
"Seseorang? Cewek?" Pika mengulang kata-kata terakhir Bara dan bertanya dengan antusias.
Bara mengangguk.
"Orang yang penting buat kak Bara?" cewek itu jadi penasaran. Ia tidak pernah mendengar Bara dekat dengan cewek lain selain Chaby. Dia sendiri tidak begitu dekat-dekat amat, kalau berdua saja begini ia pun masih merasa canggung. Karena menurutnya kak Bara itu selain dingin, ia juga lebih kaku dari kakaknya. Pokoknya tidak bisa terbaca. Dirinya tidak seperti Chaby yang asal sudah baik sama tuh cewek, semuanya dianggap akrab banget sama dia.
"Mm." sahut Bara lagi.
"Kak Bara lagi suka cewek yah?" tanya Pika langsung. Ia penasaran juga lama-lama. Jangan-jangan memang ada yang Bara suka di jurusannya, teman kampusnya mungkin.
Bara menatap gadis itu.
"Kenapa, kamu nggak suka?" pancingnya.
Pika menggeleng cepat-cepat dengan melambai-lambaikan tangan ke udara.
"Nggak kok, kalo kak Bara suka cewek yah terserah aja, kan nggak ada hubungannya juga sama aku." balasnya enteng. Memangnya siapa dia? Kalau cowok itu mau berhubungan sama perempuan yang dia suka silahkan.
Senyuman di wajah Bara perlahan memudar. Ada rasa kecewa mendengar Pika bersikap tidak peduli pada hubungannya.
"Kak Bara udah suka tuh cewek berapa lama?" Bara kembali menatap Pika. Kalau dihitung dari gadis itu masih SMP sampai sekarang harusnya sih mau jalan empat tahun tahun lebih.
__ADS_1
"Empat tahun." jawab Bara pasti. Pika tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka cowok seperti Bara ini ternyata ada seseorang yang dia suka. Pasti sukanya diam-diam. Kira-kira siapa yah?
"Kak Andra sama kak Decklan tahu nggak?" Bara terkekeh. Dari tadi gadis itu terus bertanya.
"Kamu yang pertama tahu."
"Oopss!" Pika menutup mulutnya dan mengerjap-ngerjap lebay menatap Bara.
"Kok cerita sama aku? Gimana kalo aku keceplosan cerita sama Chaby? Chaby kan anaknya ember, kalo dia juga keceplosan cerita ke kak Decklan sama kak Andra gimana? Belum lagi kalo dia cerita sama kak Danzel dan kak Galen." cewek itu malah membawa-bawa nama nama Chaby, malah dijelek-jelekin lagi.
Bara mengulum senyumnya menahan rasa gemasnya pada gadis itu. Padahal Pika dan Chaby itu sama-sama ember. Ia masih ingat dulu waktu dirinya menemani mereka ke mall beli gaun, selama perjalanan mereka selalu menertawai cewek lain yang dandanannya lebay, dan satu bapak-bapak yang sangat gendut dan botak. Kalau merasa lucu dan tertawa dari jauh sih nggak apa-apa, ini mereka malah menertawai sih bapak-bapak itu dari sampingnya, saat bapak-bapak itu bertanya apa yang lucu, dengan entengnya Pika ngomong,
"Badan dan kepala om nggak cocok sama muka, mending diet deh." setelah meledek begitu mereka berdua kabur dan lari terbirit-birit sambil ketawa-ketawa. Baralah yang merasa sangat malu dan akhirnya mewakili mereka meminta maaf. Untung sih bapak-bapak itu tidak begitu mempermasalahkan karena Chaby dan Pika menurutnya masih anak-anak. Bara hanya menggeleng-geleng takjub mengingat kejadian itu, meski begitu itu adalah satu kenangan lucu yang akan selalu dia ingat. Karena hari itu adalah pertama kalinya Pika duduk bersebelahan dengannya di dalam mobil.
"Hmm, banyak." Alis Bara terangkat. Ia menunggu Pika melanjutkan ucapannya.
"Aku suka kak Galen, kak Danzel juga aku suka, teman aku yang namanya Karrel juga aku suka karena semuanya ganteng dan baik banget. Pokoknya semua yang wajahnya diatas rata-rata dan baik sama aku, aku suka." Pika berbicara dengan semangat. Bara mendengus pelan. Bukan suka yang seperti itu maksudnya.
"Maksud aku," ia menatap Pika serius.
"Seseorang yang bener-bener kamu sayang dan pengen orang itu jadi pacar kamu." lanjutnya. Ia sungguh berharap Pika akan mengatakan tidak ada. Apakah salah dirinya berharap lebih?
__ADS_1
Pika masih diam. Ia berpikir cukup lama sampai Bara benar-benar terdorong ingin mendesak Pika untuk segera menjawab. Karena jawaban gadis itu akan membuatnya lebih serius dengan langkahnya selanjutnya, tentu saja untuk membuat gadis itu makin dekat dengannya.
"Setelah putus dari pacar aku waktu itu," Pika menggantung ucapannya. Ia sungguh benci mengingat mantan pacarnya itu.
"Belum ada cowok lain yang membuat aku tertarik secara serius." ia tidak tahu kenapa bisa memberikan jawaban serius pada Bara, padahal bisa saja dirinya menjawab asal-asalan. Apakah karena pembawaan kak Bara yang sangat serius juga? Kalau di pikir-pikir memang cowok itu memang jarang sekali bercanda. Mungkin hanya ikut tersenyum saat Chaby dan dirinya melakukan sesuatu yang lucu.
"Kamu masih sayang sama mantan kamu?"
Pika menoleh ke Bara dan menampilkan ekspresi jengkelnya.
"Ih ngapain, cowok yang pikirannya cuma dipenuhi sama otak mesum itu nggak pantes dicintai, apalagi sama cewek secantik aku." ketusnya tapi tetap membanggakan dirinya dengan penuh percaya. Ia selalu emosi tiap kali mengungkit mantannya itu. Pika merasa sangat bodoh dulu, kok bisa-bisanya dia mau pacaran sama cowok macam begitu.
Bara lagi-lagi tersenyum. Hatinya menjadi lega setelah mendengar perkataan Pika. Namun, setelah ini ia harus memikirkan cara bagaimana mendekati gadis itu. Cowok itu tiba-tiba menjadi sangat bersemangat. Tanpa pikir panjang ia berdiri dari situ dan mengacak-acak rambut Pika sebentar.
"Cepet masuk, disini makin dingin nanti kamu masuk angin." katanya kembali mengacak-acak rambut Pika kemudian berjalan pergi. Tenda Pika tidak jauh dari situ jadi Bara tidak perlu sampai mengantarnya segala.
Pika masih terbengong-bengong menatap kepergian Bara dari belakang. Ia mencubit tangannya karena mengira jangan-jangan semua kejadian ngobrol berdua sama kak Bara itu hanya mimpi tapi tangannya sakit. Artinya itu sama sekali bukan mimpi.
Mata Pika mengerjap-ngerjap masih belum percaya. Apa tadi benar-benar kak Bara? Padahal cowok itu selalu tenang dan diam dengan wajah kulkasnya. Tapi...
Pika memegang rambutnya dan mengingat kejadian tadi, saat Bara mengacak-acak pelan rambut itu bahkan tersenyum lebar padanya. Gadis itu memegangi pipinya yang terasa panas. Kok ia jadi baper yah?
__ADS_1
Apakah karena pengaruh dirinya sudah lama sekali tidak diperlakukan semanis itu sama cowok?
Bagi Pika tindakan yang dilakukan Bara tadi betul-betul membuatnya merasa aneh, senang, bingung, gugup dan ahh, entah apalagi. Pokoknya ia senang karena orang yang melakukan hal itu padanya adalah kak Bara, cowok yang terkenal tidak pernah tertarik pada cewek. Eh, tapi kak Bara sudah punya cewek yang ia suka diam-diam selama empat tahun ini. Kira-kira siapa yah? Pika mengusap-usap dagunya penasaran.