
Chaby merasakan gelenyar panas di seluruh tubuhnya, dan dia menggeliat, ada gairah menjalar dari bibirnya yang terasa nikmat dilum*t seseorang. Dengan lemah Chaby mengerjap setengah tidur dan membuka mata. Lelaki itu, yang sedang membungkuk di atas tubuhnya dan ******* bibirnya, adalah suaminya.
Decklan yang sedang sibuk bermain-main di bibir Chaby, kemudian berhenti dan menatap mata Chaby, menyadari bahwa istrinya sudah terbangun. Dengan lembut Decklan menelusurkan tangannya di pipi Chaby, lalu bibirnya mengikuti gerakan jemarinya.
Chaby memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan suaminya. Perempuan itu setengah tersenyum, lalu balas menyentuh pipi Decklan dengan lembut. DecklanĀ mengambil jari Chaby dan meletakkannya di pipinya,
"Sentuh aku dimanapun kamu suka, jangan berhenti..." bisik Decklan penuh gairah. Hasratnya untuk bersetubuh dengan istrinya di ruangan ini sudah bangkit. Lagipula ini kamar yang berbeda dari kamar pasien lainnya. Tidak ada yang bisa sembarangan datang ke kamar ini malam-malam kalau tidak dipanggil oleh Decklan. Jadi tidak ada yang akan mengganggu mereka saat mereka melakukan kegiatan itu. Tapi Decklan akan bersabar sebentar, menunggu Chaby melakukan sesuatu yang makin menambah hasrat bercintanya.
Sementara Chaby sendiri tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Ia menghentikan gerakan tangannya di wajah Decklan lalu mengerjap-ngerjapkan mata melirik ke sekeliling ruangan. Ini bukan kamar mereka. Di mana ini?
"Kak Decklan,"
"Mm?"
"Ini dimana?" tanyanya.
"Rumah sakit. Kamu pusing tadi, jadi aku bawa ke sini. Gimana sekarang, udah baikan? Udah bisa ngelanjutin kegiatan kita lagi kan?" Decklan mengedipkan mata nakalnya pada sang istri. Tapi Chaby malah memukul lengan pria itu.
__ADS_1
"Auww.. kok dipukul sih sayang." gerutu Decklan.
"Ini bukan rumah kita kak Decklan, gimana kalo ada yang liat, terus kita di videoin, terus viral? Mau taruh dimana muka aku coba?"
"Nggak peduli. Lagian kita suami istri."
Decklan sama sekali tidak peduli. Ia malah menggulingkan tubuhnya kesamping Chaby, ranjang rumah sakit yang lembut itu membuat tubuh mereka bersentuhan rapat, tangan Decklan menggenggam jemari Chaby, lalu menyentuhkan jemarinya ke kejantan*nnya yang sudah sangat siap, tentu saja Chaby kaget. Ia ingin menolak tapi Decklan tidak mengijinkannya.
"Sentuh aku sayang." bisiknya parau. Wajah Chaby memerah merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan lembut Decklan membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya,
Jemari Chaby bereksplorasi di tubuh Decklan, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. akhirnya, ketika bibir Chaby dengan penuh ingin mencecap bagian itu, Decklan mengangkat kepala Chaby dengan tatapan tajam berkabut yang penuh gair*h.
"Giliran aku." geramnya serak. Chaby dibaringkan dengan Decklan berbaring miring menghadapnya. Lelaki itu mengecup dahinya, pelipisnya, ujung hidungnya, pipinya, bibirnya dengan kecupan-kecupan kecil yang lembut, Lalu bibir itu berhenti di bibir Chaby, mencicipinya sedikit-sedikit di tiap ujungnya.
Meniupkan kehangatan yang basah di sana, membuat Chaby membuka bibirnya dengan penuh perasaan mendamba. Decklan ******* bibir Chaby yang membuka itu dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya. Lidah mereka bertautan, panas dan basah.
Bibir Decklan ******* bibir Chaby tanpa ampun, mencecap setiap sisinya, dengan penuh g*irah. Chaby merasakan jemari Decklan mulai membuka satu-persatu pakaian rumah sakit yang dipakainya, kemudian tangan yang panas itu serasa membakar di kulitnya yang polos, menyentuhnya dengan intens di semua sisi, menimbulkan rasa aneh yang sayangnya begitu nikmat, yang membuat Chaby menggeliat. Jemari Decklan menyentuh titik yang paling disukainya, dan mencumbunya dengan keahlian luar biasa hingga paha Chaby terbuka, panas dan basah siap untuknya.
__ADS_1
Decklan sudah berada di atasnya dan menindihnya, Chaby merasakan milik Decklan yang begitu panas menyentuhnya,
"Apakah..." napas Decklan yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Decklan mengecupnya lagi,
"Apakah aku akan menyakiti anak kita kalau melakukan ini?" Chaby menggoyangkan pinggulnya putus asa, gairahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin Decklan ada di dalam dirinya, oh Ya ampun, dia sangat ingin!
"Lakukan dengan lembut." ucap Chaby sedikit jengkel. Padahal tadi pria itu yang mati-matian ingin melakukan itu. Giliran dirinya sudah siap, suaminya itu malah ragu. Tidak, gairahnya sudah diujung. Setidaknya ia harus merasakan satu kali pelepasan.
Akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Decklan menekan dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Chaby. Percintaan mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Chaby mencengkeram punggung Decklan yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya.
Decklan berusaha bergerak selembut mungkin tetapi gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Chaby bersamanya. Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, membuat keduanya menikmati kepuasan yang luar biasa itu.
Ketika Decklan menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Chaby dan berbaring di sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat, Chaby sudah terlalu kelelahan untuk bergerak. Dia merasakan dengan jelas kecupan lembut Decklan di dahinya.
Setelah itu Decklan kembali memakai pakaiannya dan membantu Chaby berpakaian. Lalu ikut tidur disamping istrinya. Tidak mungkinkan mereka berdua tidur telanjang sampai pagi. Dekclan masih tahu diri kalau ini bukan kamar mereka.
Mereka sama sekali tidak menyadari kalau dari balik pintu luar, ada yang sedang mengamati mereka dari balik kaca. Decklan lupa ia tidak menarik gorden pintu tadi. Orang itu rasanya mau meledak saat melihat percintaan panas suami istri itu. Ia mengepalkan tangannya emosi.
__ADS_1