GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 100


__ADS_3

Decklan termenung di kamarnya. Meratapi nasibnya. Sudah hampir dua minggu ia lewati tanpa gadis itu namun Chaby belum mengabarinya juga. Ia sangat rindu. Ingin rasanya ia terbang ke Seoul sekarang juga untuk bertemu sang pacar tapi beberapa hari lagi dirinya akan segera berangkat ke London. Untuk sementara, ia harus melupakan pernikahan mereka. Mereka tidak mungkin menikah sekarang, situasinya tidak memungkinkan. Decklan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia tidak tahu mau marah pada siapa karena tidak ada yang salah, waktunya saja yang salah.


Sementara cowok itu meratapi dirinya sendirian dikamar, diruang tengah rumahnya ada Pika, Bara dan Andra yang duduk berbincang. Sepanjang waktu Pika tak berhenti-berhenti ngomel-ngomel. Ia ikut kesal karena Chaby yang pergi tiba-tiba tanpa ngasih tahu dan sekarang malah nggak ada kabarnya lagi.


"Kesel tahu nggak, tunggu aja kalo tuh anak pulang. Aku cincang-cincang sampai halus terus bikin daging panggang." katanya asal.


Andra menatap gadis itu ngeri. Sadis juga tuh mulutnya Pika.


"Bar, sekolahin tuh mulutnya." ucapnya menyikut Bara. Bara malah tersenyum tipis.


"Eh, kakak lo gimana? Belom bunuh dirikan?" tanya Andra lagi.


"Hush!" Pika langsung mendelik tajam ke cowok itu membuatnya terkekeh.


"Kak Andra gimana sih, udah tahu kak Decklan lagi frustasi bukannya dihibur malah nanya kayak gitu." tegurnya kesal.


" Yah, habisnya baru di tinggal dua minggu aja tingkahnya kayak udah di tinggal mati gitu." Andra masih tidak habis pikir saja kalau seorang Decklan yang dulu tidak pernah peduli pada satu cewek pun sekarang malah awut-awutan begini karena cewek. Dilihat dari sisi manapun, Chaby itu cewek yang punya banyak kekurangan. Cuma satu kelebihannya, gadis itu bisa membuat Decklan gila kalau menghilang tiba-tiba dari sisi cowok itu. Liat saja sekarang.


"Kak Andra!" sebuah bantal sofa kecil melayang di wajah Andra. Pika memasang wajah geramnya, sedang cowok itu malah terkekeh.


"Iya-iya maaf."


Pika cepat-cepat membuang muka dari cowok itu dan menghadap Bara.


"Kak Bar, kak Bara pernah nanya ke kak Galen nggak nomornya Chaby di Seoul?" tanyanya.


Bara menggeleng.


"Chaby masih make nomor Indo. Kata Galen dia lagi sibuk temenin papanya makanya sibuk terus. Tapi kalo mau ngomong sama dia, kita bisa coba hubungin Danzel." jelas Bara. Mata Pika langsung berbinar-binar.

__ADS_1


"Kak Bara punya nomornya kak Danzel?" tanyanya antusias.


"Gue coba telpon video." balas Bara. Artinya ia memang punya nomornya Danzel.


"Masuk." perkataan Bara membuat Pika dan Andra ikut merapat ke cowok itu. Andra juga ingin melihat gadis yang suka bikin dia kesal itu. Ia sudah kangen karena tidak melihatnya selama dua minggu ini.


"Diangkat."


wajah Danzel yang pertama kali mereka lihat. Pastilah. Kan itu nomornya yang mereka telpon.


"Kak Danzel, Chabynya mana?" seru Pika langsung. Mereka bisa melihat tawa pelan Danzel didalam layar.


Sementara itu dari dalam kamarnya, Decklan melompat dari tempat tidurnya dan cepat-cepat keluar turun tangga ketika mendengar nama Chaby. Cowok itu bahkan langsung merampas ponsel ditangan Bara saat melihat wajah Chaby muncul di layar.


Pika, Andra dan Bara tercengang menoleh ke Decklan yang tiba-tiba muncul dari belakang, merampas ponsel Bara dan sekarang kembali naik ke atas menuju kamarnya.


"Kak Decklan, itu hpnya kak Bara, kita juga mau ngomong sama Chaby kalii.." rutuk Pika kesal.


"Kita bisa ngobrol sama Chaby nanti, sekarang kasih waktu buat Decklan dulu." tambah Bara dengan tatapan lembutnya. Pika mengangguk dan tersenyum ke Bara. Andra yang melihatnya mencibir.


"Giliran sih doi yang ngomong, malah senyum-senyum gitu." ledeknya. Andra tahu mereka belum jadian tapi tetap senang meledek. Lagian ia heran kenapa Bara belum nembak-nembak Pika juga, padahal tuh cewek udah kasih lampu hijau. Keliatan banget. Lihat saja wajah malu-malunya Pika. Andra tersenyum geli.


                                 ***


Decklan terus menatap Chaby di layar ponsel Bara tanpa bicara sepatah katapun. Ingin sekali ia memeluknya sayangnya mereka bukan berada di tempat yang sama.


"Kak Decklan," suara Chaby menyadarkan dirinya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kak Decklan sakit?" mungkin karena penampilan cowok itu yang kusut dan belum mencukur kumisnya berhari-hari hingga terlihat makin tebal, rambutnya acak-acakan dan matanya yang hitam akibat kurang tidur membuat dirinya tampak tidak sehat dimata Chaby. Meski begitu, ketampanannya tidak berkurang menurut Chaby. Hanya penampilannya saja yang berbeda dengan dirinya seperti biasa yang selalu rapi dan bersih.


"Mm." sahut Decklan. Senyum tipis tersungging disudut bibirnya ketika melihat raut cemas Chaby.


"Sakit apa?"


"Kangen." cowok itu mulai meracau tidak jelas. Diseberang sana Chaby malah tertawa. Kekasihnya itu sudah seperti bayi besar saja yang merengek padanya.


"Kak Decklan, maafin aku yah karena perginya nggak bilang-bilang. Malam itu kondisi papa bener-bener kritis jadi aku sama kak Danzel buru-buru berangkat. Dan mengenai pernikahan..," Chaby menggantung ucapannya. Ia belum bisa menjanjikan itu karena sepertinya dirinya akan lama di Seoul. Ia harus menemani papanya berobat. Sebagai anak, ia merasa harus berbakti. Apalagi papanya kelihatan sangat membutuhkan kehadirannya di masa-masa sakitnya sekarang ini. Waktu ini juga bisa ia pakai buat memperbaiki semuanya. Termasuk memaafkan mamanya.


"Ssstt.., nggak usah dilanjutin. Aku ngerti." gumam Decklan tersenyum tipis.


"Kak Decklan kapan ke Inggris?"


"Beberapa hari lagi. Kamu kapan balik?"


"Belum tahu. Kayaknya aku bakal temenin papa disini sampai papa bener-bener sembuh."


Decklan ingin menyampaikan keberatannya, tapi tidak jadi. Lagian dia juga sudah mau ke Inggris. Sama saja kan mereka tetap nggak bakal ketemu. Sabar Decklan, lo bisa ketemu Chaby tiap liburan semester. Cowok itu bergumam dalam hati.


"Ya udah semoga papa kamu cepat sembuh ya. Jangan lupa aktifin nomor kamu biar kita bisa saling VC terus. Kamu tahukan aku nggak bisa kalau lama-lama nggak liat dan ngobrol sama kamu." Chaby tertawa pelan kemudian mengangguk. Decklan masih ingin terus ngobrol, namun seseorang muncul dari belakang sang pacar dan memanggil Chaby dengan sebutan,


"Agassi." Decklan mengerti arti satu kata itu. Matanya lurus melihat ke seorang pria Korea yang mungkin seumuran Danzel yang kini bicara pada Chaby. Tampangnya cukup tampan, tidak kalah dari artis-artis cowok Korea yang kadang dia lihat di tv-tv. Mereka berbicara dalam bahasa Korea dan Decklan tentu saja tidak mengerti. Setelah pria itu selesai bicara dengan kekasihnya ia membungkuk hormat dan berbalik pergi.


"Siapa?" tanya cowok itu saat Chaby menghadap kamera ponselnya lagi.


"Ah, Ju wan oppa. Pengacara papa. Katanya papa manggil aku. Ya udah kak Decklan, nanti kita telponan lagi ya." jelas Chaby lalu melambaikan tangan dan menutup telpon. Decklan berdecak kesal. Siapapun pria tadi, ia sudah membuat cowok itu kesal karena mengganggu pembicaraannya dengan kekasihnya. Padahal ia masih pengen ngobrol. Ya sudahlah, setidaknya kerinduannya pada gadis itu sedikit terobati hari ini.


Ju wan oppa?

__ADS_1


Decklan menggumamkan nama yang di sebut Chaby tadi, ia merasa tidak suka mendengar cara kekasihnya menyebut nama pria itu.


__ADS_2