GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 20


__ADS_3

Decklan terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Setelah bertahun-tahun ia mengalami insomnia setiap malam akibat stress berat, beberapa malam ini ia sudah bisa tidur nyenyak lagi. Yap! Itu karena istrinya. Senyumnya kembali terukir lebar ketika mengingat kejadian semalam. Pria itu melirik kesisi kanannya, menatap ke istrinya yang bermain dengannya semalam itu masih terlelap. Ia beringsut mendekat dan memeluk tubuh Chaby dari belakang.


Decklan sangat puas dengan kegiatan semalam. Chaby sangat luar biasa. Tidak bercinta selama enam tahun ini membuat istrinya itu terasa seperti perawan lagi. Memang hanya Chaby yang mampu membuat gairahnya bangkit dan kejantanannya berdiri. Di ciuminya leher Chaby lembut. Ia masih ingin mengulang kegiatan semalam, tapi ia tidak sampai hati membangunkan istrinya. Tapi ia masih sangat ingin bermain lagi. Apalagi keduanya masih sama-sama polos. Semalam mereka memang tidur tanpa sehelai benangpun.


Sebenarnya Chaby sudah bersiap ingin memakai baju tidurnya sehabis mandi tadi malam, tapi Decklan melarangnya. Kata pria itu ia ingin tidur dengan memeluk tubuh telanjang Chaby. Akhirnya, meski agak berat Chaby mengikuti permintaannya.


Diliriknya jam weker di atas nakas samping tempat tidur mereka lalu kemudian tersenyum nakal. Masih jam lima subuh. Setidaknya dia masih bisa bermain satu ronde lagi sebelum bersiap kerja.


Decklan lebih merapatkan tubuhnya dan memeluk Chaby, mencium tengkuknya dan memberikan tanda-tanda kepemilikannya di dada dan leher istrinya, menyebabkan lenguhan terdengar dari bibir wanita yang dia cintai itu.


"Mmph.." Chaby membuka matanya dan melihat Decklan yang sudah berada diatasnya.


"Kak Decklan...berhenti," ia bergerak gelisah karena sentuhan suaminya. Astaga, bagian intinya masih ngilu karena semalam dan sekarang pria itu masih mau melakukannya lagi? Chaby berusaha mendorong suaminya tapi Decklan menahan tangannya dan menatapnya lekat.


"Satu ronde aja." tangan Decklan lalu bergerak ke bawah kaki Chaby.


Chaby memejamkan matanya saat suaminya mulai bermain dibagian bawah tubuhnya. Jari-jarinya begitu lihai mengusap dan mengelus kulitnya. Membuat nafas Chaby memburu. Tubuhnya terasa panas.


Chaby terbelalak karena suaminya mengubah posisi dan mengarahkan wajahnya dibagian bawah sana.


"Kak Decklan! Ahh..."

__ADS_1


Chaby tak kuat lagi. Ia menjambak kuat rambut Decklan yang terus bermain pada inti tubuhnya. Nafasnya makin memburu. Decklan berhenti sejenak dan mendongak menatap Chaby. Gairahnya kian meledak-ledak karena melihat ekspresi sang istri yang begitu menikmati permainannya.


"Masih bisakan?" Chaby tidak mengerti maksud suaminya. Tapi tiba-tiba ia merasakan suatu benda keras menyentuh pahanya. Bahkan kakinya juga sudah terbuka lebar.


Saat itu juga Decklan memasukkan miliknya ke dalam tubuh istrinya, membuat Chaby mengejang kuat, apalagi saat Decklan mulai bergerak. Kenikmatan yang ia rasakan semalam kembali memenuhi pikirannya. Dan... apa ini? Sebuah ingatan lain tiba-tiba terngiang dipikirannya.


Di kamar ini, di waktu yang sama di pagi hari dan kegiatan yang sama dengan laki-laki yang sama. Ingatan yang samar-samar itu perlahan mulai jelas. Wajah pria dalam ingatannya itu mulai terlihat jelas. Dan pria dalam ingatannya itu sama dengan pria yang kini menindihnya.


"Ahh... Ka..kak Decklan," suara ******* dan panggilan itu juga. Ia ingat pernah mengatakan itu sebelumnya.


Decklan terus bergerak makin liar didalamnya. Kepala Chaby terasa berat namun terus menikmati permainan suaminya. Akhirnya keduanya berhasil mencapai puncak kenikmatan hampir bersamaan. Perlahan Decklan menarik tubuh Chaby dan memeluknya.


"Kalau setelah ini kamu hamil lagi, aku berharap kita punya anak kembar." bisik Decklan membuat Chaby tersipu malu. Nafasnya masih terengah-engah.


"Ya udah, kalau gitu kamu mandi duluan sana. Nanti terlambat anterin Arion." ucap Decklan mendorong istrinya turun dari ranjang.


Suami istri itu keluar kamar bersama ketika mereka selesai bersiap. Keduanya nampak sangat serasi. Mereka langsung ke meja makan buat Sarapan. Sudah ada Pika, Gatan dan Arion di sana.


"Mama, dasi Ali!" seru Arion berlari ke Chaby dan menyodorkan sebuah dasi ke mamanya. Arion sudah lengkap dengan seragam TKnya, hanya dasi saja belum dipakai. Diumur lima tahun itu, Arion sudah bisa mandi dan berganti baju sendiri. Masalah kerapian, Chaby yang selalu merapikan penampilannya. Atau kalau ada yang Arion belum bisa seperti pakai dasi dan mengikat tali sepatu, Chaby yang akan melakukannya.


Mengenai dasi sendiri, Arion tidak pernah mau dipakaikan oleh orang lain selain mamanya. Sekalipun itu Sharon, salah satu orang yang paling dekat dengan bocah itu juga. Untuk beberapa hal, Arion hanya mau itu dilakukan oleh mamanya. Seperti mengambil rapor sekolahnya, disampingnya kalau dia sedang sakit, dan lain-lain.

__ADS_1


"Udah. Pergi sarapan sekarang biar gak telat." ucap Chaby setelah menyelesaikan kegiatannya memasang dasi Arion. Arion menurut dan berbalik duduk di meja makan. Ketika Chaby mendongak ke atas, ia melihat Decklan juga menyodorkan sesuatu yang berbentuk sama dengan yang di sodorkan Arion tadi. Dasi lagi, tapi dasinya orang dewasa. Chaby menatap suaminya itu bingung.


"Pasangin punyaku juga." ucap Decklan, membuat Chaby melongo.


"Kan kak Decklan udah besar, pasangin sendiri aja. Ribet banget sih." katanya. Decklan langsung memasang raut wajah merajuk. Gatan, Pika dan tante Lily tertawa melihat pasangan suami istri itu.


"Udah By, pasangin aja dasinya. Liat tuh muka kak Decklan kasian banget." ledek Pika tertawa. Chaby menatap suaminya itu yang balas tersenyum lebar padanya, berdecak pelan kemudian mengambil dasi dari tangan pria itu.


"Bungkuk banyak," perintahnya. Karena Decklan jauh lebih tinggi darinya, pria itu memang harusnya membungkuk lebih rendah biar dia gampang pasangin dasinya. Decklan menurut. Ia terus menatap wajah cantik istrinya yang dekat sekali dengan wajahnya. Chaby tetap manis kalau lagi serius begini.


"Udah." ucap Chaby. Mereka lalu duduk bersama di meja makan.


"Ma, hari ini aku bakal pulang agak malam." kata Pika di sela-sela mengunyah rotinya.


"Lagi banyak kerjaan di kantor?" tanya tante Lily menatap anak perempuannya.


"Hari ini ada perayaan ulang tahun kantor ma." jelas Pika.


"Oh. Ya udah, Bara jemput nggak?"


"Belum tahu sih. Tapi nanti aku minta jemput." sahut Pika lagi.

__ADS_1


"Kalau Bara nggak bisa, biar aku aja yang jemput kakak." ujar Gatan. Pika mengangguk. Setelah itu mereka kembali fokus sarapan sampai akhirnya semua pergi masing-masing. Decklan anterin Chaby dan Arion sebelum ke rumah sakit, Pika dan Gatan pergi sendiri-sendiri.


__ADS_2