GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 40


__ADS_3

Chaby terkesiap merasakan dua jari yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia melentingkan dirinya sambil menarik kepala Decklan agar melanjutkan kegiatannya itu. Decklan melayani istrinya dengan semangat menggebu-gebu sampai Chaby tersentak-sentak merasakan sentuhan suaminya.


Tangan kanan Chaby terulur kebelakang dan menggenggam tubuh suaminya, mengusap punggungnya naiknya turun seirama dengan gerakan jari Decklan didalam tubuhnya. Mereka berdua bergelut di dalam sabun sampai air tumpah-tumpah keluar dari bathup. Tubuh mereka licin karena air sabun itu.


Decklan mengangkat tubuh istrinya sedikit supaya Chaby bisa berpegangan di pinggiran bathup. Ia memposisikan tubuh istrinya membelakangi dirinya. Dengan pelan ia mengangkat pinggul Chaby ke atas dan menyatukan tubuh mereka. Memompanya perlahan-lahan sampai kecepatannya bergerak di dalam sana makin bertambah cepat.


Chaby memegang erat pinggiran bathup. Dengkulnya menekan sisi lantai bathup. Suaminya berada di tengah-tengah pahanya memberikan tekanan yang berirama. Bunyi air yang berkecipak berbenturan dengan tarian pinggul mereka hingga membuat suasana terdengar erot*s.


Decklan mendekatkan wajahnya ke telinga Chaby. Ia membisikkan kata-kata yang akan dibuktikan pada istrinya itu membuat mereka semakin liar. Tangan kanan Decklan mengelus perut Chaby dari bawah. Tangan kirinya *******-***** dada istrinya itu dengan gerakan lembut tapi juga keras.  Pinggulnya masih mantap bergerak.


Decklan merasa sangat mendamba tubuh istrinya. Kehidupan pernikahannya dengan Chaby terasa sangat menyenangkan. Meski ia pernah kehilangan gadis itu dulu, tapi ia bahagia mereka bisa bersama lagi sekarang.


Dulu, saat belum bertemu dengan Chaby, Decklan pikir dirinya tidak akan pernah menikah. Apalagi menikah di umur yang terbilang muda. Ia tidak pernah menyukai perempuan lain sampai Chaby muncul dihadapannya dengan cara yang unik. Kehadiran Chaby membuatnya berubah total, meski sebagian besar perubahannya hanya dihadapan gadis itu. Hanya dihadapan istrinya.


Chaby menoleh mencari wajah suaminya,


"Ah, kak Decklan..."


"Ya...?"

__ADS_1


Decklan mendekati wajah istrinya, lalu menghi*ap lidah Chaby dengan keras. Chaby menggeram kecil dalam tubuh Decklan. Rasa sentakan suaminya itu tidak tertahankan. Kakinya gemetaran.


"Kak Decklan..." Chaby seperti kehabisan nafas.


"Kenapa manggil..?" suara Decklan terdengar parau.


"Kaki aku gemetar, aku mau menghadap depan saja." pinta Chaby sambil merengek.


Decklan melepaskan diri sebentar dan  membalikan tubuh istrinya. Ia berbaring di bathup dan membawa istrinya duduk di pinggul dan langsung kembali menyatukan tubuh mereka. Chaby mendes*h sambil mengangkangi pinggang suaminya. Ia bergerak di atas tubuh suaminya itu dengan pelan sambil bertopang pada dada Decklan.


"Apa rasanya nikmat sayang?"


"Ya.." jawab Chaby sambil memejamkan mata menikmati rasa suaminya yang terus bergerak di dalam tubuhnya.


Percintaan dahsyat itu terjadi selama sesi mandi sekitar tiga puluh menit. Lebih lama dari janji Decklan pada Arion. Mereka bahkan tidak sadar Danzel yang sudah masuk ke kamar itu dan mendengar suara desah*n keduanya yang begitu hebat dari luar pintu kamar mandi.


Danzel menggeram. Astaga, apa yang dilakukan suami istri itu siang hari begini. Mereka bahkan membiarkan putra mereka bermain sendirian di luar demi memuaskan hasrat keduanya. Danzel jadi menyesal kenapa dirinya pulang lebih cepat. Dasar tidak tahu tempat. Mereka tidak tahu apa ******* mereka didalam sana membuat dirinya jadi ikut merasa kepanasan. Tanpa perlu berlama-lama lagi Danzel memilih keluar dari kamar itu.


Ia mengajak Arion makan di luar. Biar saja Chaby dan Decklan menuntaskan kegiatan mereka berdua.

__ADS_1


                                    ***


Sorenya Chaby mendatangi rumah Sharon. Setelah puas bermain dengan suaminya sampai-sampai mereka tidak sadar Arion telah dibawa pergi oleh Danzel, Decklan tiba-tiba dapat telpon dari rumah sakit. Jadi suaminya itu langsung ke rumah sakit setelah mengantar Chaby ke rumah Sharon. Arion masih main dengan Danzel. Katanya Danzel akan mengantarnya sebentar lagi ke rumah Sharon, karena Chaby ada di sana.


Karena ini sabtu, Sharon tidak kerja. Semua pekerja juga tidak masuk. Kini ia dan Chaby hanya duduk sambil berbincang-bincang di ruang tamu. Ada yang berbeda dari Sharon. Chaby bisa melihatnya. Wajah wanita itu terkadang bersemu merah kalau Chaby menanyakan ia dan kak Danzel ngapain aja di pantai. Sharon sebenarnya malu mau mengaku secepat itu pada Chaby tentang hubungannya dan Danzel. Tapi, ia benar-benar ingin memberitahu kabar gembira ini pada gadis itu. Hubungannya dan Chaby sangat dekat selama beberapa tahun ini. Dan kini ia pacaran dengan kakak gadis itu. Jadi ia tidak ingin menutupinya dari calon adik iparnya itu.


"Chaby," Sharon menghela nafas dan menatap Chaby serius.


"Kalau aku bilang aku sama kakak kamu udah jadian, kamu setuju nggak?" ucap Sharon pelan. Ia ingin tahu tanggapan ibu satu anak itu. Chaby sendiri masih mencerna baik-baik perkataannya.


"Maksud kak Sharon, kak Danzel dan kak Sharon pacaran sekarang?" gadis itu berseru antusias. Sharon mengangguk. Kali ini Chaby langsung memekik gembira.


"Ya ampun, akhirnya kakak aku jatuh cinta sama perempuan!" seru Chaby senang. Sharon mengernyitkan dahi.


"Emangnya selama ini Danzel nggak suka perempuan? Maksud kamu dulu dia suka laki-laki?" ekspresi Sharon langsung berubah. Jangan sampai Chaby bilang kakaknya itu gay dulu. Bahasa Chaby memang membuat otaknya jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Chaby, kamu harus tanggung jawab kalau pacar kakak mengira kakak gay!" suara itu langsung membuat Chaby dan Sharon menoleh ke pintu. Danzel sudah berdiri bersama Arin di sana.


Danzel menatap sang adik dengan jengkel. Dasar Chaby. Dari dulu omongannya tetap saja bikin orang lain bisa salah paham.

__ADS_1


__ADS_2