
Decklan, Chaby dan Arion baru saja keluar dari loket pesawat bandara Seoul. Mereka baru saja tiba di negara itu setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam perjalanan dari Jakarta-Korea. Sekarang mereka sedang berjalan keluar untuk menunggu jemputan, dan saat mereka sudah berjalan keluar Chaby melihat sekeliling dengan bahagia.
"Yeaay Seoul!" teriak Chaby kegirangan dengan suara delapan oktafnya membuat Arion yang berdiri disampingnya menutupi kedua kupingnya dengan tangan.
Sedang Decklan langsung melihat sekelilingnya yang kini memperhatikan mereka karena teriakan Chaby. Pria itu hanya tersenyum berusaha menutupi rasa malunya. Ia melihat Chaby ingin berteriak lagi dan dengan cepat ia langsung membekap mulut Chaby dengan tangannya. Ya ampun, istrinya ini tidak bisa lihat situasi apa?
"Sayang, kamu nggak liat apa semua memperhatikan kita karena ulah kamu." bisik Decklan melihat sekelilingnya.
Chaby langsung melihat sekelilingnya yang masih memperhatikan mereka dan kembali menatap Decklan berusaha membuka bekapan suaminya itu.
"Aku bukain tapi jangan teriak lagi yah." ucap Decklan. Chaby mengangguk. Dibawahnya ada Arion yang terus menempel, seolah tidak mau jauh-jauh darinya. Arion masih asing dengan tempat kelahiran mamanya ini. Decklan lalu membuka bekapannya dari mulut Chaby.
"Nggak asik banget deh. Pengen teriak tapi nggak bisa." Chaby mengerucutkan bibirnya. Decklan terkekeh.
"Lagian, kita tuh masih di area bandara, bukan di hutan atau tempat sepi. Ngira-ngira dong sayang kalau mau teriak gitu." cicit Decklan lalu mengangkat tubuh Arion. Ia memilih menggendong bocah itu karena sudah beberapa kali ia melihat putra mereka menguap. Pasti Arion sudah mengantuk. Arion sudah berat, kalau Chaby yang gendong takutnya akan berdampak pada kehamilannya. Decklan tidak mau mengambil resiko. Pokoknya kali ini ia harus sangat menjaga kondisi istrinya.
__ADS_1
"Ari ngantuk?" tanya Chaby mengusap-usap kepala Arion lembut. Bocah itu hanya mengangguk kemudian membenamkan kepalanya didada Decklan. Tak lama kemudian ia tertidur.
Decklan mencari tempat untuk duduk selagi Chaby menelpon sopir papanya yang katanya mau menjemput mereka.
"Gimana? Jemputannya udah dimana?" tanya Decklan menggeser tubuh sedikit supaya Chaby bisa duduk disebelahnya.
"Aku telpon sopirnya papa, tapi nggak diangkat-angkat juga. Terus aku telpon Ju wan oppa. Katanya papa masih ada meeting, dan Ju wan oppa yang bakalan jemput. Lagi dijalan sekarang" jawab Chaby menjelaskan. Decklan menggangguk-angguk mengerti namun otaknya sibuk berpikir.
Juwan oppa? Sepertinya ia pernah dengar Chaby menyebut nama itu. Kapan yah?
Decklan berdiri dengan hati-hati agar Arion tidak terbangun. Pria itu berjalan mendekati Chaby dan sih Ju wan oppa itu. Mereka sedang berbincang akrab dengan bahasa mereka. Meski begitu, Decklan bisa mengerti cukup banyak. Ia mulai mempelajari bahasa Korea semenjak menikah dengan Chaby meski masih cukup susah ngomongnya. Lebih baik ia bicara bahasa Inggris saja.
"Ju wan oppa, perkenalkan ini suami dan anak aku." seru Chaby ketika Decklan sudah berdiri disampingnya. Ju wan membungkuk hormat. Meski setengah hati, Decklan ikut membungkuk berusaha bersikap sopan. Melihat laki-laki itu, ia sungguh seperti melihat saingannya. Ia tahu dirinya yang terlalu berlebihan tapi apa boleh buat. Ia memang seperti itu. Tidak suka melihat Chaby dekat dengan pria lain.
"Kalian pasti capek. Naiklah ke mobil. Aku akan mengantar kalian." ujar Ju wan ramah. Chaby mengangguk.
__ADS_1
Decklan ingin berbalik mengambil koper mereka namun Ju wan cepat-cepat menahannya.
"Biar aku saja." kata lelaki itu. Apalagi melihat suami Chaby sedang menggendong putranya. Mau tak mau Decklan tersenyum, berterimakasih dengan bahasa Inggris lalu mengikuti Chaby yang sudah lebih dulu menuju mobil.
"Thanks," ucap Decklan. Ju wan balas tersenyum ramah. Tapi itu bukan berarti Decklan sudah membiarkan laki-laki itu dekat-dekat dengan istrinya. Masalah itu beda bro'.
Ju wan mengambil dua koper yang berada di sisi bangku yang diduduki Chaby dan suaminya tadi lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil. Setelah memasukkan koper tersebut, ia mempersilahkan Chaby dan Decklan masuk. Ia juga ikut masuk ke kursi supir. Mobil itu pun berlalu meninggalkan bandara menuju rumah papanya Chaby. Kalau di Seoul mereka memanggil Chaby dengan nama aslinya, "Nam Sarang."
Di tengah perjalanan, mobil yang di kendarai pengacara papanya Chaby itu membelah jalanan Kota Seoul. Chaby membuka jendela mobil dan tersenyum melihat sekeliling jalanan kota itu yang nampak indah di malam hari. Sudah lama sekali ia tidak kembali dan hari ini ia senang sekali bisa melihat kampung halamannya lagi.
Decklan ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya. Ia lalu menarik kepala Chaby ke arah bahunya dan menyandarkan kepala gadis itu dibahunya. Sementara Arion dibiarkan tidur dipahanya. Chaby tersenyum menatap suaminya lalu memeluk pinggang Decklan.
"Gimana, udah bahagia sekarang setelah sampai di sini?" tanya Decklan sambil mengusap-usap rambut Chaby lembut.
"Bahagia banget. Aku nggak sabar ketemu papa, sekalian jalan-jalan berkeliling Kota." ucap Chaby semakin erat memeluk Decklan dengan senyum bahagia. Decklan ikut tersenyum mengusap pipi Chaby dengan lembut. Mereka tidak menyadari Ju wan yang sejak tadi mencuri-curi pandang ke mereka dari spion tengah. Pria itu sesekali tersenyum. Ia senang melihat Chaby bahagia dengan keluarga kecilnya.
__ADS_1