GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 23


__ADS_3

Sharon melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul setengah delapan malam. Ia dan orang-orang dalam kedai ini sudah terjebak lebih dari satu setengah jam namun hujan belum berhenti-berhenti juga. Malah sesekali petir akan menyambar hingga Sharon refleks harus menutupi telinga didepan kedua pria dewasa itu. Yah, ia masih bersama mereka sekarang. Ia heran, kenapa mereka tidak pulang-pulang. Tidak tahu apa ia dia sudah sangat canggung dengan keberadaan mereka karena tidak tahu mau membahas apa.


Sharon memang takut petir dari kecil. Ia bahkan tidak bisa ketiduran karena suara itu yang menurutnya sangat mengganggu. Sejenak ia berpikir, apa hujan deras ini tidak akan berhenti-berhenti dan petir akan terus menyambar. Oh tidak, ia berdoa dalam hati agar itu tidak terjadi. Apalagi di rumah tidak ada Chaby dan Arion. Namun akhirnya Sharon merasa sedikit lega karena hujan mulai menampakan tanda-tanda akan  berhenti dan tidak lagi terdengar suara petir.


"Bagaimana kau akan pulang? Kau bawa kendaraan sendiri?" pertanyaan itu keluar dari mulut Galen sambil menatap Sharon. Ia tahu Danzel pasti ingin menanyakan pertanyaan yang sama tapi pria itu tampaknya merasa gengsi. Karena itu Galen membantunya bertanya. Ia heran dengan Danzel. Sudah sedewasa ini tapi mendekati seorang wanita saja kakunya minta ampun. Bagaimana mereka bisa dekat nanti kalau sikapnya seperti ini. Tampaknya Galen memang harus banyak membantu. Ia tahu sekali cara Danzel memperlakukan wanita yang menolong Chaby ini berbeda.


Sharon menaikkan wajahnya menatap Galen.


"Ah, aku akan memesan taksi." jawabnya tak lupa tersenyum.


"Taksi? Malam-malam begini dengan cuaca buruk seperti ini tidak baik bagi wanita pulang sendiri. Biarkan Danzel mengantarmu saja." kata Galen lagi. Mata Sharon melebar. kakaknya Chaby mengantarnya pulang? Oh tidak. Ia tidak bisa membayangkan betapa canggungnya mereka kalau berada berdua saja di dalam mobil. Ia lebih memilih pria bernama Galen itu yang mengantarnya daripada sih Danzel yang kaku ini. Bisakah dia menolak?


"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan." tolak Sharon halus.

__ADS_1


"Sama sekali tidak merepotkan. Apalagi kau adalah penyelamatnya adik kami. Mana mungkin kami membiarkanmu pulang sendirian. Bagaimana kalau Chaby tahu? Dengan sifatnya itu dia tidak akan bicara selama seminggu dengan kami." kata Galen lagi melebih-lebihkan. Padahal ia sendiri tahu kalau Chaby gampang dibujuk sekalipun lagi sebal. Tapi demi kelancaran hubungan Danzel dan wanita ini, tidak ada salahnya kan dia sedikit beracting.


Sharon tidak tahu mau bicara apa lagi. Ia melirik sekilas ke Danzel, merasa tidak enak dan kembali menatap Galen.


"Kau tidak bersama kami?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Sharon. Galen tersenyum tipis kemudian menggeleng.


"Aku bawa mobil sendiri. Setelah ini aku juga harus langsung balik ke rumah. Kondisi mamaku belum begitu stabil jadi aku harus menjaganya." ucapnya memberi alasan. Giliran Sharon yang mengangguk-angguk.


Sudah tidak terdengar suara hujan lagi. Sepertinya sudah berhenti. Orang-orang mulai keluar dari kedai. Galen berpamitan lebih dulu. Meninggalkan Danzel dan Sharon dalam kecanggungan mereka.


"Hah?" Sharon mendongak dengan wajah bingungnya.


"Kau ingin pulang bukan?" Danzel menatapnya datar.

__ADS_1


"Ah, iya." Sharon cepat-cepat berdiri, berjalan dibelakang Danzel yang telah berjalan lebih dulu sambil menundukan kepala. Namun ia tidak sadar Danzel menghentikan langkahnya tiba-tiba sampai-sampai kepalanya tidak sengaja menabrak punggung pria itu. Sharon meringis dalam hati. Kepalanya terasa sakit akibat benturan dengan punggung keras Danzel. Ia sedikit kesal karena pria didepannya itu berhenti tiba-tiba begitu. Danzel menatapnya.


"Mau menyalahkanku? Kau sendiri yang tidak lihat jalan. Mana ada orang yang berjalan menunduk begitu. Jelaslah tidak bisa lihat jalan." ujar Danzel lalu melanjutkan langkahnya lagi dengan senyuman tipis. Sangat tipis. Sharon sampai melongo tidak percaya. Andai saja ia bisa marah, ia sudah berteriak kesal pada pria itu. Tenang Sharon, tenang. Ia kesal karena dirinya sama sekali tidak punya nyali melawan balik seorang Danzel.


Dalam perjalanan, tidak ada satupun yang berbicara. Baik Sharon maupun Danzel. Keduanya hanya diam. Danzel lebih fokus menyetir dan Sharon yang fokus menatap ke luar mobil. Entah apa yang dia pikirkan. Ia bahkan tidak sadar Danzel sesekali mencuri-curi pandang padanya. Mengamati wanita itu dengan raut wajah tidak terbaca.


"Kau takut petir?" pertanyaan itu mengalihkan pandangan Sharon. Ia melirik Danzel yang tetap fokus kedepan. Danzel memang terus memperhatikan gerak-gerik Sharon dalam kedai tadi. Sharon selalu bergerak gelisah ketika mendengar bunyi petir dan badannya kelihatan tegang.


"Kau bertanya padaku?" Danzel mendengus. Pertanyaan bodoh apa itu? Memangnya di dalam mobil itu ada orang lain selain mereka?


"Menurutmu? Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua. Kecuali kalau aku bisa melihat hantu, aku pasti sedang berbicara dengan hantu yang mungkin sedang duduk disebelahmu itu." balasnya menakut-nakuti. Ia jadi merasa lucu ketika Sharon langsung memasang wajah takutnya sambil menengok ke segala arah. Lalu akhirnya wajah cantik itu berubah kesal menatapnya. Danzel bisa melihat dengan jelas ekspresi Sharon dari sudut matanya.


"Kau belum jawab pertanyaanku." katanya lagi dengan suara datar. Namun tiba-tiba mobil yang dikendarai itu berhenti mendadak dan secara bersamaan terdengar suara petir yang begitu kuat kemudian hujan turun dengan derasnya. Lebih deras dibandingkan ketika mereka berada di dalam kedai tadi.

__ADS_1


Saking kaget dan takut,  Sharon tanpa sadar memeluk Danzel kuat-kuat. Menyembunyikan kepalanya di dada bidang pria itu. Hingga lelaki yang dipeluknya itu terkejut bukan main akibat pelukan Sharon. Danzel bahkan bisa merasakan badan Sharon yang gemetar. Wanita itu pasti sangat ketakutan. Tanpa sadar Danzel menerima pelukan itu, memberi rasa aman pada Sharon sambil mengusap-usap kepala wanita itu seperti yang selalu ia lakukan ke Chaby dulu, namun dengan perasaan yang berbeda. Danzel tahu jelas perasaan seperti apa itu. Karena jantungnya mulai berdetak tak karuan. Sharon adalah wanita asing pertama yang berada sedekat ini dengannya, dan yang berhasil membuat jantungnya berdebar-debar.


__ADS_2