GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 42


__ADS_3

"Lo nggak bohongkan? Beneran udah ingat semuanya? Udah tahu sekarang kalau gue adalah sahabat pertama lo? Kalo gitu jawab pertanyaan gue. Pertama kali lo ketemu gue dimana? seru Pika dengan berapi-api. Mereka berlima, tambah Bara, Andra dan Decklan sekarang sedang bersama di cafe tempat biasa mereka nongkrong dulu. Kebetulan siang ini semuanya ada waktu luang buat makan siang bersama. Jadi mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali berkumpul ke tempat yang membangkitkan kenangan masa lalu itu.


"Ingat dong Pik. Didepan sekolah. Waktu itu kamu ngajak aku masuk dari belakang sekolah karena kita terlambat, dan gerbangnya udah di tutup sama satpam."


"Hwaaaa.... Chaby..," Pika berseru keras sambil memeluk Chaby kuat-kuat. Chaby membalasnya dan keduanya jadi heboh sendiri, sampai-sampai tiga pria yang duduk di meja yang sama dengan mereka itu jadi malu karena diliatin pengunjung yang lain.


"Heh, lo berdua kecilin tuh suara. Malu tahu diliatin orang," tegur Andra sambil sesekali menutupi wajahnya dengan menu makanan di diatas meja.


"Biarin wleee..." ledek Pika tidak peduli.


"Tahu ah, kak Andra sirik aja. Orang lagi kangen-kangenan juga." timpal Chaby. Andra hanya melongo. Ia merasa dejavu. Di masa lalu dua gadis itu memang paling banyak berselisih seperti ini dengannya. Pria itu jadi tertawa sendiri. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bersama seperti ini. Keadaan memang jadi tegang ketika Chaby menghilang, namun senang rasanya gadis itu masih hidup dan bisa bersama-sama mereka lagi. Ya sudah, biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka mau sekarang.


"Kak Bara," Chaby memandang Bara setelah melepaskan pelukannya dari Pika.

__ADS_1


"Iya?" Bara yang sibuk memutar-mutar gelasnya sejak tadi menaikkan wajah menatap Chaby.


"Udah ada rencana nggak mau nikah sama Pika kapan?"


"Uhuk, uhuk!" Pika yang sedang meminum jusnya langsung terbatuk-batuk. Pertanyaan Chaby sungguh di luar dugaan. Bara sampai kaget dan bingung mau jawab apa.


"By, kok nanya gitu sih." tegur Pika. Dia kan malu. Decklan sendiri merasa penasaran Bara akan menjawab apa. Biar bagaimanapun Pika adalah adik kandungnya. Ia ingin Bara dan adiknya berhubungan ke jenjang yang lebih serius. Ia tahu mereka belum-belum menikah juga karena masalah yang menimpa Chaby dulu. Tapi sekarang Chaby sudah ketemu. Tidak ada lagi alasan lain. Dua-duanya pun sudah sukses. Memangnya mereka tidak terpikir mau nikah dan punya anak seperti diriny dan Chaby?


Bara menatap Pika yang tertunduk malu. Lalu melirik Decklan dan Andra bergantian. Keduanya sedang menatapnya juga. Sebenarnya sudah lama Bara berpikir untuk menikahi Pika. Waktunya saja yang belum tepat. Tapi ia memang sudah memiliki rencana itu. Tidak mungkin juga kan ia pacaran bertahun-tahun dengan Pika kalau tidak berencana menikahi gadis itu.


Chaby ingin meledek, namun tiba-tiba ia merasa perutnya mual. Gadis itu cepat-cepat berdiri dari kursi dan langsung berlari ke arah toilet. Ke empat orang yang ditinggalkannya mematung sebentar karena bingung. Beberapa detik kemudian Decklan ikut berlari secepat kilat mengikuti Chaby. Wajahnya terlihat panik. Ia tidak peduli lagi mau itu toilet wanita. Pria itu tetap menerobos masuk. Ia ingin tahu ada apa dengan istrinya.


"Hoek...hoek..." suara itu terdengar kuat dan berkali-kali, dan Decklan yakin sekali itu pasti Chaby. Ia langsung membuka pintu toilet dari arah datangnya suara muntahan itu dan mendapati Chaby tengah muntah dengan kepala menghadap closet.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" ucap Decklan khawatir. Ia ikut berlutut dibelakang Chaby sambil mengusap-usap punggung istrinya. Chaby masih terus muntah dan Decklan makin khawatir. Saat ini pria itu tidak bisa memikirkan hal lain. Ia hanya ingin rasa sakit yang Chaby rasakan itu menghilang secepatnya. Decklan terus mengelus-elus punggung Chaby dengan lembut.


"Udah enakan sekarang?" tanyanya setelah gadis itu tidak muntah lagi. Chaby mengangguk pelan lalu berdiri keluar dan membasuh wajahnya di wastafel. Decklan setia berdiri dibelakang sang istri sambil memegangi rambut gadis itu biar tidak basah. Beberapa wanita yang masuk ke toilet itu menatap heran ke mereka tapi Decklan tidak peduli. Dia akan melakukan apapun demi istri tercintanya.


Keduanya lalu keluar dari toilet itu. Decklan terus berpikir kenapa istrinya sampai muntah. Perasaan kondisi Chaby sehat-sehat saja. Salah makan? Tidak mungkin. Decklan selalu memperhatikan makanan Chaby. Mereka selalu makan bersama, dan ia melihat istrinya tidak pernah lagi memakan makanan yang bisa memicunya sakit perut. Gadis itu sekarang selalu menjaga kesehatannya demi melayani Arion juga suaminya. Dan akhir-akhir ini Decklan juga sering melihat Chaby sering meminum vitamin. Terus kenapa bisa sakit perut? Mata Decklan langsung melebar saat terpikirkan sesuatu. Ia menarik Chaby pelan membuat sang istri menghadapnya.


"Kamu hamil?" pertanyaan itu sontak membuat orang-orang yang lagi duduk di meja dekat situ kompak menatap mereka. Bahkan sampai Bara, Andra dan Pika yang duduk dibagian tengah sana bisa mendengar suara kuat Decklan.


Chabylah yang merasa malu karena tiba-tiba mendapat perhatian orang banyak itu, sedang Decklan sendiri tidak peduli. Pria itu memegangi bahu Chaby dengan antusias


"Kamu pasti hamil sayang, kan kita sering sekali melakukannya." seru Decklan lagi. Sesaat ia lupa dirinya sedang berada di tempat umum, saking senangnya. Chaby menatap suaminya geram. Dasar kak Decklan, bikin malu aja. Ia lalu cepat-cepat berbalik dan berlari kecil meninggalkan suaminya.


"Sayang, kok ninggalin aku sih. Jawab dulu, Chaby!"

__ADS_1


Pika dan Andra terus menertawai kelakuan suami istri lama rasa pengantin baru itu. Mereka lebih merasa lucu melihat Chaby yang kini sudah menyembunyikan kepalanya di atas meja saking malunya. Tuh, rasain sekarang. Sering bikin orang lain malu kan? Sekarang rasain dibikin malu sama suami sendiri. Tapi... Chaby beneran hamil? Wah... Kekuatan seorang Decklan memang tidak main-main.


__ADS_2