
Sore ini, Doni masih berada di depan ruangan Pak Rajasa menemani Ica dan Oca duduk. Sementara Bu Vivi, Alex, dan Dara saat ini masih ada di dalam ruangan Pak Rajasa.
Suara ponsel Bu Vivi tiba-tiba saja berdering. Bu Vivi kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Ratih.
"Halo Nya. Tuan muda ada di situ nggak?"
"Halo Ratih. Ada apa Ratih. Alex nya lagi tidur."
"Ini di rumah, ada Alessa Nya. Alessa datang ke sini untuk mencari ayahnya."
"Alessa siapa?"
"Alessa anak kandungnya Tuan muda. Cucunya Nyonya."
"Apa! kamu ini bicara apa Ratih! jangan ngelantur kamu bicaranya."
"Nggak Nya. Saya bicara yang sebenarnya. Di sini ada anak sepantaran Oca dan Ica yang mirip banget dengan Tuan muda. Coba sekarang Nyonya tanyakan sama Tuan Alex tentang anaknya Tuan Alex yang ada di panti asuhan."
"Ratih, kamu yakin dengan ucapan kamu?"
"Untuk apa saya bohong Nya. Saya serius. Mungkin selama ini Tuan muda itu sudah punya anak dari seorang wanita. Dan selama ini, dia menyembunyikan anak itu di panti asuhan. Apa Nyonya mau saya video call. Biar Nyonya bisa lihat Alessa."
"Nggak usah Ratih. Kamu bawa anak itu ke sini saja Ratih. Jangan buat saya mati penasaran kamu."
"Tapi saya mau naik apa Nya?"
"Saya nanti telpon Anton untuk menjemput kamu dan anak itu ke rumah."
Bu Vivi kemudian memutuskan saluran telponnya begitu saja.
Pak Rajasa sejak tadi masih menatap istrinya lekat.
"Siapa Ma, yang nelpon? kenapa mama terlihat sangat marah?" tanya Pak Rajasa.
"Ratih yang nelpon."
"Dia bilang apa emang?"
"Mama juga bingung, tadi Ratih bilang, kalau ada seorang anak sepantaran adiknya Dara, datang ke rumah. Dia ngaku-ngaku kalau dia itu anak kandungnya Alex. Kok bisa ya, Alex itu punya anak sebesar itu."
"Ma, kamu kayak tidak tahu Alex saja sih. Dia itu playboy, pacarnya banyak. Bisa saja, Alex pernah tidur sama seorang wanita yang membuat wanita itu hamil. Anak kita itu misterius Ma. Kita tidak tahu rahasia apa saja yang sedang dia simpan selama ini. Papa saja baru tahu, kalau ternyata Rita itu juga pernah pacaran dengan Alex."
"Apa! papa tahu dari mana soal itu?"
"Nggak penting Ma, kita membicarakan itu."
"Aku akan telpon Anton untuk menjemput Alessa dan Ratih di rumah. Aku ingin melihat anak itu sekarang juga."
Bu Vivi kemudian melangkah pergi ke luar untuk menelpon Anton.
Setelah Bu Vivi pergi, Dara keluar dari kamar mandi. Dia kemudian mendekat ke arah Pak Rajasa.
"Mana Mama Pa?" tanya Dara.
"Mama kamu keluar. Dia mau telpon Anton."
"Oh."
Dara menatap ke arah Alex yang sudah terlelap di kursi yang ada di ruangan Pak Rajasa.
"Mas Alex tidur?"
"Iya Dara. Biarkan saja dia. Dia baru tidur tadi. Mungkin dia lagi kecapean."
Dara mendekat ke arah Alex. Dia kemudian duduk di sisi Alex yang sedang tidur.
__ADS_1
*****
Setelah lama Bu Vivi dan Pak Rajasa menunggu kedatangan Ratih, beberapa saat kemudian, Ratih membuka pintu ruangan Pak Rajasa. Dia membawa Alessa juga ke ruangan itu.
"Assalamualaikum," ucap Ratih dan Alessa bersamaan.
"Wa'alakiumsalam."
Pak Rajasa, Bu Vivi dan Dara terkejut saat melihat Alessa. Dara langsung bangkit berdiri.
"Alessa," ucap Dara.
Alessa menoleh ke arah Dara dan menatap Dara lekat.
"Kak Dara,"
Dara buru-buru menghampiri Alessa.
"Kamu kok bisa ada di sini? kamu ke sini sama siapa?" tanya Dara.
"Dara, kamu kenal dengan anak ini?" tanya Bu Vivi.
"Dia anaknya Mas Alex Ma. Selama ini Mas Alex sudah menyembunyikan anak ini di panti asuhan."
Bu Vivi menatap Pak Rajasa lekat.
"Anak kamu, benar-benar keterlaluan Mas. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal besar seperti ini dari kita. Padahal sudah lama mama sangat mengharapkan cucu. Kenapa Alex tidak jujur saja sama kita."
Pak Rajasa yang masih sakit tidak bisa berbuat apa-apa saat mengetahui hal itu. Mungkin kah dia harus marah sama Alex karena kebohongan Alex selama ini. Dia hanya bisa memaklumi kesalahan Alex saja di masa lalu.
"Alessa, siapa ibu kamu dan di mana dia sekarang?" tanya Bu Vivi menatap lekat Alessa.
"Aku nggak tahu siapa mama aku. Dari bayi aku sudah dititipkan di panti asuhan oleh Om Alex. Aku nggak tahu siapa mama kandung aku. Aku ke sini, sebenarnya ingin menanyakan ke Om Alex tentang siapa ibu kandung aku. Jika dia masih hidup, aku ingin menemuinya sekarang."
"Itu, papa kamu masih tidur. Kamu boleh bangunin dia," ucap Bu Vivi.
"Alessa, papa kamu sudah tidur dari tadi. Bangunin saja dia sayang," ucap Dara.
Alessa kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Alex.
"Om Alex, bangun Om. Aku datang cuma ingin main ke rumah Om," ucap Alessa.
Beberapa saat kemudian, Alex mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Alessa sudah ada di depannya. Alex duduk dan menatap sekeliling.
"Alessa. Kamu Alessa..." ucap Alex sembari mengucek-ngucek matanya.
"Iya. Aku Alessa Om. Aku datang ke sini, karena aku penasaran dengan rumah Om. Dan aku juga sekalian ingin bertanya siapa ibu kandung aku?"
Alex benar-benar tidak menyangka dengan kehadiran Alessa di depannya. Dia menatap sekeliling ruangannya yang ternyata sudah ramai orang.
Sepertinya semua sudah tahu siapa Alessa.
Bu Vivi mendekat ke arah Alex.
"Alex, kamu selama ini udah bohong sama mama ya. Kamu selama ini ternyata sudah punya anak sebesar Alessa. Dan di mana ibunya Alessa?" tanya Bu Vivi.
"Mamanya Alessa sudah meninggal. Sejak dia melahirkan Alessa," jawab Alex.
Alessa meneteskan air matanya. Dia menangis sesenggukan di depan semua orang
"Alessa, jangan nangis dong," ucap Dara.
"Aku pengin lihat makam mama Om," ucap Alessa menatap anaknya lekat
Alex mendekat dan menghampiri Alessa. Dia kemudian memeluk Alessa dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan papa sayang. Papa kamu ini memang pengecut. Dan mama kamu meninggal juga semua karena kesalahan Papa," ucap Alex.
Alessa melepas pelukan ayahnya. Setelah itu dia menatap ayahnya lekat.
"Semua sudah takdir Om. Dan Om juga nggak boleh menyalahkan kehadiran aku di kehidupan Om. Aku juga sudah ditakdirkan menjadi anaknya Om. Kenapa Om harus malu untuk mengakui aku sebagai anaknya Om."
Alex mengusap air mata anaknya. Hatinya begitu terpukul mendengar kata-kata yang diucapkan Alessa.
"Sayang, jangan panggil aku Om. Panggil aku papa. Karena aku adalah papa kandung kamu. Besok, kalau Opa kamu sudah sembuh dari sakitnya, Papa akan antar kamu ke makam ibu kamu, sekalian papa mau mengenalkan calon mama baru untuk kamu pada ibu kamu."
Alex kemudian mengecup kening Alessa.
"Sayang, papa janji Papa akan membahagiakan kamu. Papa akan mengajak kamu tinggal di rumah papa dan papa akan mengenalkan kamu sama semua orang. Papa tidak akan mengembalikan kamu di panti asuhan lagi."
"Makasih ya Papa. Cuma itu harapan aku selama ini. Berkumpul dengan orang tua kandung aku."
Alessa menatap Dara lekat.
"Mama..." ucap Alessa.
Dara tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah Alessa dan memeluk Alessa dengan erat.
"Kamu boleh Alessa panggil aku mama. Karena sebentar lagi Kak Dara akan nikah sama papa kamu."
Dara melepaskan pelukannya. Dia benar-benar bahagia dengan semua ini. Awalnya Dara syok saat mengetahui rahasia besar itu. Tapi sekarang Dara bahagia karena Alex sudah mau menerima Alessa untuk tinggal bersamanya.
Deringan telpon Alex mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Alex kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
"Halo..."
"Halo Pak Alex. Ini dari kantor polisi."
"Ada apa Pak? ada kabar tentang Rita?"
"Saya sudah berhasil menangkap Martin dan Rita."
"Oh ya. Martin dan Rita sudah tertangkap."
"Iya Pak Alex."
"Syukurlah kalau begitu. Saya jadi tenang Pak sekarang."
"Iya Pak Alex. Pak Alex dan keluarga tidak perlu khawatir lagi. Karena ke dua buronan itu sudah kami bekuk dan kami masukan ke sel tahanan."
"Iya. Makasih banyak untuk semua bantuannya selama ini Pak."
"Iya Pak Alex, sama-sama."
Setelah menutup saluran telponnya, Alex menatap semua orang.
"Ada apa Bos?" tanya Doni.
"Rita dan Martin sudah tertangkap," jawab Alex.
"Alhamdulillah akhirnya..."
Semua orang bisa bernafas lega saat mendengar kabar itu.
*****
Tamat.
Makasih ya untuk teman-teman yang sudah dukung author dan sudah mampir untuk baca karya author yang ini sampai tamat.
Sampai di sini saja ya, ceritanya
__ADS_1
Biar nggak kepanjangan. Musuhnya sudah tertangkap, dan Alessa juga sudah di terima di keluarga Rajasa.
Karya ini cuma kehaluan author saja. Mohon maaf kalau ada typo dalam kepenulisan, kesamaan nama dan tempat.