GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 13


__ADS_3

Decklan terus menatap Chaby yang masih pulas dalam tidurnya. Tangannya membelai pipi istrinya lalu mencium lembut keningnya. Ini sudah pagi, dan hari makin terang. Harusnya Decklan sudah bersiap-siap kerja. Tapi ia masih malas. Ia lebih senang memandangi Chaby, seperti sekarang ini. Decklan masih tidak percaya akhirnya dirinya bisa melihat istrinya lagi. Ini seperti mimpi, Chaby kini berada didepannya, tidur disampingnya.


"Pagi sayang," gumam Decklan lembut saat Chaby mulai membuka mata perlahan. Gadis itu menatapnya seperti orang kebingungan. Sepertinya Chaby masih mengingat-ingat dia ada dimana sekarang ini.


Tentu saja waktu bangun dan melihat dirinya berada dalam sebuah kamar yang masih asing baginya membuat dia kebingungan. Setelah mengingat kejadian semalam, Chaby cepat-cepat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut . Ia malu, apalagi wajah bantalnya saat baru bangun tidur pasti terlihat jelek.


Decklan terkekeh. Tangannya menelusup masuk ke dalam selimut bermaksud ingin menggapai tangan Chaby. Namun tanpa sengaja ia malah menyentuh buah dada Chaby. Chaby yang kaget langsung menyibak selimut dan mendongak menatap Decklan tajam. Decklan menurunkan tangannya lalu berdeham salah tingkah. Ia tidak bermaksud memegang bagian itu tapi sudah terlanjur.


"Kenapa?" tanya Decklan pura-pura bodoh.


"Tadi tangan kamu..." Chaby terus menatap Decklan dan bagian dadanya yang di sentuh Decklan tadi bergantian. Suaminya itu malah tersenyum nakal menatapnya.


"Tangan aku kenapa hm?" godanya. Giliran Chaby yang merasa malu. Sudahlah, dia tidak mau mengungkitnya lagi. Bisa-bisa dirinya berakhir dengan diserang pria itu lagi pagi-pagi begini. Kan status mereka suami istri, bukan tidak mungkin suaminya itu bisa berbuat sesuka hati padanya, seperti semalam.


Untuk menutupi rasa malunya Chaby cepat-cepat bangkit masuk ke kamar mandi. Pokoknya ia harus menghindar dari suaminya dulu. Ia juga ingin ke rumahnya kak Sharon nanti.


                                  ***


Di tempat lain, Danzel membawa Arion ke kantornya. Suasana hatinya berbeda dengan dulu waktu Chaby belum ditemukan. Hari ini wajahnya lebih fresh dan ia jadi sering tersenyum. Arion sangat menghiburnya. Ingin sekali ia meminta Chaby membiarkan dirinya saja yang mengurus Arion, seperti waktu ia membesarkan Chaby dulu. Sayangnya, Danzel tahu itu tidak mungkin. Selain Chaby, ia harus berhadapan juga dengan Decklan dan keluarganya. Mereka pasti melarang keras Arion tinggal dengannya setiap hari.

__ADS_1


Ketika Chaby menikah dengan Decklan, Danzel merasa kesepian. Apalagi saat adik tersayangnya itu mengalami kecelakaan dan menghilang. Sekarang, pria itu senang setelah menemukan Chaby.


Tapi, mengingat Chaby sudah menikah dan tinggal terpisah dengannya, Danzel tetap merasa kesepian. Chaby tidak bisa terus bersamanya seperti dulu. Galen pun sudah jarang ke apartemennya. Sahabatnya itu akhirnya memilih mengabdi pada mamanya yang semakin tua. Dua tahun belakangan ini Galen setia menjaga mamanya yang mulai sakit-sakitan. Katanya ia tidak mau menjadi anak durhaka. Jadi, selama masih ada waktu dia akan menemani sang mama. Gantian dengan Bara tentu saja.


Apa dia cari pasangan saja? Jarang sekali seorang Danzel memilih mencari pasangan. Ia memang pernah punya hubungan dengan beberapa wanita dulu, tapi hubungan mereka tidak pernah serius. Intinya, Danzel tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang selain cinta yang tulus dari seorang kakak pada adiknya. Ia belum menemukan wanita yang betul-betul ia cintai untuk menjadi pasangan hidupnya.


"Itu anak siapa?" tanya salah satu karyawan di kantor Danzel. Ia menunjuk Arion yang sedang duduk sambil bermain sendirian di ruang tunggu yang hanya terpisah oleh dinding kaca. Danzel menyuruh Arion menunggu di situ sebentar karena ada kliennya yang menelpon.


"Tidak tahu, tapi tadi anak itu datang bersama bos." sahut salah satu temannya. Kini makin banyak yang memperhatikan Arion dari tempat mereka, seolah penasaran siapa sebenarnya bocah itu. Apa hubungannya dengan pemimpin mereka.


"Memangnya pak Danzel sudah menikah?"


"Tapi wajahnya sih bos kelihatan bahagia sekali waktu masuk kantor tadi. Jangan-jangan benar anaknya lagi.


Dan begitulah mereka terus bergosip tentang Danzel. Sedang di luar sana Danzel mengakhiri telpon dengan kliennya. Ia berniat mau masuk ke kantor namun pandangannya malah fokus ke seorang perempuan yang memasuki gerbang kantornya pakai motor dipenuhi dengan buket bunga.


Danzel tidak tertarik dengan bunga-bunga itu, ia hanya melihat ada yang salah dengan cara wanita itu membawa motornya. Entah apa yang salah namun motor itu tidak seimbang, wanita itu terus mencoba mematikan mesin motor tapi tidak mau berhenti. Alhasil motor itu terus berjalan mengarah ke...


Oh tidak! Mata Danzel melebar. Ia baru sadar mobilnya di parkir didepan sana. Motor wanita itu terus berjalan ke arah mobilnya berada.

__ADS_1


"HEI AWAS!"


teriak Danzel dari lobi. Tapi percuma saja, wanita itu tidak mendengarnya. Danzel lalu berlari secepat mungkin ke sana, sayangnya sudah terlambat. Hampir beberapa langkah ia sampai tapi motor yang dikendarai wanita itu sudah menabrak mobilnya. Wanita itu terjatuh bersamaan dengan buket-buket bunga di atas motornya. Dua orang satpam yang berjaga di gerbang depan berlari ke arah mereka membantu wanita itu berdiri.


Tampaknya tidak terjadi apa-apa dengan wanita itu tapi mobil Danzel...


Danzel terus menatap mobilnya nanar. Gampang saja ia mengganti mobil itu dengan yang baru karena dirinya kaya, tapi entah kenapa ia merasa marah. Danzel lalu melemparkan tatapan mautnya ke wanita yang menabrak mobilnya.


"Kau tidak punya mata? Tidak bisa menyetir? Kau tidak lihat mobil sebesar ini didepanmu? Kalau tidak bisa bawa motor jangan memaksa!" sentak Danzel membuat wanita didepannya itu ciut seketika. Laki-laki didepannya terlihat sangat marah. Wajar sih. Apalagi itu mobil mahal dan terlihat masih baru.


"M...maaf," ujar wanita itu takut-takut.


"Pak Danzel, anda ingin kami segera membawa mobil anda ke bengkel untuk diperbaiki?" tanya salah satu dari kedua satpam itu. Danzel melirik mereka sebentar.


"Tidak usah, buang saja." kata pria itu saking kesalnya. Satpam yang bertanya tadi langsung mengangguk. Mereka sudah tahu watak bos mereka, apalagi kalau sedang marah. Jadi sebaiknya ikuti saja perintah pemilik kantor itu.


Wanita yang menjadi pelaku utama rusaknya mobilnya Danzel itu malah melongo. Tidak percaya dengan perkataan yang baru keluar dari mulut Danzel. Ia melihat lagi ke bagian belakang mobil yang rusak. Sepertinya kerusakannya tidak parah, kok langsung dibuang? Sombong sekali pria ini.


"Saya bisa ganti rugi mobil anda kok," kata wanita itu menahan kesal. Danzel bersedekap dada menatap wanita itu, ia memperhatikan cara berpakaian wanita itu yang sederhana bahkan motor yang tampak tua dan sudah usang itu. Jelas sekali dari gayanya wanita itu tidak akan bisa mengganti biaya kerusakan mobilnya.

__ADS_1


"Tidak usah, ganti saja motor bututmu itu supaya tidak ada kecelakaan seperti ini lagi." kata Danzel datar kemudian berbalik pergi setelah memerintahkan kedua satpam itu mengurus mobilnya. Wanita yang ia tinggalkan mendengus kesal. Dasar laki-laki songong.


__ADS_2