GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 38


__ADS_3

Chaby belum bangun-bangun juga. Padahal sudah daritadi Arion putranya menggoyang-goyangkan badan sang mama terus-menerus tapi mamanya sama seperti mayat yang tidak bangun-bangun juga.


Akhirnya Arion merasa lelah sendiri. Bocah itu memilih mengeluarkan semua mainannya dan bermain di ruang duduk sambil menunggu papanya datang. Tadi Decklan menelpon ponsel Chaby namun karena mamanya masih asyik-asyikan tidur, Arion yang mengangkat. Papanya itu bilang akan datang agak siang karena mau mengurus sesuatu.


Setelah itu telpon tertutup dan Arion melanjutkan bermain sendirian.


Di dalam kamar, Chaby menggeliat dalam tidurnya. Dengan perlahan kelopak matanya terbuka dan menampilkan mata hitam yang indah dan bersinar. Chaby mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah gorden kamarnya lalu melirik jam beker yang ada diatas nakas samping ranjangnya. Sudah jam sembilan ternyata. Astaga. Kenapa dia bisa tertidur seperti orang tidak tahu diri sih. Ia harus segera mengecek Arion. Bocah itu sudah sarapan atau belum. Ia ingat kakaknya bilang akan pergi surfing dengan kak Sharon pagi-pagi. Jangan-jangan sudah pergi lagi.


Chaby menyibakkan selimutnya lalu duduk dan meregangkan tubuhnya. Setelah selesai ia bangun dan langsung melipat selimut. Dulu ia tidak ingat tidak pernah melakukan itu. Sekarang dirinya malah sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Apalagi dia sudah menikah dan punya anak. Dirinya bahkan bisa memasak sekarang. Sebagian besar dia belajar dari Sharon. Bahkan dari kak Sharon dirinya bisa belajar bagaimana caranya hidup sederhana.


Chaby menghentikan kegiatannya sebentar. Pikirannya kembali ke masa lampau waktu dirinya belum hilang ingatan. Ia tersenyum ketika mengingat-ingat masa lalunya. Sekarang semua ingatannya sudah kembali dan tentu saja dia sangat senang. Tiba-tiba gadis itu langsung terpikir kak Decklan. Ia sungguh ingin bertemu suaminya itu dan memeluk pria itu erat-erat, ingin tahu apa saja yang sudah dilewati pria itu semenjak dirinya menghilang. Juga Pika. Astaga, Pika adalah sahabat terbaiknya, tapi ia malah bersikap cuek sekali pada gadis itu selama ini. Kak Andra, kak Bara, kak Galen... Juga kedua mertuanya dan Gatan. Mereka adalah orang-orang yang begitu penting dalam hidupnya tapi dia malah melupakan mereka.


"Mama udah bangun?" suara Arion membuyarkan lamunan Chaby. Gadis itu menoleh pada bocah yang sebentar lagi berulangtahun yang keenam tahun itu.


"Ari udah sarapan belom? Paman Danzel mana?" tanya Chaby beruntun lalu membungkuk melingkarkan tangannya ke bahu Arion. Arion menggeleng.

__ADS_1


"Paman Danzel udah pergi." jawab bocah itu.


"Terus paman Danzel nggak siapin sarapan buat Ari?" tanya Chaby lagi. Tidak mungkin. Kakaknya selalu memperhatikan orang-orang yang dia sayang, walau pria itu lagi sibuk sekalipun. Dulu saja dirinya tidak pernah dibiarkan kelaparan.


"Ada di meja makan, tapi Ari pengen makan sanwich buatan mama. Daritadi Ari bangunin, tapi mama nggak bangun-bangun juga. Makanya Ari nungguin mama." sahut Ari polos. Chaby tertawa kecil. Ia jadi merasa bersalah.


"Ya udah, mama bikinin sarapan buat Ari yah. Sekarang Ari nunggu sebentar sambil main." gumam Chaby mencubit pelan pipi putra tersayangnya.


Tak butuh lama Chaby sudah berada di dapur. Ia membuka-buka lemari dan melihat bahan apa saja yang ada disana. Arion pengen makan sanwich,


Di sela-sela menunggu, terdengar langkah seseorang didepan pintu. Jarak dapur dari pintu depan memang tidak jauh, jadi bisa kedengaran siapapun yang mencoba untuk masuk. Karena ia ingat kakaknya sedang pergi berselancar dengan kak Sharon dan tidak mungkin kembali secepat ini, refleks Chaby pikir itu adalah pencuri. Ia tidak sempat memikirkan yang lain.


Tanpa pikir panjang diambilnya panci lalu berjalan mengendap-endap ke dekat pintu dan bersembunyi dibalik dinding. Arion yang melihat gelagat aneh sang mama menghentikan kegiatan bermainnya sebentar. Bocah itu tidak bertanya, hanya menatap lurus ke mamanya. Penasaran apa yang akan dilakukan mamanya itu.


Tak lama kemudian seseorang yang Arion kenal muncul dari balik pintu. Namun, belum sempat Arion memanggil, mamanya sudah berteriak dan memukuli kuat-kuat kepala papanya dengan panci yang sejak tadi dipegangnya. Jelaslah Decklan kaget mendapat serangan tiba-tiba itu. Dari istrinya sendiri lagi. Dan apa istrinya bilang?

__ADS_1


"Maling!" Chaby terus-terus memukuli Decklan sambil menutup matanya. Panci ditangannya sudah berhasil di rampas oleh pria itu tapi Chaby tidak berhenti sampai di situ, ia kembali memukuli Decklan dengan tangannya.


"Chaby stop!" sergah Decklan merasa geram karena kesakitan. Kepalanya dan wajahnya apalagi. Bagian itu yang kena serangan paling banyak. Pria itu kini memegangi kedua tangan Chaby kuat-kuat.


Chaby sendiri langsung mengenali suara itu. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati suaminya tengah berdiri sambil memegangi kuat-kuat tangannya dengan wajah kesal.


"T..ternyata bukan maling. Aku pikir tada maling, hehe.." gumam Chaby menatap suaminya sambil menyengir lebar.


"Berani kirain aku maling hm? Kamu tahu kan ada hukumannya kalau mukul suami?" ancam Decklan. Chaby menelan ludah. Sesaat kemudian ia mulai menghitung dalam hati. Dan dalam hitungan ketiga, gadis itu menghempaskan tangan suaminya kuat-kuat dan lari secepat mungkin.


Decklan langsung mengejarnya. Enak saja kabur. Sudah bikin dia babak belur begini dan kabur begitu saja? Jangan harap.


"Sini kamu!" gertak Decklan mengitari ruang duduk, dapur dan balik-balik tempat itu. Keduanya saling kejar-kejaran seperti anak kecil. Sedang putra mereka Arion hanya menjadi penonton. Setia menonton aksi kekanak-kanakkan orangtuanya.


"Mama, sanwich Ari gimana?" suara Ari menghentikan Decklan dan Chaby. Mereka sama-sama menatap putra mereka.

__ADS_1


__ADS_2