GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 30


__ADS_3

Hari ini sudah semakin malam, namun Danzel tidak bisa tertidur juga. Pikirannya selalu terganggu beberapa malam ini. Berkali-kali ia menghilangkan perasaan aneh yang berkelabat dalam pikirannya tentang wanita itu, namun ia sama sekali tidak berhasil. Malah terus-terusan mengingatnya. Pria itu menggeram kesal dan dan mengusap wajahnya frustasi. Kenapa dengannya? Kenapa dia tidak bisa berhenti melupakan wanita penyelamat adiknya itu. Ini sangat aneh, padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Tapi wanita itu sungguh mampu membuatnya merasa frustasi seperti ini.


Tidak. Danzel menggeleng-geleng kepala. Ia tidak bisa seperti ini. Ia butuh minum. Pria itu lalu berdiri keluar dari kamarnya. Ia ingin pergi ke tempat suatu tempat. Ia ingin ke bar. Jarang sekali ia ke bar, tapi hari ini ia sungguh ingin ke sana. Ia tidak tahan lagi dengan perasaan yang menyiksa ini. Dirinya butuh minum. Tak butuh waktu lama baginya mengendarai mobilnya sampai ke tempat tujuannya. Pria itu lalu masuk setelah memarkir mobil.


Bar yang ia masuki itu cukup ramai dipenuhi oleh laki-laki dan perempuan. Danzel memilih duduk di pojokan dengan tenang dan tatapan mata yang tajam berpakaian jas hitam, celana panjang yang senada dan rambut yang tertata rapi. Pakaiannya terlalu resmi tapi ia tidak sama sekali tidak peduli.


"Kau tunggu di sini sebentar, aku berjanji akan pulang setelah kembali dari toilet."


suara itu mengalihkan perhatian Danzel. Ia menghadap ke samping. Matanya tertuju ke seorang wanita yang tengah berbincang dengan salah satu temannya dan ketika wanita itu berjalan pergi meninggalkan temannya, tatapan Danzel langsung bertemu dengan teman wanita tadi. Mata pria itu melebar kaget juga wanita di ujung sana. Danzel menggeram dalam hati. Apa dia harus berterimakasih atau marah? Ia ke tempat ini untuk menenangkan pikirannya dan melupakan wanita itu, tapi... Mereka malah bertemu. Dan jelas Danzel tidak suka melihat wanita itu ada di tempat seperti ini.


Sharon sendiri yang merasa kaget melihat Danzel langsung menjadi salah tingkah. Ia cepat-cepat menghadap ke bartender didepan sana dan berbicara dengan laki-laki itu.


"Tolong beri aku segelas Mocktail." kata Sharon. Ia tidak suka minuman beralkohol. Apalagi tempat-tempat seperti ini adalah salah satu tempat yang berbahaya kalau sampai ia mabuk. Bisa-bisa saat pulang nanti dirinya sudah tidak perawan lagi. Tadi ia datang ke sini karena teman SMAnya sedang patah hati karena putus cinta dan minta di temani olehnya.

__ADS_1


Di ujung sana, pria itu terus menatap Sharon. Mereka memang berada di meja bar yang sama tapi Danzel duduk paling pojok. Kini ia memilih duduk bersebelahan dengan Sharon. Pria itu mendengus kesal. Ia tahu Sharon sengaja tidak mau melihatnya. Wanita itu berpura-pura. Di pikir dia tidak tahu. Sharon sendiri merasakan jantungnya berdegup kencang ketika Danzel sudah duduk di sebelahnya dan terus menatapnya. Ia bisa melihatnya dari sudut matanya.


"Kenapa ke sini? Kau tahu ini sudah larut malam bukan?" tanya Danzel. Ada nada tidak suka dalam gaya bicaranya. Apa ini? Sharon balas menatap pria itu. Apa Danzel marah? Kenapa? Kan apapun yang dia lakukan itu terserah dia. Kenapa pria malah bertanya seolah mereka punya hubungan yang lebih dari sebatas kenalan biasa.


"Aku menemani temanku." jawab Sharon tidak ketus juga tidak lembut. Ia langsung meneguk Mocktail pesanannya tadi yang sudah berada di atas meja.


"Berdirilah. Aku antar kau pulang." kata Danzel mendominasi. Sharon membulatkan mata menatapnya. Astaga, pria ini pikir dia siapa? Gampang sekali dia memerintah seenaknya.


\*\*\*


Di rumah Decklan, Decklan membaringkan Chaby ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik rok Chaby dan langsung menyentuh pusat inti gadis itu. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Chaby, langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Decklan menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Chaby sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Chaby menyerah kepada gairahnya.


"Ah sayang, kamu sangat indah." Decklan menangkup buah dada Chaby di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu. Lalu bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, ********** penuh gairah, membuat Chaby hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu. Lelaki itu menurunkan rok Chaby dan mulai menyentuhnya, dimanamana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari Decklan menyentuh pusat kewanitaannya dan Chaby merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Decklan memasukinya. Dan Decklan sudah siap, lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana.

__ADS_1


Chaby mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata.


"Kamu suka sayang?" Decklan mulai terengah, menahan pinggul Chaby yang bergairah di bawahnya,


"Aku akan memuaskanmu sebentar lagi."


Decklan menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Chaby dengan kasar. Chaby sendiri sudah sangat siap menerimanya, tetapi Decklan bertekad memperlakukannya dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan sang istri.


Ketika kehangatan Decklan merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Chaby mengerang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, Rasanya luar biasa tepatnya! Selalu seperti ini kalau suaminya itu menidurinya.


Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Chaby terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa ******* yang begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Decklan mengikutinya. Menyerah dalam pelepasan bersamanya.


"Kamu selalu manis diatas ranjang istriku." gumam Decklan yang berhasil membuat pipi Chaby bersemu merah. Padahal mereka sudah sering kali melakukannya. Tapi tetap saja Chaby akan malu kalau mendengar perkataan suaminya yang terus memujinya tiap kali mereka berhubungan intim.

__ADS_1


__ADS_2