
Sharon tak berhenti-berhenti memaki pria yang mulai menjauh dari hadapannya dan masuk ke dalam gedung besar itu. Sombong sekali pria itu. Tapi ya sudahlah. Sharon tidak mau terlalu memikirkannya lagi.
"Nona, anda tidak apa-apakan? Perkataan laki-laki tadi tidak usah di masukan ke dalam hati, bos kami memang seperti itu. Suasana hatinya akhir-akhir ini buruk karena belum menemukan adiknya." ujar sih satpam. Sharon menatap ke samping.
"Bos?" tanyanya refleks. Pantas saja songong. Ternyata seorang bos. Memang sih kalau dibanding dengan dirinya, perbedaan mereka sangat jauh. Dia hanyalah seorang bos dari toko bunga kecil, masih merintis. Syukur-syukur kalau banyak yang pesanan yang masuk, kalau tidak ia tidak tahu bagaimana harus menggaji para karyawannya yang tidak seberapa itu. Sedang pria tadi, Sharon tidak bisa membayangkan berapa banyak harta pria tadi. Gedung didepannya ini saja besar sekali. Kalau dia seorang bos, walaupun bukan pemilik utama perusahaan, gajinya tetap besar sekali.
"Motornya mau sekalian kami antar ke bengkel?" tanya salah satu dari kedua satpam itu lagi. Sharon cepat-cepat menggeleng.
"Tidak usah pak, biar saya saja. " tolaknya halus. Ia merasa tidak enak.
Sharon lalu mengangkat motor miliknya ke samping, memarkirnya sebentar di sana kemudian memeriksa buket-buket bunga yang dipesan orang itu.
Wanita itu menghembuskan nafas berat. Rusak sudah semuanya. Buket bunga itu sudah tidak layak di antar lagi. Terpaksa ia harus menelpon pekerjanya untuk mengantar yang baru. Biar rugi tidak apa-apa, ia tidak mau dong nama baik toko bunganya jelek karena memberi barang rusak pada pelanggan. Moodnya sudah rusak karena kejadian tadi, mana lututnya lecet lagi. Tapi ia harus segera menelpon pekerjanya. Lupakan luka kecilnya dulu.
Sharon menelpon Tuti salah satu dari pekerjanya tapi Chaby yang angkat. Ternyata gadis itu sudah berada di rumah. Kata Chaby Tuti sedang melayani pelanggan lain jadi dia yang angkat telpon. Karena Sharon butuh cepat dan hanya Chaby yang free, dia minta tolong ke Chaby mengantar beberapa buket bunga yang baru ke tempatnya berada.
Sharon memutuskan menunggu Chaby di pos satpam. Satpam yang tadi, yang pada dasarnya baik hati itu dengan senang hati memberi ijin Sharon menunggu di situ. Mereka berbincang-bincang cukup lama sampai akhirnya Sharon melihat Chaby turun dari taksi dengan buket bunga di tangannya.
Sharon pamit ke satpam dan langsung berlari kecil menghampiri Chaby, mengambil beberapa buket bunga di tangan gadis itu dan membantu membawanya.
"Kak Sharon nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Chaby memeriksa kondisi Sharon. Sharon sudah cerita di telpon tadi kalau dia mengalami kecelakaan kecil.
__ADS_1
Sharon menggeleng sambil tersenyum. Ia ingin bertanya banyak pada Chaby tentang pertemuan gadis itu dengan keluarganya tapi ditahan, nanti saja. Sekarang kerja dulu.
"Jadi kita mau antar bunga-bunga ini kemana?" tanya Chaby lagi.
"Ke dalam." Sharon menunjuk gedung besar didepannya. Chaby manggut-manggut saja mengikuti langkah Sharon. Mereka menyerahkan buket itu di meja resepsionis. Entah siapa yang memesan, tapi yang pasti kantor itu adalah alamat pesanannya. Ada nama orang juga di buket. Sepertinya ada yang mau melamar di kantor atau apalah, Sharon tidak peduli. Bukan urusannya juga.
Chaby mengamati kantor yang mereka masuki itu. Selama enam tahun ini ia tidak pernah masuk ke gedung ini, hanya pernah melewatinya saja. Tapi entah kenapa ia merasa tempat ini agak familiar.
"Mama, tante Shalon!" teriakan yang sangat familiar itu membuat Chaby dan Sharon sama-sama menoleh ke arah datangnya suara.
"Arion?" gumam Chaby berpandangan Sharon merasa keheranan. Kok Arion ada di sini? KanĀ bocah itu semalam bersama kakaknya. Ketika menatap ke ujung sana lagi, Chaby langsung menangkap sosok pria yang berjalan dibelakang Arion.
"Perfect!" gumam gadis itu menggeleng-geleng menatap dengan wajah terpesona pada kakaknya sendiri. Kebalikan seratus delapan puluh derajat dengan Sharon.
Sharon langsung mengenali pria itu. Dia adalah pria yang sombong dan galak tadi. Moodnya jadi buruk lagi mengingat perlakuan kasar pria itu padanya tadi. Tapi, kenapa pria itu bersama Arion? Apalagi pria itu langsung mengacak-acak pelan rambut Chaby dan tersenyum lebar pada gadis itu. Berbeda sekali dengan cara pria itu memperlakukannya tadi.
Mereka kenal? batinnya.
Tanpa sengaja pandangan Sharon dan Danzel bertemu. Ekspresi pria itu kembali datar. Sharon mendengus pelan, pria yang kaku. Danzel sendiri langsung mengenali wanita yang berdiri di sebelah adiknya, bagaimana ia bisa lupa coba kalau mereka barusan bermasalah di luar. Dan, Arion memanggil wanita itu apa? Sharon? Meski penasaran, Danzel pura-pura biasa saja dan menunjukkan ekspresi datarnya pada wanita itu.
Sharon tersenyum dan menyambut Arion yang menempel padanya. Ia juga sudah kangen bocah itu dari kemarin.
__ADS_1
"Kak Danzel kok di sini? Kakak kerja di sini?" tanya Chaby. Tidak kaku lagi dengan sebutan kakak. Danzel menatapnya dan tersenyum lagi.
"Mm, dulu kamu juga sering ke sini." jawab Danzel lembut. Sharon tak berhenti-berhentinya merasa heran. Cepat sekali ekspresi pria itu berubah. Kalau melihat Chaby senyumnya lebar dan terlihat menawan, Sharon tak memungkirinya. Tapi kalau melihatnya, pria itu jadi datar lagi. Sharon jadi penasaran apa hubungan Chaby dan pria didepan mereka ini. Atau jangan-jangan pria ini suami Chaby?
"Mama, paman Danzel itu bos di sini. Ali dengel semua manggil paman bos." Chaby melirik putranya sebentar dan menatap Danzel lagi.
"Kalau kak Danzel bos, berarti aku adik bos dong?" serunya dengan mata berbinar-binar. Danzel tertawa pelan lalu mengacak rambut Chaby lagi. Padahal dulu Chaby tidak senang kakaknya jadi bos karena terlalu sibuk katanya. Mereka sampai lupa kalau ini tempat umum. Beberapa karyawan yang melewati tempat itu memperhatikan mereka.
"Adik?" tanpa sadar perkataan itu keluar dari mulut Sharon. Ia masih bingung sejak tadi.
"Oh iya aku lupa! Kenalin ini kak Sharon, yang nyelamatin aku dan merawat aku sama Arion sampai sekarang. Kak Sharon, ini kak Danzel. Kakak kandung aku."
Sharon dan Danzel sama-sama kaget. Tapi Danzel tetap bersikap biasa. Ia tidak mau terlihat canggung didepan wanita bernama Sharon itu. Danzel lalu mengulurkan tangannya ke depan Sharon.
"Danzel, aku sudah mendengar banyak tentangmu semalam. Terimakasih sudah menjaga adikku beberapa tahun ini." kata Danzel terdengar kaku. Tidak ia sangka wanita yang menabrak mobilnya tadi adalah wanita yang menolong adiknya. Sharon menyambut uluran tangan pria itu walau merasa tidak begitu puas. Setidaknya pria itu tahu berterimakasih.
Danzel berdeham.
"Ayo bicara di ruangan kakak. Di sini terlalu ramai." katanya lagi menatap Chaby.
Chaby mengangguk dan meraih tangan Arion mengikuti langkah Danzel. Sharon sendiri mau tidak mau ikut saja, meski merasa tidak enak.
__ADS_1