GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 21


__ADS_3

Semua dokter dan staff lainnya di rumah sakit masih terheran-heran dengan perubahan dokter Decklan yang sangat drastis. Mereka semua sudah tahu kalau anak dari kepala rumah sakit itu telah menemukan istrinya. Bahkan mereka sudah punya seorang putra. Kabar tentang Chaby yang sudah ditemukan itu sempat menjadi berita heboh beberapa hari terakhir. Apalagi sikap Decklan yang berubah drastis. Lihat saja pagi ini. Wajah dokter tampan itu biasanya sangat dingin dan gampang marah-marah. Namun hari ini ia sesekali membalas sapaan perawat dan dokter lainnya dengan senyuman ramah. Meski setelah itu wajahnya kembali datar lagi, namun tetap saja itu adalah perubahan besar dari seorang dokter Decklan jika dibandingkan dengan dulu. Sikapnya dulu sangat tidak ada sisi kemanusiaannya.


"Adem banget liat wajahnya dokter Decklan yang senyum gitu. Beruntung banget jadi istrinya." ujar seorang perawat.


"Bener, di tunggu sampai enam tahun gitu. Setia bangeet. Mau cari dimana coba laki-laki jaman sekarang yang kayak begitu. Udah tampan, pintar mapan, setia, sempurna banget deh pokoknya.". timpal perawat yang lain. Raut wajah mereka tidak berpindah dari Decklan yang berjalan menuju ruangannya. Tatapan kekaguman itu terlihat jelas di mata mereka, hingga membuat seseorang yang tengah berdiri didekat situ makin merasa kesal.


"Apa pekerjaan kalian di sini cuma bersantai-santai dan bergosip begitu, hah?" suara itu membuat kedua perawat yang tengah bergosip tadi tertunduk takut-takut. Dokter Luna kini berdiri didepan mereka dengan wajah menahan marah.


Suasana dokter Luna akhir-akhir ini memang tidak begitu baik. Semenjak istri Decklan ketemu, dibarengi dengan begitu banyak gosip yang beredar tentang manisnya kisah cinta anak kepala rumah sakit itu dengan istrinya. Tentu saja sebagai salah satu wanita yang menyukai Decklan diam-diam, Luna tidak merasa begitu senang. Padahal menurutnya istrinya Decklan itu biasa-biasa saja. Malah cenderung bodoh. Ia sempat mengamatinya beberapa saat. Jika dibandingkan dengan dirinya, tentunya sangat jauh. Apa kelebihannya coba sampai seorang Decklan yang tampak sempurna itu tergila-gila padanya? Jika saja dirinya yang lebih dulu bertemu dengan pria itu, mereka pasti akan menjadi pasangan yang sempurna.


"Kerjakan pekerjaan kalian dengan baik. Jangan hanya bergosip." kata dokter Luna lagi tegas. Lalu berjalan pergi.


"Baik dok." sahut salah satu dari kedua perawat sedikit membungkuk.


"Dokter Luna kok akhir-akhir ini nyebelin yah? Suka banget marah-marah." ucap temannya itu.

__ADS_1


"Lagi patah hati kali. Kan dia jadi nggak bisa gantiin posisi jadi istrinya dokter Decklan, karena istri dokter Decklan sudah ditemukan." sambung temannya menyimpulkan. Mereka menatap kepergian dokter Luna dengan raut wajah kasihan. Bukan rahasia lagi kalau dokter itu menyukai Decklan. Sayangnya dokter yang dia sukai tidak pernah meliriknya. Salahnya sendiri suka sama laki-laki yang sudah menikah.


Diruangannya, Andra terus menatapi Decklan. Suasana hatinya benar-benar berbeda sangat jauh dari sebelumnya. Andra turut senang melihatnya.


"Kan tidak punya keinginan untuk mengobati Chaby? Aku rasa kita perlu memeriksakan dirinya." tanyanya kemudian. Decklan mengalihkan pandangannya ke pria itu. Ia memang beberapa kali berpikir untuk membawa istrinya ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Tapi ia akan mencari waktu yang tepat, ia akan membawa Chaby dalam beberapa hari ini.


"Aku sedang mencari waktu." ujarnya.


Andra mengangguk-angguk mengerti.


"Kami berdua sangat menikmati malam yang indah semalam." gumam Decklan. Mengingat bagaimana dirinya menyentuh istri tercintanya itu, wajahnya tidak bisa jika tidak tersenyum. Semalam adalah malam yang luar biasa. Apalagi Chaby juga menikmati permainannya. Berhubungan intim memang sangat dinikmati banyak pasangan, apalagi bagi mereka yang saling mencintai.


"Jangan bilang kalian... Secepat itu?" Andra menegakkan tubuh dengan mata melotot tidak percaya.


"Kau memaksanya?" ia bertanya lagi. Karena dengan kondisi Chaby yang tidak ingat apa-apa, tidak mungkin mereka akan melakukannya secepat itu.

__ADS_1


"Awalnya. Tapi dia menikmatinya juga. Kami saling mencintai. Walau dia masih tidak ingat, dia pasti bisa merasakan kalau dirinya mencintaiku. Itu sebabnya dia tidak menolak. Kau tahu, istriku jauh lebih nikmat dari waktu kita melakukannya dulu." ucap Decklan panjang lebar, tak lupa untuk pamer juga. Hingga Andra hanya menggeleng-geleng kepala.


"Jangan bicarakan itu pada pria lajang sepertiku."


Decklan terkekeh. Benar juga. Sampai sekarang sahabatnya itu masih setia dengan kehidupan lajangnya. Andra memang pernah beberapa berpacaran, tapi semuanya tidak bertahan lama. Dan sekarang ia sudah melajang hampir setahun ini.


"Kau tidak terpikir untuk mencari pendamping hidup?"


Andra tertawa. Pendamping hidup? Pacar saja ia tidak punya, bagaimana menemukan pendamping buat hidupnya? Lagipula ia belum terpikir untuk menikah. Ia masih senang sendiri. Kalau dia butuh wanita untuk sekedar memuaskan hasratnya, ia bisa mencarinya di luar sana.


"Aku belum ada keinginan menikah." katanya. Decklan mengangkat bahu. Terserah pria itu saja, itukan hidupnya.


"Oh ya, kita harus cari waktu kumpul-kumpul lagi seperti dulu. Mungkin itu bisa membantu Chaby mengingat masa lalu." kata Andra memberi ide. Decklan mengangguk. Ia  memang sudah berpikir seperti itu. Ia juga rindu masa-masa itu.


"Aku akan mengaturnya," katanya.

__ADS_1


__ADS_2