
Pika mengikuti arah Decklan dan Chaby berlari. Pasangan kekasih yang sama-sama dekat dengannya itu benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala. Kelakuan Chaby seperti anak-anak dan kakaknya ikut-ikutan jadi kayak anak-anak juga. Dan sekarang dirinya merasa dia pun menjadi seperti anak-anak. Ia jadi tidak enak ketika dua sejoli itu menjadi tontonan orang-orang akibat aksi saling kejar-kejaran mereka. Yang lebih tidak di sangka-sangkanya lagi, dirinya malah memergoki keduanya tengah berciuman di kebun belakang kampus, dibalik pohon.
Mata Pika melengak-lengok kanan kiri. Ia bernafas lega karena beberapa orang yang berada dekat situ tampaknya lebih sibuk dengan kegiatan mereka, jadi mereka tentu saja tidak memperhatikan ada pasangan yang lagi keasyikan melakukan adegan hot itu.
Tanpa sadar Pika malah menonton aksi sang kakak dan sahabatnya.
"Wow."
gumam Pika tanpa sadar ketika melihat ciuman kak Decklan ke Chaby makin meresahkan. Pika cepat-cepat menutup mulutnya rapat-rapat saat kakaknya menghentikan ciumannya dan berbalik menatapnya. Raut wajah cowok itu berubah kesal. Pika mengganggu saja, padahal dia lagi asyik-asyiknya.
"H..hai kak Decklan." sapanya dengan cengiran lebar. Decklan menatap adiknya itu cukup lama dan balik melirik Chaby. Ia belum memberikan perhitungan kepada keduanya tentang video yang di kirim Pika. Decklan lalu meraih pergelangan tangan Chaby tanpa melihat gadis itu. Pandangannya terus fokus ke Pika.
"Ikut gue." perintahnya dengan suara tegas. Cowok itu lalu mulai berjalan pergi dari situ sambil menarik Chaby pelan. Mata Pika berkedip-kedip.
"Aku juga?" tanyanya saat Decklan dan Chaby melewatinya. Pika tahu pasti kakaknya akan membahas video yang dikirimnya kemarin. Aduh, dia malah jadi takut. Dia harus beralasan supaya tidak ikut dengan mereka. Gadis itu mulai memutar otaknya berpikir keras. Ia berniat untuk tidak mengikuti mereka dan kabur diam-diam, namun sebelum sempat berhasil berputar ke arah yang berbeda, suara kak Decklan dengan nada yang penuh ancaman itu membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
__ADS_1
"Hufftt.." Pika menghembuskan nafas panjang. Ia dan Chaby kini berada di taman belakang rumah Andra bersama Decklan. Kak Andra sendiri belum pulang. Ia yakin kakaknya memilih membawa mereka ke rumahnya kak Andra itu karena tidak mau orangtua mereka kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Bahkan kak Andra dan kak Bara saja tidak tahu apa-apa.
Pika dan Chaby yang duduk bersebelahan itu saling menatap memberi kode, Decklan berdiri didepan mereka dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam. Pika memang sudah menjelaskan alasan yang sebenarnya terjadi dibalik video yang dia kirim, namun Decklan terlampau cemburu. Walau itu adalah ulah Pika, namun Chaby malah menuruti adiknya. Ia tidak mau gadisnya itu mendekati pria lain. Ia percaya pada Chaby, namun ia tidak percaya pada lelaki lain. Pria sepertinya saja yang dulunya tidak pernah sekalipun peduli pada yang namanya perempuan, bisa sejatuh cinta ini pada Chaby, bagaimana dengan yang lain? Ia tahu pesona kekasihnya itu tidak main-main. Banyak pria bisa jatuh hati padanya. Sepertinya dia benar-benar harus menikahi Chaby secepat mungkin. Ia harus mengikat Chaby supaya gadis itu menjadi miliknya seutuhnya.
"Kak Decklan, kan aku udah terbukti nggak salah. Kak Decklan jangan marah lagi ya?" ujar Chaby menatap Decklan dengan wajah memelas. Decklan balas menatapnya lama tanpa bicara sedikitpun.
"Hukum Pika aja, kan yang salah dia." tambah Chaby lagi membuat Pika menatapnya keberatan, sementara Chaby masa bodoh. Siapa suruh berulah. Memang sih dia yang salah, tapi ia tidak menyangka kakaknya akan benar-benar balik ke Jakarta. Kak Decklan kan selalu dingin dan galak sama banyak orang, kecuali Chaby. Sikapnya akan berbeda seratus delapan puluh derajat kalau sama gadis itu.
"Kan aku udah ngaku salah kak, masa kakak tega sama adik sendiri." ujar Pika sengaja memasang raut wajah sedih. Ia takut kena amukan Decklan.
Decklan tidak menanggapi ucapan Pika. Dia terus menatap Chaby.
"T..tapi kan aku nggak salah." balas Chaby tidak terima.
"Sekarang aku nanya, kalau aku ngelakuin hal yang sama kayak gitu ke cewek lain, kamu marah nggak?" tanya Decklan terus menatap Chaby. Chaby terdiam sesaat lalu menjawab pertanyaan kekasihnya tanpa pikir panjang.
"Pokoknya sampai itu terjadi, aku akan langsung kutuk kak Decklan jadi cowok paling jelek di dunia ini biar nggak ada yang suka." ujar Chaby yang keluar begitu saja dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Aww!" seru gadis itu lagi ketika merasakan sakit di bibirnya karena Decklan menepuk mulutnya tiba-tiba.
"Bilang apa tadi?" kata Decklan dengan tampang galaknya. Chaby malah menyengir. Ia lalu berdiri dan bergelayut manja di lengan Decklan, berharap dengan bujukan yang biasa dia lakukan dulu ketika Decklan marah akan berhasil.
"Kak Decklan, gak usah marah-marah lagi ya. Kan kita baru ketemu, masa mau marah-marah. Aku janji deh bakal penuhin semua kemauan kak Decklan. Kak Decklan mau apa? Bilang sama aku." gumam Chaby. Perkataannya itu membuat Decklan menyeringai.
"Kamu janji mau penuhin semua keinginan aku?" tanya Decklan. Ia tersenyum saat Chaby menganggukan kepala pasti.
Decklan meraih kedua tangan Chaby, memeganginya dan mencium telapak tangan yang indah itu sekilas sebelum bicara.
"Aku pengen kita nikah dalam bulan ini."
"HAH?!"
bukan hanya Chaby dan Pika saja yang berteriak kaget. Tapi Bara dan Andra yang baru datang beberapa menit lalu langsung ikut membelalak kaget. Tadi keduanya heran ketika memasuki rumah itu dan pembantu Andra berkata ada Decklan bersama Chaby dan Pika di dalam sana.
Mereka belum mendengar apa-apa kalau Decklan akan kembali. Sekarang pun belum waktu libur. Kalau memang Decklan benar-benar datang, itu pasti karena Chaby. Bara yang beberapa waktu lalu sempat mengira Decklan akan datang tersenyum tipis. Dugaannya benar, namun ia tidak menyangka akan mendengar lamaran Decklan yang bilang akan segera menikahi Chaby secepatnya dalam bulan ini. Mereka berdiri dengan jarak kira-kira enam meter dari tempat Decklan dan dua gadis itu.
__ADS_1
Sementara itu, Chaby masih kaget dengan perkataan Decklan. Kak Decklan dulu memang sudah berencana menikahinya, tapi sekarang kan mereka sama-sama sedang melanjutkan studi. Apa nggak akan terganggu?