
Seperti janjinya pada Galen, Decklan mengantar pulang gadis itu setelah puas ngobrol dan saling melepas rindu dengan Chaby. Hampir jam empat subuh mereka baru sampai di apartemen.
Sebenarnya Chaby ingin langsung ikut Decklan ke rumah sakit buat temuin Pika tapi Decklan menyuruhnya buat istirahat dulu.
Cowok itu akan menjemputnya nanti sore. Dia ingin gadisnya itu tidak terlalu kelelahan supaya tidak jatuh sakit.
"Kak Decklan nggak masuk dulu?" tawar Chaby pada Decklan yang hanya berdiri didepan pintu masuk sejak tadi.
Cowok itu menggeleng.
"Nanti aja. Ayo cepetan masuk sana." ucapnya sambil mendorong pelan tubuh Chaby ke dalam.
"Babay kak Decklan." ucap Chaby kemudian. Decklan membalasnya dengan senyum tipis lalu menutup pintu dan berbalik pergi.
Chaby masuk ke kamarnya dan berbaring cepat di tempat tidur. Meski ia masih sering sedih karena kepergian kak Danzel, namun ia merasa lega setelah tahu kak Decklan tidak membencinya. Ia berjanji mulai sekarang akan terus menemani Pika dan berdoa supaya sahabatnya itu cepat sadar.
***
Pukul sepuluh pagi, Chaby memaksa Galen untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ia ingin cepat-cepat melihat Pika. Selama ini ia hanya bisa melihat gadis itu diam-diam. Karena sekarang sudah tahu Decklan sama sekali tidak membencinya, ia tidak perlu lagi diam-diam mengunjungi gadis itu.
Memang Decklan bilang akan menjemputnya sore, tapi itu terlalu lama buatnya. Ia ingin cepat-cepat menemui Pika.
Galen buru-buru menutup telponnya ketika Chaby membuka pintu kamarnya. Hampir saja, batin pria itu. Ia melirik Chaby yang sudah duduk di kasurnya. Gadis itu jauh lebih bersemangat dari kemarin. Ia merasa lega. Sepertinya Decklan memang bisa diandalkan disamping Chaby.
"Kakak anterin aku ke rumah sakit yah." pinta Chaby menatap Galen.
"Ya udah, tunggu kakak siap-siap sebentar yah."
Chaby menganggukkan kepala lalu keluar kamar itu.
Hampir sejam mereka baru sampai di rumah sakit karena jalanan yang cukup padat hari ini.
Chaby berlari cepat menuju kamar rawat Pika dan langsung masuk begitu saja. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap ke semua orang yang kini sedang menatapnya juga.
__ADS_1
Benar. Saking semangatnya ingin melihat Pika ia jadi lupa ternyata masih ada keluarga gadis itu yang lain selain kak Decklan.
Chaby menatap Tante Lily dan pria tua yang ia tidak tahu namanya siapa itu yang pernah dilihatnya beberapa hari lalu. Decklan bangkit dari kursi dan berjalan mendekati gadis itu.
"Kenapa datang sekarang? Kan aku udah bilang bakal jemput kamu sebentar sore." tanya cowok itu pelan.
Chaby tidak menghiraukan ucapan Decklan. Ia terus menatap tante Lily dan melangkah mendekati wanita tua itu. Ia langsung bersimpuh didepan tante Lily membuat Decklan dan papanya kaget.
"Tante maafin Chaby yah. Kalau bukan karena Chaby Pika nggak bakal kecelakaan kayak gini. Chaby..." tutur gadis itu menahan tangis.
Dibelakang sana Decklan berdecak kesal. Lagi-lagi gadis itu menyalahkan dirinya sendiri. Ia ingin melangkah membuat Chaby berdiri namun mamanya melakukannya lebih dulu.
Tante Lily tersenyum menatap Chaby dan mengelus pipinya lembut. Wanita itu sudah mendengar cerita dari Andra tentang kejadian hari itu. Ia malah merasa iba karena gadis itu harus kehilangan kakak kandungnya dan penyebabnya adalah mama kandung mereka sendiri.
"Udah nggak usah minta maaf. Pika kayak gini bukan salah kamu kok. Kita berdoa aja supaya Pika cepet bangun Yah." ucap tante Lily lembut.
"Tapi..."
"Chaby." tekan Decklan dari belakang.
Sayang sekali gadis itu harus mengalami kejadian menyedihkan seperti ini. Pria tua itu mendekati Chaby. Gayanya yang tampak menyeramkan itu membuat Chaby mundur selangkah merasa takut.
"Pa." Decklan membuka suara. Kali ini ia melihat papanya memegangi bahu gadis yang dicintainya itu. Ya ampun, mau apa pria tua itu.
"Papa." suara Decklan meninggi dengan tekanan seperti memberi peringatan.
"Mulai sekarang, panggil om papa dan tante Lily mama. Paham? Kau pacar Decklan bukan? Sekarang kita adalah keluarga."
Decklan sudah siap-siap melawan papanya tapi perkataan pria tua itu membuatnya terhenti dan merasa lega.
Chaby terheran-heran menatap pria tua itu. Ini pertama kalinya ia merasa sangat diterima oleh orang lain. Tanpa sadar ia terisak. Tante Lily yang berdiri disebelahnya memeluknya.
"Kenapa menangis, bukannya kamu harus senang?" Chaby lalu tertawa disela-sela tangisnya. Ia merasa sangat senang. Kepalanya terangkat menatap Decklan diujung sana. Cowok itu tersenyum padanya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit ia melepaskan diri dari pelukan tante Lily dan melangkah ke dekat tempat tidur Pika, duduk di sebelah cewek itu dan mengelus lembut pipinya.
Pika adalah satu-satunya cewek yang tulus menganggapnya sahabat juga membuatnya bertemu orang-orang hebat. Ia iri pada keluarga gadis itu. Mereka semua orang baik. Ia bersyukur bisa bertemu Pika. Meski ia sama sekali tidak suka awal pertemuan mereka yang membuatnya harus tersangkut di atas tembok sekolah.
Kalau di pikir-pikir sebenarnya pertemuan pertama yang ia benci itu malah membawanya bertemu kak Decklan juga.
"Pik, kamu jangan lama-lama tidurnya yah." gumam Chaby pelan.
Decklan telah berdiri di sebelahnya, mengelus-elus punggung gadis itu namun pandangannya lurus ke adiknya.
"Kamu diantar sama siapa?" tanya Decklan kemudian. Dia tidak melihat sosok Bara atau Galen bersama gadis itu.
"Kak Galen." sahut Chaby. Matanya menatap keluar pintu baru sadar kalau Galen belum muncul-muncul. Padahal tadi kakaknya itu bilang mau liat Pika juga.
"Kak Galen kemana yah." gadis itu terus melihat ke pintu masuk namun yang muncul malah dua orang perawat perempuan.
Decklan melirik jam tangannya. Ternyata sudah jam Pika di kasih cairan infus. Cowok itu menarik Chaby membuatnya berdiri disampingnya untuk memberi perawat itu ruang.
Dua perawat itu tampak segan karena ada papa Decklan sang kepala rumah sakit yang terus mengamati pekerjaan mereka.
"Kak Decklan liat, kok tangannya gemetaran gitu." bisik Chaby ditelinga Decklan tapi suara kuatnya membuat sih perawat yang gugup itu tambah bergetar.
Decklan menutup mulut Chaby dengan tangannya. Ia tahu mereka gugup karena ada papanya, tapi perkataan Chaby malah menambah rasa gugup mereka. Dasar anak ini.
Setelah perawat itu selesai melakukan tugas mereka barulah Decklan menurunkan tangannya dari mulut Chaby. Ia tertawa pelan melihat cewek itu yang mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, tak lupa memukul-mukul lengan cowok itu karena kesal.
Chaby sudah bersiap mau mengomeli Decklan namun terhenti karena kedatangan Galen.
"Kak Galen! Kakak kemana aja, kok lama masuknya?" seru Chaby menggandeng lengan pria itu.
Galen tersenyum mengacak-acak rambut gadis itu.
"Kakak lagi telponan sama orang tadi." jawabnya.
__ADS_1