Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kedatangan Desi


__ADS_3

Siang ini, Dara masih berada di dapur bersama Bu Vivi. Bu Vivi siang ini masih tampak berkutat di dapur memasak banyak makanan. Dan Dara sejak tadi, masih membantu Bu Vivi menyiapkan berbagai keperluannya.


"Bu, ibu masak banyak banget begini, untuk apa?" tanya Dara yang saat ini masih berada di samping Bu Vivi.


Bu Vivi tersenyum.


"Ibu lagi pengin masak. Udah lama ibu nggak masak."


"Tapi tadi pagi kan Mbak Mirna juga sudah masak."


"Ya nggak apa-apa Dara. Ibu mau kirim makanan ini untuk Alex dan teman-teman Alex di kantor. Kamu mau kan antar makanan untuk Alex di kantornya? Untuk bekal makan siang dia. Agar Alex nggak usah beli makan di luar."


Dara tersenyum. Dara senang melihat Bu Vivi sudah sembuh dan dia juga tampak bersemangat menjalani hari-harinya. Tampaknya, gangguan kejiwaannya pun sudah sembuh total. Tapi entahlah untuk ingatannya. Sepertinya ingatan Bu Vivi belum benar-benar pulih.


Kalau Bu Vivi sudah sembuh, mungkin aku sudah boleh tinggal di rumahku sendiri kali ya, oleh Mas Alex. Lagian Bu Vivi juga sudah bisa makan sendiri, sudah bisa jalan sendiri, nggak perlu di jagain lagi.


Sudah satu bulan lebih Dara tinggal di rumah Alex. Namun, Dara juga tidak akan mungkin tinggal di rumah Alex terus.


Dara kasihan sama ke dua adiknya karena mereka tidak ada yang mengurus. Dara tidak mau membiarkan adiknya terlantar.


Jika di suruh memilih, Dara lebih memilih kerja menjadi office girl yang bisa pulang pergi atau menjadi cuci gosok lagi. Setidaknya dia bisa bertemu ke dua adiknya setiap hari.


"Dara, kamu bisa masak nggak Dara?" tanya Bu Vivi di sela-sela mengusap sebutir kentang.


Dara tersenyum.


"Bisa sih. Kalau untuk sendiri dan ke dua adik aku. Tapi kalau rasa, pasti akan jauh beda dari masakan almarhumah ibu aku."


"Oh. Ibu kamu masakannya enak?"


"Iya enak banget. Tapi nggak menurun ke anak-anaknya. Karena masakan aku biasa aja rasanya."


Bu Vivi menatap Dara lekat.


"Ya udah. Bantuin ibu terus di dapur. Lihatin cara ibu masak. Biar kamu bisa masak enak."


"Iya Bu."


"Seorang istri itu selain cantik, juga harus bisa masak dan bisa memanjakan lidah suami. Biar suami nggak berpaling ke wanita lain."


Dara hanya tersenyum saat mendengar ucapan Bu Vivi.


"Pokoknya seorang istri itu harus bisa melayani suami dengan baik. Harus bisa selalu memanjakan suami dan membuat suami selalu nyaman di sisinya. Buatlah suami lebih betah di rumah dari pada di luar."


Dara hanya manggut-manggut. Mengiyakan saja apa yang sejak tadi Bu Vivi ucapkan.


Setelah berkata seperti itu, Bu Vivi diam. Tiba-tiba saja, Bu Vivi memegangi kepalanya. Dan tubuhnya hampir saja terhuyung ke belakang. Untunglah dengan sigap Dara segera menopang berat tubuh Bu Vivi.

__ADS_1


"Bu, ibu kenapa?" tanya Dara khawatir.


"Ibu nggak apa-apa Dara. Ibu cuma pusing aja. Tadi ibu seperti melihat ada bayangan sesuatu..."


"Bayangan apa Bu? Apa ibu mengingat sesuatu?"


Bu Vivi menggeleng.


"Nggak Dara. Ibu nggak apa-apa. Ayo kita lanjutkan saja masaknya."


Setelah masakan matang, Bu Vivi mengambil rantang. Dia kemudian memasukkan masakannya ke dalam rantang-rantang itu.


"Ini mau buat Mas Alex semua Bu makanannya?" tanya Dara.


"Ya nggaklah Dara. Ibu mau lebihkan untuk yang ada di sini. Kalau lebih juga kan bisa di taruh di kulkas."


"Iya Bu."


"Tapi Dara mau naik apa nganterin makanannya Bu?" Tanya Dara.


"Ya sama Doni. Kamu lupa ya kalau Doni sekarang kan sudah menjadi supir kita."


"Iya Bu. Nanti aku bilang dulu sama Bang Doni. Siapa tahu dia nggak lagi sibuk."


Dara melangkah pergi keluar untuk mencari Doni. Dia tersenyum saat melihat Doni sedang bersama Pak Tino.


"Antar kemana Dara?"


"Ke kantornya Mas Alex."


"Mau ngapain?"


"Mau ngantar bekal makan siang."


"Emang si Bos pesan makan siang?"


"Nggak. Tapi tadi Bu Vivi masak banyak. Katanya makanan itu mau untuk bekal makan siangnya Mas Alex. Dan aku di suruh untuk mengantar makanan itu ke kantornya Mas Alex."


"Ya udah ayo."


"Tunggu ya Bang. Aku mau ambil rantang nya dulu."


"Iya Dara."


Dara kemudian masuk ke dalam untuk mengambil makanan itu.


Beberapa saat kemudian, Dara mendekat ke arah Doni yang sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Ayo masuk Dara."


"Iya Mas."


Dara kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu Dara dan Doni meluncur pergi meninggalkan rumah.


****


Alex sejak tadi masih sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba saja ketukan pintu dari luar ruangannya terdengar.


Tok tok tok...


"Masuk...!"


Seorang wanita cantik dan berbaju minim masuk ke ruangan Alex.


Alex terkejut saat melihat Desi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Desi, kamu mau ngapain ke sini?"


"Lho, kenapa Mas? kamu kok kayak terkejut begitu melihat aku. Sudah lama lho kita nggak ketemu. Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Desi.


Sebenernya Alex memang terganggu dengan kehadiran Desi. Apalagi pekerjaannya saat ini sangat banyak. Alex juga sudah janji akan menjauhi semua pacar-pacarnya itu demi Dara. Tapi untuk memutuskan semua pacar-pacarnya, Alex memang butuh waktu lama dan butuh berbagai macam alasan. Agar mereka mau mengerti dengan alasan yang Alex buat.


Desi mendekat ke arah Alex sembari membawa rantang. Dia kemudian meletakan rantang itu di atas meja kerja Alex.


"Apa itu?" tanya Alex menatap rantang itu.


"Aku bawain bekal makan siang untuk kamu Mas," ucap Desi sembari duduk di depan Alex.


"Kenapa kamu datang nggak bilang-bilang dulu sama aku sih?" tanya Alex menatap Desi tajam.


"Kan buat surprise sayang." Desi tersenyum.


"Tapi aku nggak suka kalau kamu datang ke kantor. Pekerjaan aku lagi banyak banget. Dan aku merasa terganggu banget. Nggak bisa apa kamu, kalau datangnya jangan ke kantor."


"Yah, nggak bisa dong sayang. Kalau aku datang ke rumah kamu, kamu nggak pernah ada di rumah. Setiap hari kan kamu ada di sini. Jadi aku datangnya ke sini. Biar aku bisa langsung ketemu kamu."


Desi bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Alex dan memeluk Alex dari belakang.


"Kamu kenapa jadi dingin begini sayang. Lama kita nggak ketemu, kamu kenapa jadi berubah?" tanya Desi berbisik di dekat telinga Alex.


Alex melepas pelukan Desi.


"Des. Jangan begini bisa nggak sih. Aku lagi kerja nih. Nggak enak, kalau dilihat karyawan aku. Mereka bisa mikir macam-macam tentang kita."


"Sayang, nggak apa-apa lah. Mereka kan tahu kalau kita itu pacaran. Wajar dong kalau kita mesra begini."

__ADS_1


Alex yang merasa risih dengan sikap Desi bangkit dari duduknya. Dia kembali melepaskan tangan Desi yang sejak tadi masih merayap di tubuhnya.


__ADS_2