
Mereka akhirnya sampai di rumah Decklan. Di mobil tadi Chaby terus-terusan mengomel namun akhirnya ia lelah sendiri karena berkali-kalipun ia mengomel, tidak ada yang akan mendengarnya.
Kini mereka duduk di satu ruangan dalam rumah mewah itu. Sepertinya itu ruang keluarga. Chaby tak habis-habisnya memandangi rumah itu dengan wajah kagumnya. Ketika mereka sampai tadi belum ada siapa-siapa, rumah itu masih kosong jadi suasana masih tenang-tenang saja.
Decklan, sih suaminya itu terus duduk di sisinya sambil memeluk pinggangnya, membuatnya kesal saja. Astaga, apa dulu pria itu juga selalu menempel padanya seperti ini?
Chaby jadi penasaran kenapa dirinya bisa menikah dengan tampang dingin, suka menempel dan tidak suka dibantah seperti lelaki di sampingnya ini. Tampan sih iya, kaya juga jangan ditanya lagi, lihat saja rumahnya yang super besar dan mewah ini. Tapi sikapnya itu benar-benar membuat Chaby kesal. Kan suami istri itu harus saling pengertian, kalau dirinya belum siap ikut pulang yah kasih waktu kek apa kek, ini malah main paksa-paksa. Malah di iyain Arion lagi.
"Chaby, menurutmu rumah ini familiar nggak?" tanya Andra. Pria itu duduk berhadapan dengan mereka sambil memangku Arion yang sibuk sendiri menikmati lolipopnya.
Chaby menggeleng menatap Andra. Ia memang belum ingat apa-apa. Chaby melirik Decklan di sampingnya. Pria itu tersenyum lembut padanya tapi karena Chaby masih sebal, ia langsung membuang muka ke arah lain.
"Hmph!" Decklan mengeleng-geleng dengan kelakuan sang istri. Istrinya ini sudah dewasa, bahkan sudah melahirkan anaknya yang berusia lima tahun, tapi kelakuannya tidak berbeda jauh dari putra mereka. Ia penasaran bagaimana Chaby membesarkan Arion selama ini. Tidak apa-apa, masih ada banyak waktu untuk bertanya.
Selang beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan. Seorang pria dewasa usia tiga puluan masuk dengan tergesa-gesa dalam ruangan itu. Kemudian dua pria dewasa lainnya mengikuti dari belakang. Ada lagi satu anak remaja yang usianya mungkin sekitar enam belas tahun masih dengan seragam SMA, seorang gadis cantik mungkin seusianya dan pasangan yang paling tua dari mereka semua. Mungkin mereka suami istri Chaby hanya mengira-ngira. Chaby hanya menatap mereka dengan bingung. Tapi dalam hati ia berpikir siapa pria-pria tampan itu.
Apa mereka ada hubungan dengan dirinya? Chaby merasa kegirangan, tapi juga bingung. Lalu dengan cepat ditariknya Arion dari pangkuan Andra ke pangkuannya. Ia butuh memeluk putranya itu kalau dirinya sedang gugup dan kebingungan seperti sekarang ini.
__ADS_1
Kenapa orang-orang ini menatapnya seperti melihat hantu? Dan, pria yang masuk paling pertama tadi, yang mirip artis Korea itu kini berjalan ke arahnya dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Ari, kayaknya dulu mama punya banyak mantan deh, tapi mama lupa." bisik Chaby di telinga Arion namun itu bukan seperti bisikan karena Decklan dan Andra yang duduk di dekatnya bisa mendengar. Andra hanya senyum-senyum, apalagi melihat ekspresi dongkol Decklan. Sebentar lagi babak baru hidup pasangan itu akan di mulai.
Decklan lalu mengambil Arion dari pelukan Chaby. Ia ingin memberi Danzel dan yang lainnya ruang untuk melihat dan memeluk istrinya. Ia tahu mereka juga sangat merindukannya. Ia juga tahu mata mereka tadi tidak lepas dari Arion, ia akan menjelaskan nanti. Chaby sempat mendelik tajam pada Decklan yang mengambil Arion tanpa ijin tapi ia kaget melihat pria yang paling depan tadi kini berlutut di depannya. Bahkan terisak kuat.
Chaby tertegun. Entah kenapa hatinya ikut sedih melihat pria itu menangis. Siapa dia? Apa hubungan mereka? Tidak mungkin suaminya kan? Karena suaminya jelas ada di sebelahnya. Masa dia punya dua suami? Tanpa sadar Chaby mengulurkan tangannya mengusap-usap rambut pria itu seolah menghiburnya. Pria itu mengangkat wajahnya lalu memeluk Chaby dan menangis sejadi-jadinya. Chaby memang merasa heran, tapi ia tidak menolak dipeluk. Ketika ia mendongak ke yang lain, ia makin heran karena hampir semua orang yang berada dalam ruangan itu ikut menangis. Hanya Decklan, Andra dan Arion yang tidak.
"Chaby, ini benar-benar kamu kan?" gumam Danzel melepaskan pelukannya dan menangkup wajah adiknya yang bertahun-tahun ini tidak pernah dilihatnya. Tangisannya perlahan memudar. Rasa senang membanjiri dirinya.
Chaby melirik Decklan di sampingnya.
Prank...
Decklan menatap Chaby jengkel. Masih berani berpikir punya dua suami?
"Kamu cuma punya satu suami di dunia ini, itu aku." dongkol Decklan.
__ADS_1
"Oh, kan nanya doang." balas Chaby dengan mulut manyun. Yang lain tampak heran, selain Andra dan Decklan yang sudah tahu keadaan Chaby.
Chaby memang Chaby, tapi kenapa dia tidak mengenal kakak kandungnya sendiri? Bahkan sepertinya Chaby tidak kenal mereka semua. Sejak tadi gadis itu terus kebingungan menatap mereka satu persatu. Danzel terus menatap Chaby lalu berpindah ke Decklan seolah bertanya apa yang terjadi dengan adiknya itu.
Decklan menghela nafas. Semua orang dalam ruangan itu memang terlihat jelas ingin tahu.
"Chaby sekarang belum bisa mengingat apa-apa. Memang belum kami periksa. Tapi dengan tampangnya ini, kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri." jelas Decklan. Chaby ikut mengangguk membenarkan perkataan Decklan.
Danzel menatap adiknya lagi. Pantas saja sejak tadi Chaby terus menatapnya dengan wajah bingung. Tidak seperti biasanya. Biasanya gadis itu selalu berlari dan memeluknya lebih dulu sambil menyebut namanya berkali-kali. Tapi tidak apa-apa. Danzel sangat senang mengetahui adik kesayangannya itu masih hidup. Setidaknya ia bisa bernafas dengan lega sekarang. Ia akan membantu Chaby mendapatkan ingatannya nanti.
"Chaby,"
Chaby memandang Danzel yang masih berlutut dihadapannya. Kali ini Danzel meraih kedua tangan Chaby, menatapnya dengan lembut. Lama-lama Chaby merasa makin familiar karena nama yang terus-terusan mereka sebutkan itu saat memanggilnya.
"Dengar, aku kakak kandung kamu." gumam Danzel pelan. Chaby terdiam sejenak. Ia tampak berpikir, lalu tak sampai beberapa detik gadis itu berteriak heboh.
"Kakak? Jadi aku masih punya keluarga? Ganteng banget kayak gini pula, hwaaa... Seneng bangeeet..." seru Chaby heboh dan langsung memeluk Danzel girang. Semua orang ternganga. Sepertinya bukan hanya ingatan Chaby yang hilang. Otaknya juga makin geser. Tapi mereka juga girang melihat Chaby sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu Pika ikut berhambur ke Chaby. Bara, Galen, Gatan dan tante Lily juga ikut berhambur ke Chaby. Mereka semua jadi heboh. Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi dengan suara-suara heboh. Harusnya ini adalah pertemuan yang mengharukan, tapi malah jadi seperti acara komedi.
Di tempatnya, Andra mati-matian menahan tawa. Papa Decklan menonton sambil tersenyum tipis, Arion hanya bingung melihat orang-orang itu, sedang Decklan terlihat sangat dongkol. Gimana nggak kesal coba, Chaby langsung menerima Danzel sebagai kakaknya, sedang dia yang suaminya, Chaby malah tidak langsung percaya waktu pertemuan mereka di rumah sakit tadi. Istrinya ini benar-benar minta di hajar rupanya.