Ya udah. Ayo kita makan."
Dara mengangguk.
Dara dan Alex akhirnya makan bersama.
Di sela-sela makan, suara pintu dari luar ruangan terdengar.
"Permisi bos...bos.."
"Dara, itu sepertinya Doni. Sana kamu bukain dia pintu. Pasti dia bawa baju aku."
"Iya Mas."
Dara bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ungu membuka pintu. Dara tersenyum saat melihat Doni.
"Bang Doni. Udah bawa bajunya Mas Alex?" tanya Dara.
"Ini." Doni menyodorkan kantong ke arah Dara.
Dara mengambil kantong itu dari tangan Alex.
"Makasih ya Bang. Mau masuk dulu Bang? kita makan dulu di dalam."
"Nggak usah Dara. Aku mau langsung pulang aja. Aku juga udah kenyang Dara."
"Oh. Makasih ya Bang."
"Iya Dara."
Setelah memberikan baju itu pada Dara, Doni pun pergi meninggalkan ruangan Alex. Sementara Dara duduk kembali di dekat Alex.
****
Sore ini, Pak Rajasa sudah keluar dari ruangannya. Dia melangkah keluar dari kantornya. Pak Rajasa kemudian menghentikan langkahnya setelah dia berada di depan kantor.
Pak Rajasa kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Halo Ton. Di mana kamu Ton? saya sudah di luar kantor nih."
"Oh. Iya Tuan. Saya ke sana sekarang."
Beberapa saat kemudian, mobil Anton sudah sampai di depan Pak Rajasa. Anton turun dari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Pak Rajasa.
"Silahkan masuk Tuan," ucap Anton.
"Makasih Ton."
Pak Rajasa masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Anton yang ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor.
"Ton. Aku mau ke rumah Alex Ton. Antar aku ke rumah Alex ya."
"Baik Tuan."
Beberapa saat kemudian, mobil Pak Rajasa sudah sampai di depan rumah Alex. Pak Rajasa kemudian turun dari mobilnya.
"Ton. Tunggu di sini ya. Saya mau masuk ke dalam dulu!" ucap Pak Rajasa.
Anton mengangguk. "Baik Tuan."
Setelah itu, Pak Rajasa pun melangkah ke teras depan rumah Alex. Pak Rajasa kemudian mengetuk pintu rumah Alex. Beberapa saat kemudian, Ratih muncul dari balik pintu. Dia terkejut saat melihat kedatangan Pak Rajasa.
"Tuan Rajasa. Ada apa?" tanya Ratih.
"Ratih, apa Bu Vivi ada di dalam?"
Rita diam. Dia bingung untuk mempertemukan Bu Vivi dengan Pak Rajasa. Karena Alex tidak membolehkan Bu Vivi untuk ketemu orang luar termasuk Pak Rajasa.
__ADS_1
"Ratih, kamu kenapa?" tanya Pak Rajasa.