Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kedatangan Non Alessa


__ADS_3

"Dek, maaf ya dek. Kamu turun di sini saja," ucap sopir truk setelah menghentikan laju mobilnya.


Alessa menatap sopir itu lekat.


"Kenapa saya harus turun di sini Pak? emang kita sudah sampai di alamat rumah ini?" tanya Alessa.


"Saya tidak bisa masuk di perumahan orang elit. Soalnya saya membawa truk bermuatan. Kamu cari sendiri saja ya dek alamatnya."


"Terus saya harus cari di mana alamat rumah ini?"


"Itu dek, kamu masuk saja ke sana. Alamat rumah yang kamu cari itu ada di dalam komplek perumahan orang elit itu."


"Oh... gitu ya "


"Iya dek."


Alessa mengambil uang receh yang ada di dalam tasnya.


"Pak, segini cukup nggak untuk bayar bapak?" tanya Alessa sembari menunjukan uang recehnya pada sopir truk itu.


"Tidak usah Dek. Bapak ikhlas kok nolong kamu."


"Jadi bapak nggak mau aku bayar? "


"Nggak usah. Ambil aja dek uangnya."


"Iya Pak. Makasih banyak ya Pak."


Alessa turun dari mobil truk itu. Setelah itu dia memasuki kawasan rumah orang elit itu. Yah, rumah Alex memang letaknya di komplek perumahan orang-orang kaya. Dan susah juga sebenarnya untuk masuk ke dalam perumahan itu.


Alessa menatap sekeliling.


"Aku harus tanya sama siapa ya alamat rumah ini. Benar nggak sih, bapak tadi membawa aku ke alamat rumahnya Om Alex."


Tatapan Alessa tertuju pada seorang lelaki berbaju satpam yang ada di dekatnya berdiri. Alessa mendekat ke arah satpam itu.


"Maaf Pak, boleh saya tanya Pak?" tanya Alessa.


Satpam itu menatap Alessa lekat.


Kenapa wajah anak ini seperti nggak asing ya untuk saya. Dia seperti mirip seseorang, batin Satpam itu.


"Tanya apa dek?"


"Bapak kenal Alex Rajasa nggak?"


"Kenal dek. Emang kenapa?"


"Katanya alamat rumahnya ada di sekitar sini. Bisa ngga bapak antar saya ke rumah Pak Alex Rajasa."


"Kamu mau cari Alex Rajasa? untuk apa? kamu kenal sama dia?"


Alessa diam. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia adalah anaknya Alex Rajasa. Karena selama ini yang orang tahu, Alex Rajsa itu masih bujangan.


Mana mungkin tiba-tiba dia bisa punya anak sebesar Alessa. Pasti semua orang tidak akan percaya dan tidak akan pernah menyangka akan hal itu.


"Pak kenapa bapak diam aja?"


Siapa sebenarnya anak ini. Dia mirip dengan Alex Rajasa. Dan sekarang dia minta aku untuk mengantarnya ke rumah Alex Rajasa. Mungkin anak ini adiknya Pak Alex kali ya. Atau masih kerabatnya Pak Alex yang bau datang dari jauh,

__ADS_1


"Kamu mau ke rumahnya Alex Rajasa?" tanya Satpam itu.


Alessa mengangguk. "Iya Pak."


"Ya udah, saya akan antar kamu ke sana. Tapi pakai motor ya dek. Soalnya rumahnya masih jauh."


Alessa tersenyum.


"Makasih banyak ya Pak."


"Tunggu d sini ya saya mau ambil motornya."


Satpam itu kemudian melangkah pergi untuk mengambil motornya. Setelah itu Satpam itu kembali dengan membawa motor.


"Ayo dek, naik!" pinta satpam itu.


"Iya Pak. Makasih banyak ya Pak."


Alessa kemudian naik ke atas motor. Setelah itu Alessa meluncur pergi dengan sang satpam untuk ke rumah Alex.


Sesampainya di depan gerbang rumah besar Alex, satpam itu menghentikan laju motornya.


"Ini dek, alamat rumahnya Pak Alex. Pak Alex itu kalau siang kerja. Kalau malam baru ada di rumah."


"Iya Pak. Makasih banyak ya Pak udah mau ngantar aku sampai ke sini."


Alessa turun dari motor. Setelah itu dia menatap rumah mewah tiga lantai itu.


Ini kah rumahnya Papa aku. Gede banget rumahnya. Jadi ternyata aku ini adalah anaknya orang kaya. Tapi kenapa Papa aku tega menyingkirkan aku di kehidupan mewahnya. Kenapa dia tega mengasingkan aku di panti asuhan. Apa salah aku. Aku juga berhak untuk tinggal di sini dan hidup enak bersamanya.


Hiks...hiks...


Satpam terkejut saat tiba-tiba saja anak remaja yang dibawanya itu menangis.


Satpam hanya geleng-geleng kepala saat melihat Alessa menangis.


Tanpa banyak butuh waktu lama, Satpam itu kemudian menekan bel rumah Alex.


Ting tong...


Beberapa saat kemudian, Pak Tino melangkah ke pintu gerbang rumah itu.


"Pak Tino, ini ada kerabatnya Pak Alex. Tolong bawa dia masuk. Kasihan dia," ucap satpam itu pada Pak Tino.


Pak Tino kemudian membuka pintu gerbang itu untuk Alessa.


Pak Tino terkejut saat melihat Alessa.


"Siapa dia?" tanya Pak Tino satpam yang sudah membawa Alessa sampai di depan rumah Alex.


"Nggak tahu. Tapi tadi saya temukan dia di depan sana. Mungkin dia adiknya Pak Alex atau anaknya Pak Rajasa yang selama ini hilang, lihat saja, wajahnya cantik ,mirip Pak Alex banget," ucap satpam itu.


"Ayo dek, kita masuk ke dalam. Kamu mau cari Tuan Alex ya? atau mau cari Tuan Rajasa?"


Alessa mengusap air matanya. Setelah itu dia mengikuti Pak Tino masuk ke dalam. Pak Tino membawa Alessa sampai pada Ratih.


"Ratih,urus anak ini."


Ratih terkejut saat melihat Alessa.

__ADS_1


"Siapa dia Pak Tino? " tanya Ratih.


"Nggak tahu. Coba tanya aja sendiri pada anaknya"


Ratih mendekat ke arah Alessa.


"Dek, kamu siapa? kamu kok bisa mirip banget sama Tuan Alex ya. Kamu kerabat dari mana? dan kenapa kamu pakai seragam sekolah?" Runtutan pertanyaan sudah Ratih lontarkan pada anak itu.


"Saya Alessa Mbak. Saya anaknya Alex Rajasa yang selama ini terbuang dan tersingkirkan. Dan selama ini saya hidup di panti asuhan."


Deg.


Ratih terkejut bukan main saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir Alessa.


Hampir saja Ratih pingsan mendengar kabar mengejutkan itu.


"Kok bisa, Tuan Alex punya anak sebesar kamu?" ucap Ratih yang masih tak menyangka.


"Saya juga nggak tahu. Tanya sendiri aja sama Alex Rajasa. Saya ini memang anaknya Alex Rajasa. Dan saya kesini, karena saya ingin menanyakan soal ibu kandung saya pada Pak Alex."


"Kamu dari panti asuhan?" tanya Ratih menatap Alessa lekat.


"Iya Mbak. Selama ini saya dititipkan di panti asuhan oleh Alex Rajasa. Mungkin Alex Rajasa malu untuk mengakui kalau saya ini adalah anaknya."


Ratih merasa iba dengan anak cantik itu. Dia kemudian merangkul bahu anak itu dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Kita duduk di dalam ya Alessa. Kita ngobrol-ngobrol di dalam aja."


Ratih dan Alessa kemudian duduk di ruang tengah rumah Alex. Beberapa saat kemudian, Mbak Mirna dan Lestari datang menghampiri mereka.


"Siapa itu Ratih?" tanya Mbak Mirna.


"Katanya dia anaknya Pak Alex. Kalian percaya nggak sih? ternyata Pak Alex punya anak sebesar ini."


Mbak Mirna dan Lestari menatap lekat wajah Alessa yang mirip dengan Alex.


"Kalau saya sih percaya banget dia anaknya Pak Alex. Lihat saja, wajahnya mirip semuanya dengan Pak Alex," ucap Lestari.


"Kalau saya juga percaya. Siapa nama kamu Non?' tanya Mbak Mirna.


"Alessa."


"Namanya bagus. Cantik, secantik orangnya," ucap Mbak Mirna.


"Iya. Kan Papa aku yang ngasih aku nama ini waktu aku masih bayi."


"Pantas aja namanya hampir mirip dengan Tuan Alex. Ternyata Tuan Alex yang udah ngasih kamu nama itu?"


Alessa mengangguk.


Ratih, Lestari dan Mba Mirna, tidak berani untuk bertanya macam-macam pada nona kecilnya Alex. Mereka takut dengan kemarahan Alex. Mereka bertiga hanya bisa menemani Nona kecil itu dan melayaninya dengan baik.


"Non Alessa, pasti capek. Mbak Tari ambilkan minuman ya untuk non," ucap Lestari.


"Jangan panggil aku Non. Panggil aja aku Alessa. Karena aku nggak pernah di panggil Non."


"Non sekarang ada di Istananya Tuan muda Alex. Jadi Non harus mengikuti aturan di rumah ini. Non kan yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga Rajasa setelah Tuan Alex," ucap Mbak Mirna.


"Iya Non. Nyonya Vivi dan Tuan besar Rajasa pasti seneng kalau lihat Non. Udah lama mereka pengin punya cucu. Dan mereka pasti terkejut saat mereka tahu ternyata cucunya sudah sebesar Non Alessa," ucap Ratih menimpali.

__ADS_1


Walaupun Ratih, Lestari, dan Mbak Mirna tidak tahu menahu bagaimana ceritanya Tuan mudanya itu bisa punya anak sebesar Alessa, namun mereka bertiga percaya kalau Alessa adalah anak kandungnya Alex.


Karena tanpa tes DNA pun, semua orang pasti sudah bisa menilai kalau Alessa itu anaknya Alex. Karena dia memang mirip dengan Alex.


__ADS_2