
"Oh, jadi kalian bertemu pertama kali itu di sini?" ucap Andra mengangguk-angguk. Ia pikir pertemuan pertama Decklan dan Chaby itu di kantin sekolah, ternyata dia salah. Pantas saja dulu Decklan pandangan Decklan tidak pernah lepas dari Chaby. Ternyata mereka berdua punya cerita lain sebelumnya.
"Nggak, aku nggak percaya. Mana mungkin sih wanita lemah lembut dan sopan kayak aku ini bisa naik ke tembok itu. Apa alasannya coba?" seru Chaby menolak kenyataan. Padahal tadi ia bisa mengingatnya samar-samar. Decklan dan Andra menertawai gadis itu. Wanita lemah lembut dan sopan?
"Sayang, terserah kamu mau percaya atau nggak. Yang pasti dulu aku emang beneran nurunin kamu dari atas sana. Kamu sama Pika terlambat datang sekolah dan masuk lewat sana." balas Decklan. Chaby mengerucutkan bibirnya. Menurutnya itu kejadian yang memalukan.
"Gimana kalo kita ganti aja tempat pertemuan pertama kita? Jangan di sini deh. Kan aku maluu.." katanya lagi yang di sambut tawa keras Andra.
"Chaby, Chaby, mana bisa sih sejarah di ganti. Udah gitu aja, malah lucu tahu. Jarang-jarang kan ada pertemuan yang unik kayak gitu." ucapnya.
"Andra bener. Mana bisa kamu ganti-ganti sembarangan. Sejarah nggak bisa di ubah sayang." timpal Decklan mendekat ke istrinya dan melingkarkan tangannya di bahu mungil itu.
"Lan, kita harus balik rumah sakit secepatnya. Aku masih ada operasi sore ini." kata Andra melirik jam tangannya. Decklan mengangguk. Ia melirik Chaby sebentar.
"Kamu mau aku antar pulang atau antar ke tempatnya Sharon?" tanyanya terus menggenggam tangan istrinya.
"Tempatnya kak Sharon aja, kan Ari lagi sama kak Sharon." jawab Chaby. Decklan mengangguk.
__ADS_1
"Tapi nggak ada nginap-nginap lagi. Aku harus nerusin yang tadi di kantor, yang belum selesai kita tuntasin karena sih pengganggu laknat itu." ucapnya memberi peringatan sambil menunjuk Andra. Andra terkekeh. Ia tahu maksud perkataan Decklan.
"Nggak ada. Jatah hari ini nggak ada buat kak Decklan." balas Chaby. Tadi kan pria itu sudah membuatnya kesal, jadi ia harus balas. Decklan melotot tidak setuju. Sudah seminggu ia menahannya. Dan hari ini tidak dapat ijin lagi? Tidak, tidak. Ia tidak bisa.
"Kok gitu?" tanyanya keberatan.
"Kan tadi kak Decklan udah bikin aku kesel di kantin. Pokoknya itu hukuman buat kak Decklan." kata Chaby tertawa menang.
"Oh jadi kamu ngambek. Kamu mau aku bawa kamu ke hotel sekarang juga terus tuntasin semuanya di hotel? Aku nggak main-main loh sayang. Ayo pilih. Mau nanti malem, atau sekarang juga kita check in?." giliran Chaby yang melototkan mata. Astaga, kenapa sih suaminya ini bernafsu sekali padanya. Mereka kan sudah sering melakukannya hampir sebulan ini.
"Udah By, turutin aja perintah suami kamu. Sebelum dia jadi singa gila." Decklan langsung mendelik tajam ke Andra. Chaby sendiri ikut tertawa. Singa gila? Cocok tuh. Tawanya hilang ketika pria itu kembali menatapnya. Kali ini ekspresinya menatap dengan penuh harap. Chaby jadi kasihan.
***
Di rumah Sharon, sudah ada Aska. Janji Aska yang ingin membantu membawa Chaby ke keluarganya tidak jadi karena gadis itu sudah bertemu dengan mereka secara kebetulan. Aska mendengarnya dari Sharon sekitar tiga minggu yang lalu. Itu sebabnya pria itu belum muncul-muncul juga menemui mereka. Pekerjaannya pun sangat padat, membuatnya kesulitan mengatur waktu.
__ADS_1
Mengenai Karrel kakaknya, pria itu belum jadi pulang ke Indonesia. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus pria itu selesaikan di Afrika. Aska juga belum memberitahunya kabar tentang Chaby.
"Jadi, kau kembali tinggal sendiri sekarang?" tanya Aska. Sharon menganggukkan kepala. Aska sudah seperti adiknya sendiri. Kalau saja Aya tidak meninggal, sekarang Aska pasti sudah menjadi adik iparnya. Sharon tersenyum sedih. Ia selalu merasa sedih tiap kali mengingat adik kandungnya itu.
"Kau tidak berpikir untuk mencari pasangan?" pertanyaan itu membuat ingatan Sharon akan ucapan Danzel seminggu yang lalu kembali hinggap dalam kepalanya. Ia lalu membuyarkan pikirannya dan tersenyum menatap Aska.
"Belum ada yang cocok." sahutnya. Aska menyipitkan mata.
"Tapi dari ekspresimu, kau seperti memikirkan seseorang. Apa sudah ada laki-laki yang kau sukai?"
"Tidak, tidak!" Ara menggeleng cepat. Mana mungkin ia menyukai pria kaku itu hanya karena perhatiannya di malam hujan. Oke, Sharon akui walau Danzel sangat kaku dan ekspresinya dingin, pria itu punya sisi perhatian yang gampang peka dengan keadaan. Termasuk Sharon yang waktu itu takut di tinggal sendirian karena hujan keras disertai petir. Sharon tidak memintanya menemani, tapi pria itu sendiri yang berinisiatif tinggal sampai hujan berhenti. Bahkan membuatkan teh untuknya.
Aska terkekeh melihat respon berlebih Sharon. Respon seperti itu malah membuktikan wanita itu sedang memikirkan seseorang.
"Tidak usah malu, kau sudah dewasa. Tidak ada salahnya menyukai seseorang." ucap Aska.
"Tapi aku memang sedang tidak menyukai orang lain. Aku hanya tiba-tiba teringat seorang pria menyebalkan yang belum lama ini kukenal." balas Sharon tidak mengatakan kalau pria yang dibicarakannya itu kebetulan adalah kakak kandungnya Chaby.
__ADS_1
"Beberapa minggu lalu aku tidak sengaja menabrak mobil mahalnya. Dan kau tahu, saat aku bilang ingin ganti rugi, dengan angkuhnya dia menolak. Malah memberi perintah pada satpam yang bekerja padanya untuk menghancurkan mobilnya. Ckckck... aku tahu dia kaya, tapi tidak perlu berlebihan seperti itu bukan?" Sharon melanjutkan dengan antusias. Aska hanya menjadi pendengar setianya. Pria itu sesekali tersenyum melihat perubahan di wajah Sharon tiap kali menyebut lelaki dalam ceritanya. Tampaknya ada sesuatu antara mereka. Dulu Sharon jarang sekali mempermasalahkan masalah sebesar apapun. Berbeda dengan dirinya yang berapi-api berbicara tentang kecelakaan kecil yang dia alami dengan pria yang entah siapa itu.