
"Kak Bara!"
pekik Pika sembari berlari cepat kedepan pintu menahan Bara yang terhuyung seperti mau jatuh. Ia bernafas lega karena dirinya sampai sebelum pria itu benar-benar jatuh ke lantai. Ditangannya, Bara masih menggenggam botol minum berisi alkohol. Isinya masih ada kira-kira setengah botol.
"Berapa banyak kak Bara minum? siniin botolnya, kakak udah mabuk." Pika berusaha mengambil botol minuman di tangan Bara tapi pria itu menghempas kuat tangannya.
Bara menatap Pika lama dengan tatapan khas orang mabuk. Mencoba mengenali siapa gadis yang berada didepannya itu.
"Lo siapa?" gumamnya antara sadar tidak sadar.
"Pika."
mendengar nama itu, Bara kembali menatap gadis itu lama lalu tertawa.
"Oh, ternyata mantan pacar." ucapnya tertawa remeh. Pika tiba-tiba merasa sesak di dadanya. Hatinya terasa sakit. Mantan pacar? Jadi ia sudah diputuskan sepihak oleh pria itu? Pika sangat ingin menangis sekarang juga tapi berusaha keras menahannya. Saat ini Bara sedang mabuk. Setidaknya dia harus mengurus lelaki itu dulu.
"Aku tahu kak Bara marah banget sama aku, tapi pleasee.. jangan minum lagi. Kasih botol minumnya ke aku ya." lagi-lagi Bara menghempas kuat tangan Pika ketika gadis itu mau mengambil botol dalam genggamannya. Pria itu bahkan mendorong Pika menjauh.
__ADS_1
"Jangan sentuh gue." nadanya tajam. Cara bicaranya tidak lembut lagi seperti biasanya. Tapi Pika tetap bertahan. Sikap dingin pria itu berawal dari kesalahan yang dia buat, jadi dia harus siap menerima konsekuensinya.
Bara lalu berjalan masuk ke dalam, menundukkan kepalanya, dan duduk ke sofa saat kakinya terasa hilang tenaga sesaat. Pika mendekati pria itu.
"Pergi, gue nggak butuh cewek kayak lo." usir Bara menohok. Walau hatinya amat sakit mendengar kata-kata Bara, Pika mencoba tersenyum.
"Ya udah, kalo kak Bara masih nggak pengen liat aku, aku pergi sekarang. Aku harap kak Bara baik-baik aja " air mata Pika sudah siap-siap tumpah saat ia hendak berbalik keluar. Tapi Bara tiba-tiba menariknya, memeluknya dan membenamkan wajah di perut Pika. Membuat gadis itu tertegun
"Kak Bara," lirih Pika mengelus pelan rambut Bara. Gadis itu terkesiap saat Bara menarik pinggangnya dan membuatnya duduk dipangkuannya. Pika merasa sulit bergerak karena Bara kembali memeluknya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke leher Pika.
Pika lalu merasakan benda yang lembab di ceruk lehernya. Itu adalah sensasi yang sama saat Bara membuat banyak kiss mark dilehernya yang membuat teman-teman kantornya salah mengira. Selama ini teman-temannya dikantor berpikir dirinya sudah tidak perawan lagi. Apalagi mendengar hubungan pacarannya dengan Bara yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Namun, mereka tidak tahu kalau dirinya sebenarnya belum pernah tersentuh sedikitpun oleh laki-laki manapun. Bara sekalipun tidak pernah menyentuhnya, mereka tidak pernah melakukan hal yang lebih selain berciuman mesra.
Pika menatap wajah Bara yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu mabuk. Saat tangan kanannya menyentuh pipi Bara, pria itu memejamkan mata. Menikmati sentuhan itu.
Giliran Bara. Pika bisa merasakan tangan Bara membelai punggungnya hingga menyentuh tengkuknya. Tubuh Pika tiba-tiba menegang. Ia merasa malu ditatap oleh Bara yang mabuk. Setelahnya, Bara menarik tengkuknya hingga bibir mereka saling menyentuh. Dada Pika berdetak kencang saat Bara ******* bibirnya lembut.
"Nggh.." ciuman itu berubah menjadi lebih menuntut. Bara membelai punggungnya dan membuat sekujur tubuh Pika memanas. Ia memejamkan mata dan mencengkeram pundak Bara erat ketika lidah bara menerobos masuk dan bertemu dengan lidahnya. Tubuhnya semakin panas dan secara naluri, tubuhnya menggeliat mencari kenyamanan.
__ADS_1
Pika memiringkan kepalanya memperdalam ciuman itu. Tangannya sudah melingkar di leher Bara sejak tadi. Ciuman itu terputus ketika ia merasakan sesuatu seakan menekan area bawahnya. Itu memang sudah sejak tadi, tapi semakin berasa ketika tubuh keduanya makin rapat. Jantung Pika seketika berdetak tidak karuan.
Ia membiarkan Bara menuntunnya ke tempat tidur dan terlentang diatas ranjang. Bara kembali mencumbu leher jenjang Pika yang sedari tadi ia incar. Tangannya meraih pengait bra untuk melepaskannya. Dan pa*udara Pika pun terpampang nyata di hadapannya. Pipi Pika merona merah karena malu. Ini pertama kalinya bagian itu dilihat oleh laki-laki. Ia mencoba menutupi dengan tangannya namun Bara menahannya.
"Ahh..." ia memekik kaget ketika tangan Bara tiba-tiba menyusup masuk ke dalam celana tidurnya. Pertama kalinya ia merasakan sensasi yang aneh namun tidak bisa dia jelaskan itu. Jari pria itu mulai bermain-main di sana hingga membuat tubuh Pika menggelinjang hebat. Ia merasakan sesuatu akan keluar dan dirinya mengerang kuat saat mendapatkan pelepasan pertamanya.
Nafas Pika terengah-engah. Masih kaget dengan apa yang baru saja ia rasakan. Ia bahkan tidak sadar kapan tubuhnya sudah tak memakai busana lagi. Ia polos dihadapan Bara. Sedang pria itu masih lengkap dengan pakaiannya. Ia pikir Bara akan melanjutkan permainan mereka. Tapi pria itu tiba-tiba berhenti. kesadarannya seolah kembali dan tampak kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Pria itu duduk di tepi ranjang dan membalikkan badannya tak ingin menatap gadis itu. Pika sendiri merasa kebingungan.
"Pakai bajumu. Aku akan mengantarmu pulang sekarang juga."
perkataan Bara membuat Pika kembali merasa sesak. Apa ini? Apa kak Bara muak dengannya? Dia secara suka rela mau memberikan dirinya pada pria itu, tapi... Dirinya malah berakhir seperti perempuan murahan yang sudah tidak diinginkan lagi.
Bara tidak mengatakan sepatahkatapun selama perjalanan mereka. Mabuknya sudah hilang, dan sekarang ia berada dalam kesadaran penuh, namun entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia lebih fokus menyetir dan tak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya selama mobil itu melaju menuju rumah Pika.
"Tidurlah, besok aku akan datang menjemputmu. Kita perlu bicara serius." kalimat itulah yang terakhir kali Pika dengar dari mulut Bara sebelum pria itu benar-benar menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
Bicara serius? Apa? Putus?
Kak Bara akan mengakhiri hubungan mereka secara langsung? Tanpa sadar air mata Pika terjatuh. Ia langsung berlari masuk ke kamar dan meringkuk dibawah tempat tidur dengan semua pikiran negatif yang sudah penuh dalam otaknya.