GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 56


__ADS_3

Chaby tidak mau menatap Decklan. Ia terus menatap Galen meminta pertolongan dengan matanya. Gadis itu merasa kesal karena kak Galen malah mengijinkannya bersama Decklan.


Pandangan Chaby beralih ke Karrel yang sejak tadi masih disitu dengan wajah bingung. Lebih baik minta tolong dia saja.


"Karrel," Karrel menatapnya. Chaby tidak sadar ke empat pria yang lain sedang melihat interaksi mereka dengan raut wajah tidak suka.


"Tadi kamu bilang mau bawa aku ikut kamu kan? Aku mau sekarang." kata Chaby cepat.


Karrel merutuk dalam hati sambil menatap gadis itu. Siapa yang bilang begitu? Ia kan hanya menawarkan karena gadis itu tidak mau pulang. Daripada sendirian di jalanan, di rumahnya jauh lebih aman. Ia juga bukan tipe pria hidung belang yang mau mengambil keuntungan dari para gadis. Niatnya hanya mau menolong saja, apalagi gadis itu temannya Pika.


Dari perkataan gadis itu seolah-olah dialah yang memaksa. Lihat saja ke empat pria itu kini menatapnya dengan tatapan mematikan itu. Astaga, salah apa dia sama nih cewek.


"Ekhem.., Gue hanya nawarin karena dia bilang nggak tahu mau pulang kemana. Dia cewek dan nggak aman sendirian di jalanan menurut gue." Karrel menjelaskan.


"Chaby, kamu kenal dia?" tanya Galen.


Chaby mengangguk.


"Karrel temannya Pika." jawab Chaby.


Decklan menatap pria itu tajam. Ia belum pernah melihat Pika dan cowok itu. Kalau teman les nya, pria itu terlalu tua. Yang pasti ia tidak senang Chaby dekat dengan pria itu.


Decklan menyadarkan dirinya. Sekarang bukan waktunya untuk cemburu-cemburu dulu. Ia harus memberi perhitungan pada pacarnya ini. Enak saja main kabur-kabur.


"Ikut aku." ucap Decklan menarik tangan Chaby lalu meninggalkan tempat itu.


Galen dan yang lain hanya menatap kepergian sepasang kekasih itu.


Andra bernafas lega. Ia bersyukur mereka bisa menemukan Chaby hari ini juga, kalau tidak ia tidak bisa membayangkan nasibnya di tangan Decklan.


"Lo beneran temannya Pika?" Bara menatap Karrel tajam. Ia ingin memastikan lagi.


Karrel memutar bola matanya malas.


"Astaga, kalian bisa lapor polisi kalo nggak percaya." ia jadi merasa kesal sendiri.


                                 ***

__ADS_1


                


Chaby terus merasa tidak tenang ketika Decklan membawanya dari situ. Mereka naik taksi. Decklan tidak yakin ia bisa mengemudi dengan keadaannya sekarang ini.


Semenjak tadi tangannya terus menggenggam kuat tangan gadis itu, tak berniat melepaskannya. Ia sama sekali tidak bersuara selama perjalanan pulang.


Decklan membawa Chaby ke rumahnya. Rumah itu sekarang tak sedang ada penghuninya karena semua keluarganya sedang di rumah sakit. Menurutnya rumahnya adalah tempat terbaik untuk berbicara masalah pribadi mereka.


Ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah, Decklan menyalahkan lampu dan menuntun Chaby ke sofa di ruang duduk. Masih tidak bicara.


Awalnya ia ingin memarahi Chaby. Tapi, melihat mata gadis itu yang sembab dan hanya menunduk takut-takut membuat Decklan berbalik, menarik nafas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. Sialan, ia sangat kacau. Amarah dan perasaan tak berdaya bercampur aduk dalam dirinya.


Kalau saja ia bisa memutar kembali waktu, ia tidak akan mengatur mode diam pada ponselnya agar bisa langsung mengangkat telpon Pika saat itu. Mungkin dengan begitu ia akan lebih cepat datang dan semua ini tidak akan terjadi. Pika tidak akan di tabrak mobil dan Danzel juga tidak akan...


Decklan berbalik dan langsung memeluk tubuh Chaby erat-erat kemudian terisak kuat. Melepaskan semua rasa frustasi, amarah, dan kesedihan yang di pendamnya selama ini. Di depan gadis itu ia baru bisa menunjukkan ketidakberdayaan yang ia tahan lebih dari seminggu ini.


Chaby tertegun. Kak Decklan menangis? ia pikir pria itu akan berteriak memarahinya. Tapi, menangis? Kak Decklan memeluknya sambil menangis. Ia tidak menyangka seorang cowok seperti kak Decklan juga bisa menangis.


Chaby tak tahu mau bicara apa. Tangannya perlahan terangkat dan mengusap-usap pelan punggung Decklan. Pria itu terus terisak. Chaby bisa merasakan leher dan belakangnya yang sudah basah karena air mata Decklan.


"Kenapa kabur?" tanyanya.


Gadis itu tidak tahu apa ia hampir gila mencarinya sepanjang hari ini. Ia pikir ia tidak akan melihatnya lagi dan itu membuatnya merasa begitu frustasi.


Chaby menunduk.


"Maaf." satu kata keluar dari mulutnya.


Decklan terus menatapnya.


"Kenapa? Karena merasa semua yang terjadi adalah salah kamu?"


Gadis itu mengangguk. Decklan menggertakan gigi.


"Jadi karena itu kamu kabur? Kamu pikir semua masalah akan selesai dengan kabur hah?" Decklan tidak bisa menahan rasa kesalnya. Ia marah bukan karena benci, ia terlalu khawatir.


"Harusnya kamu datang dan nanya ke aku, kalo ngerasa bersalah minta maaf dan temenin Pika, dia butuh kamu juga. Bukan kabur seperti ini." ada rasa lelah dalam nada bicara Decklan. Kali ini Chaby memberanikan diri menatap cowok itu

__ADS_1


"Tapi Pika kayak gitu karena Cha.."


"Sstt..." Decklan kembali meraih gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan.


"Nggak usah ngomongin itu lagi. Aku sudah lelah seharian ini karena cariin kamu." gumam Decklan. Ia memeluk Chaby dari belakang dengan posisi duduk. Tangannya mengelus-elus lengan gadis itu penuh sayang.


Chaby membalikan wajahnya menatap cowok itu dari dekat. Ia ingin bertanya


"Kak Decklan nggak benci sama aku?" cowok itu berdecak pelan.


"Sekarang aku nanya." ia menatap Chaby dengan wajah serius.


"Yang dorong Pika ke jalan siapa?"


"Mama aku." jawab Chaby menundukkan kepala. Ia selalu sedih mengingat kejadian itu.


"Terus kenapa aku harus nyalahin kamu?"


Chaby menggeleng. Decklan merasa gemas sendiri lalu menangkup pipi gadis itu.


"Aku nggak bakal pernah bisa benci sama kamu. Rasa cinta aku udah terlalu besar. Kalo kamu emang ngerasa bersalah, temenin aku, kita sama-sama jagain Pika. Mm?" gumamnya lalu mencium pipi Chaby.


"Beneran kak Decklan nggak marah?" Chaby terus menatap ke dalam mata Decklan.


"Bukannya kamu bilang kalau marah-marah nanti cepet tua? Aku nggak pengen cepat tua, nanti nggak cocok lagi sama yang masih bocah ini." goda Decklan mencubit gemas kedua pipi gadis itu. Ia ingin melupakan masalah yang mereka hadapi sejenak dan menghibur Chaby nanti. Gadis itu jauh lebih menderita darinya. Ia tahu itu karena. Tapi sekarang ia ingin mengesampingkan semua itu dulu dan melepaskan segala rasa lelahnya. Mereka akan sama-sama berjuang nanti.


Sesaat kemudian ia kaget karena Chaby tiba-tiba menangis sangat keras.


"Hei.. kamu kenapa? Chaby,"


"Sayang..."


Decklan gelagapan. Gadis itu terus menangis. Ia sudah mencoba membujuknya tapi tidak mempan.


"Ka..kalau tahu k..kak Decklan nggak benci sama a..aku, aku nggak bakalan k..kabur. ka..kalo gini ceritanya kan si..sia-sia aja a..aku kaburnya." tutur Chaby sesenggukan.


"Jadi kalau aku benci kamu, kamu kaburnya jadi nggak sia-sia begitu?" suara Decklan terdengar tajam. Chaby berhenti menangis sebentar, tak lama kemudian ia kembali menangis keras sambil memeluk cowok itu. Decklan hanya tertawa geli dan membiarkan gadis itu menangis semaunya. Ia lalu menarik nafas lega dan mencium puncak kepala gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2