GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 107


__ADS_3

Decklan mengerang kesal. Dengan terpaksa ia balik lagi ke apartemennya. Karena cuaca buruk, hari ini tidak ada keberangkatan. Jadwal keberangkatan ke Indonesia hanya ada lusa. Decklan harus menunggu dua hari lagi agar bisa terbang ke Indonesia. Ia mengacak-acak rambutnya kesal dan masuk ke apartemennya.


Lucas masih setia duduk di ruang tengah, menikmati kopi sambil berkutat didepan laptopnya. Pria itu termasuk salah satu teman yang sangat serius dalam mengejar studinya. Ia juga tidak banyak keluyuran ke pup atau membawa wanita pulang untuk sekedar melakukan one night stand. Karena itu Decklan nyaman tinggal satu apartemen dengan Lucas. Ia tidak ingin tinggal dengan orang yang hobinya bermain-main dengan perempuan setiap malam. Yah, negara itu kan negara yang terbilang bebas untuk melakukan adegan yang harusnya dilakukan oleh mereka yang sudah menyandang status sebagai suami istri.


Lucas melirik Decklan yang balik lagi dan kini duduk bersandar di sofa.


"Tidak jadi berangkat?" ia bertanya. Decklan memijit-mijit pelipisnya.


"Tidak ada keberangkatan hari ini. Jadwalnya lusa karena cuaca buruk." sahutnya.


Lucas mengangguk-angguk. Sesekali ia menyesap kopinya.


"Jadi kau akan berangkat lusa?"


"Mm."


kali ini Lucas menghentikan kegiatannya didepan laptop dan menatap Decklan lurus. Rasa ingin tahunya kembali bangkit.


"Kau ada masalah? Kenapa tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia dan mengajukan pindah kampus?" sejak tadi pria itu memang sangat penasaran. Decklan menatap Lucas sebentar, mengembuskan nafas pelan lalu mulai menjelaskan.


                                   ***


Jakarta

__ADS_1


Sudah tiga hari Chaby dan Pika berstatus sebagai mahasiswi di kampus Andara. Salah satu kampus besar dan terkenal di Jakarta. Apalagi banyak orang-orang terkenal yang telah menjadi alumni kampus itu.


Chaby menikmati waktunya bersama teman-teman baru di jurusannya, begitupun Pika. Kedua gadis itu jarang bertemu kalau di kampus karena jarak gedung musik sama DCV cukup jauh. Namun sesekali mereka akan makan bersama di kantin.


Meski tidak begitu banyak teman baru yang Chaby dapatkan, namun ia senang. Banyak dari mereka yang sangat berbakat di bidang musik. Sedang Chaby, sampai sekarang pun ia masih heran kenapa ia memilih masuk jurusan itu. Waktu audisi dulu, ia hanya membawakan sebuah lagu sambil berpiano. Ia pernah les privat piano waktu kecil, ketika dirinya berada di Korea. Namun itu hanya pengetahuan dasar saja. Menurutnya skillnya jauh dari rata-rata teman-temannya yang masuk. Lulus tes dan bisa diterima di kampus itu pun sampai sekarang masih membuatnya terheran-heran. Namun ia merasa senang. Ia akan berusaha belajar serius karena jujur ia memang suka bermusik. Tapi kalau bertanya tentang cita-cita, menjadi pemain musik profesional yang diakui orang-orang bukanlah cita-citanya. Cita-cita terbesarnya adalah menjadi istri kak Decklan dan mengurus anak-anak mereka. Menjadi ibu rumah tangga sudah cukup baginya, yang penting suaminya adalah kak Decklan. Hihihi. Chaby terkikik malu memikirkan bagaimana nantinya kalau ia dan kak Decklan sudah menikah.


"Chaby, lo cewek di aula waktu itu kan? Yang bersuara lantang bilang 'aku perempuan paling cantik di dunia'." tanya Priska salah satu teman baru Chaby. Ia merasa Chaby mirip sekali dengan gadis yang mencuri perhatian orang-orang beberapa waktu lalu. Meski waktu itu cahaya lampunya remang-remang, tapi Priska bisa melihat jelas wajah gadis itu sekilas karena letak dia duduk cukup dekat dengan Chaby waktu itu.


Chaby menengok kanan kiri. Ketika tidak didapatinya orang lain di sekitar situ, ia lalu mengangguk dan tersenyum malu ke Priska. Ia menjelaskan kenapa dia bisa sampai ngomong begitu. Semuanya karena Pika yang mancing-mancing duluan. Priska tertawa mendengar cerita Chaby. Ternyata begitu kejadiannya.


Di tempat lain, Pika memicingkan matanya saat melihat seseorang yang kayaknya ia kenal itu berjalan lurus dengan badan tegaknya memasuki kampus itu. Banyak pasang mata langsung berbisik-bisik ketika pria itu berjalan melewati mereka. Kedatangannya tiba-tiba membuatnya menjadi perhatian banyak mahasiswi. Bahkan ada yang mengiranya artis.


Pika mengucek-ucek matanya memastikan apa yang dia lihat. Walau sudah setahun tidak ketemu, ia tahu jelas siapa pria yang berjalan didepan sana. Tidak mungkin ia lupa seperti apa rupa seorang Decklan, kakak kandungnya sendiri.


Chaby!


Pika tiba-tiba teringat sahabatnya itu dan cepat-cepat berbalik, memutar arah berlari ke arah jurusan musik. Teman-temannya menatap aneh tingkahnya itu, namun memutuskan tidak peduli. Mereka kembali fokus ke makhluk Tuhan paling indah yang berjalan tegak didepan sana.


Untung Pika tahu jalan mana yang lebih cepat menuju gedung jurusan musik. Jadi ia lebih dulu sampai dari sang kakak. Matanya mencari-cari Chaby. Pandangannya lalu berhenti ke dua cewek yang tengah berbincang-bincang didepan sana, ia berjalan buru-buru kesana.


"Chaby!" Chaby dan Priska yang sejak tadi asyik berbincang menoleh menatap Pika.


Pika berhenti didepan mereka lalu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Alis Chaby terangkat.

__ADS_1


"Kenapa Pik? Kok lari-lari gitu?" tanyanya heran.


"K..kak.. k.." tangan Pika menunjuk ke belakang namun Chaby sama sekali tidak mengerti maksudnya.


"Kenapa sih?" tanyanya makin bingung. Pika masih mengatur nafasnya. Setelah nafasnya kembali bergerak beraturan, ia kembali bicara.


"Kak Decklan lagi jalan kesini." katanya. Mata Chaby membulat senang.


"Kak Decklan udah balik?" serunya gembira. Tapi, kok nggak bilang-bilang. Apa itu alasannya kak Decklan nggak nelpon dia selama dua hari ini? Karena mau kasih dia kejutan?


"Lo nggak boleh seneng dulu. Kak Decklan datang karena gue ngirim video lo yang lagi minta nomor cowok lain."


"HAAH?" Chaby melotot menatap Pika.  Sementara Pika hanya tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. Priska yang berdiri disebelah Chaby tidak mengerti pembicaraan mereka namun tetap mendengarkan.


"Maaf By, gue sebenarnya cuman pengen kak Decklan cemburu. Nggak tahunya dia malah beneran terbang kesini. Lo tahu kan kalo kak Decklan cemburu kelakuannya gimana," Pika menyengir tanpa dosa Chaby. Rasanya Chaby mau melempar sahabatnya itu jauh-jauh dari bumi ini.


"Pikaaa..kan aku udah pernah bilang kak Decklan ngancam bakal hukum aku kalo sampai macam-macam sama cowok lain, gimana sih." kesal Chaby.


"Makanya sekarang gue nemuin lo. Biar bisa sembunyi du.."


ucapan Pika terhenti. Seseorang yang tengah mereka bicarakan kini muncul didepan sana, jaraknya berdiri dari mereka mungkin enam meter. Chaby melihatnya juga. Kedua gadis itu saling menatap gelagapan. Chaby mundur perlahan, mau mengambil ancang-ancang kabur sedang Pika hanya diam di tempatnya. Priska? gadis itu malah terhanyut dengan ketampanan cowok yang kini berdiri tak jauh dari mereka itu.


"Pika, kamu harus jelasin kek kak Decklan semuanya, aku kabur duluu, Hwaaa..!" seru Chaby langsung berlari kencang saking takutnya akan kena hukum sang pacar.

__ADS_1


"CHABY!"


__ADS_2