GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 110


__ADS_3

Decklan berdiri di depan papanya. Dia kini berada di ruang kerja lelaki paruh baya itu. Sepertinya pihak universitas Cambridge sudah menghubungi pihak kampus pertamanya di Indonesia dan pihak kampus langsung menghubungi papanya terkait dengan keputusannya yang mengajukan pindah secara tiba-tiba itu.


Papanya terkejut mendengar laporan itu dan mencoba menghubungi Decklan. Karena nomor Indonesianya terhubung, lelaki tua itu langsung tahu kalau sang putra ada di Indonesia. Ia dengan tegas meminta Decklan untuk menemuinya. Kini anak sulungnya itu berdiri tegak didepannya, menatapnya tajam dan penuh wibawa.


"Kenapa tiba-tiba pulang?" tanya papanya dengan suara tegas. Decklan belum menjawab, ia masih memikirkan alasan apa yang bisa diterima oleh papanya.


"Karena Chaby?" tambah lelaki tua itu. Ia merasa keputusan putranya ada hubungannya dengan pacarnya. Kalaupun memang benar, ia tidak mau terlalu mencampuri hubungan mereka. Hanya saja, ia tidak mau Decklan mengambil keputusan yang terlalu kekanakan seperti itu. Akan sangat disayangkan karena tidak lama lagi ia akan mendapatkan gelarnya. Apa salahnya menunggu satu atau dua tahun saja.


Decklan menatap lurus papanya. Ternyata lelaki tua itu sudah bisa membaca alasannya balik ke sini. Kalau begitu dirinya tak perlu lagi memikirkan alasan.


"Pa, aku tahu mungkin ini keputusan paling tidak dewasa yang aku buat, tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku sendiri pada Chaby. Aku..," ucapan Decklan tertahan.


"Bisakah aku selesaikan kuliahku disini saja? Aku berjanji akan langsung membantu pekerjaan papa disini setelah selesai, asal jangan jauhkan aku dari kekasihku." lanjutnya penuh harap. Papanya menatapnya lama lalu menghembuskan nafas pelan.


"Decklan, papa sama sekali tidak bermaksud memisahkan kamu dan Chaby. Hanya saja keputusanmu ini sangat tidak dewasa. Bagaimana orang-orang akan menilaimu nanti. Papa hanya tidak mau kamu dianggap tidak kompeten karena sikapmu terhadap studimu yang gampang berubah-ubah."


"Aku tidak gampang berubah-ubah pa. Dari awal aku memang tidak ingin pindah ke London. Aku hanya tidak mau mengecewakan papa karena itu aku setuju. Tapi, aku tidak bisa berbohong kalau pengaruh kehadiran Chaby dalam hidupku amat besar dan akhirnya malah membuat papa kecewa. Niatku belajar kedokteran memang karena aku suka, namun belajar di dalam negeri saja aku pikir sudah bagus. Aku harap papa bisa mengerti dan menerima keputusanku. Mengenai kompeten atau tidak, mereka bisa menilainya nanti. Tapi kalau papa setuju, aku berjanji untuk membuat rumah sakit ini lebih maju lagi nanti."


itu adalah kalimat terpanjang yang Decklan ucapkan dihadapan papanya. Pria tua itu bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya menatap putranya dengan wajah tertegun. Semua perkataan yang ia dengar dari Decklan, membuktikan bahwa anak itu sudah punya tujuan hidupnya sendiri. Ternyata ia salah menilai. Putranya jauh lebih dewasa dari yang dia pikirkan. Kalau Decklan memang tidak mau, ia tidak bisa memaksa. Pria tua itu berdeham.


"Jadi, apa yang kau rencanakan kedepan nanti?" tanyanya dengan tangan terlipat diatas meja.


Decklan menghembuskan nafas panjang kemudian berbalik keluar. Papanya mengernyit bingung saat melihat putranya malah berbalik keluar.


Di luar, pandangan Decklan mencari-cari keberadaan seseorang yang datang bersamanya tadi. Yah, dia sengaja membawa Chaby ke rumah sakit untuk menemui papanya. Dia tidak mau apa yang sudah dia rencanakan gagal lagi seperti tahun lalu, ketika ia ingin menikahi gadis itu. Kali ini dirinya harus berhasil.

__ADS_1


Senyuman tipis terukir di wajah Decklan ketika mendapati Chaby yang asyik duduk di sebuah bangku taman rumah sakit itu. Decklan melangkah pelan mendekatinya dan mengusap kepala Chaby lembut, membuat Chaby mendongak menatapnya.


"Capek nunggunya?" tanyanya pelan. Kali ini ia mengusap-usap pipi Chaby dengan jari ibunya. Gadis didepannya itu menggeleng lalu tersenyum. Ia lalu merasakan tangan Decklan meraih pergelangan tangannya dan membuatnya berdiri dari bangku.


"Kak Decklan udah kelar ngomong sama papanya kak Decklan?" Chaby balas bertanya. Decklan menggeleng.


"Terus, kenapa udah kesini?"


Chaby terus menatap sang pacar yang menuntunnya berjalan itu dengan ekspresi bingung. Ia tidak tahu sama sekali rencana Decklan membawanya ke rumah sakit ini.


"Kak Decklan, mau kemana sih?" tanya Chaby lagi karena Decklan tak kunjung menjawab.


"Ke ruangan papa." sahut Decklan pendek.


"Kenapa? Bukannya tadi udah?"


"Tadi obrolannya beda. Sekarang kita datang buat minta restu nikah." jawab Decklan enteng. Ia tidak sadar Chaby sudah melotot menatapnya.


Bukannya tidak mau menikah, tapi sekarang Chaby takut. Bagaimana kalau papanya kak Decklan marah sama dia karena sudah buat kak Decklan balik tiba-tiba ke Indonesia sebelum wisuda, hanya karena video pendek hasil dari kejahilan Pika.


Chaby mulai berpikiran yang tidak-tidak. Semakin ia berpikir, semakin dirinya merasa takut bertemu calon mertua. Ia lalu buru-buru menahan langkahnya saat mereka makin dekat dengan ruang kerja papa Decklan.


Chaby cepat-cepat melepaskan tangan Decklan dipergelangannya bermaksud untuk kabur, namun kecepatan tangan Decklan lebih cepat darinya. Pria itu kembali mencengkeram kuat tangannya.


"Mau kemana?" tanyanya menatap Chaby lekat.

__ADS_1


"K..ke..toilet." ucap Chaby beralasan. Decklan terkekeh. Dia tidak percaya. Ia sudah tahu persis raut wajah Chaby ketika berbohong, jangan harap ia tertipu. Pasti gadis itu takut pada papanya. Decklan makin mempererat genggamannya dan menarik Chaby.


"Kak Decklan, kita nikahnya nanti aja yah. Kapan-kapan aja minta restunya."


"Nggak! Aku udah ngebet banget nikah sama kamu. Kamu juga udah setuju tadi." balas Decklan tanpa menatap gadis itu. Ia terus berjalan lurus kedepan. Tinggal beberapa langkah lagi dan mereka akan sampai di ruangan papa Decklan.


"Tapi.."


Chaby masih mau berkeras namun sepertinya terlambat. Mereka sudah berada diruangan yang di yakini Chaby sebagai ruangan papanya kak Decklan.


"Senyum sayang, masa mau minta restu cemberut gitu." bisik Decklan pelan ditelinga Chaby.


"Kalo nggak mau senyum, aku cium bibir kamu sekarang juga didepan papa." kali ini cowok itu mengancam. Ia tertawa melihat Chaby yang langsung menurut dengan tersenyum lebar padanya kemudian mencubit pelan pipi tembem itu dan menghentikan langkah mereka didepan meja kerja papanya.


Lelaki paruh baya itu menatap keduanya bergantian. Ia pikir Decklan  sudah pergi tadi, ternyata putranya tidak benar-benar pergi. Namun kali ini ia heran karena Decklan kembali dengan Chaby. Mereka saling bergandengan tangan. Lebih tepatnya, tangan Decklan menggenggam tangan Chaby kuat-kuat.


"Papa," gumam Decklan menatap papanya yang balik menatapnya bingung.


"Papa nanya apa rencana aku kan tadi." lelaki tua itu mengangguk. Sepertinya ia merasa bisa menebak apa yang akan dikatakan Decklan setelah ini.


"Aku pengen nikahin Chaby secepatnya, tolong papa restuin kami." Decklan mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan penuh ketegasan, hingga pria tua didepannya itu tidak mampu berkata-kata lagi, hanya mendesah pelan.


"Tapi, kalau papa belum bisa restuin sekarang nggak apa-apa kok. Aku tunggu papa restuin aku sama kak Decklan aja, kan harus denger apa kata orang tua. Pernikahan aku sama kak Decklan nggak apa-apa di tunda, aku nggak maksa kok." perkataan Chaby membuat Decklan memiringkan kepalanya menatap gadis itu kesal.


"Aku yang maksa!" serunya gondok dengan mata melotot menatap Chaby. Detik itu juga, bunyi gelak tawa kuat dari papa Decklan bergema di seluruh ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2