GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 111


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Decklan tidak bicara sedikitpun pada Chaby. Ia masih kesal karena perkataan Chaby didepan papanya tadi. Meski papanya sudah memberikan persetujuannya dengan keputusan mereka untuk menikah, Decklan masih tidak berhenti kesal. Ia duduk bersebelahan dengan Chaby dalam taksi, namun tetap tidak bicara. Padahal Chaby sudah berulang kali bilang maaf padanya. Biar saja, pokoknya hari ini ia mau ngambek seharian. Memangnya cuma gadis itu saja yang bisa ngambek manja sama dia. Dia juga bisa. Ia sengaja mau berbuat begitu biar kekasihnya itu lebih perhatian lagi dan membujuknya.


Decklan sengaja memalingkan wajahnya ke luar saat Chaby mencolek-colek lengannya.


"Kak Decklan, kok masih ngambek juga sih. Malu tahu sama pak sopir, udah besar gini juga." ucapan Chaby yang ceplas-ceplos itu membuat pak sopir senyum-senyum, Decklan? cowok itu tidak peduli. Ia tetap menghadap luar sengaja tidak mau menatap Chaby. Ketika sebelah tangan Chaby yang sejak tadi menggenggam tangannya itu terlepas, Decklan buru-buru menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya lagi. Chaby tertawa pelan.


"Katanya ngambek, kok megang-megang tangan aku terus sih." ledek Chaby tapi Decklan tidak peduli. Bahkan sampai taksi itu berhenti didepan rumah Decklan, cowok itu tidak bicara sama sekali. Ia masih menunjukkan ekspresi sebalnya.


Tante Lily, Bara, Andra dan Pika yang sejak tadi menunggu kedatangan pasangan itu berdiri seketika saat pintu depan terbuka. Pika sudah cerita semuanya pada mamanya tentang rencana Decklan yang mau menikahi Chaby. Awalnya sang mama memang kaget, tapi ia berubah senang. Ia senang Decklan dan Chaby menikah muda supaya ia bisa menggendong cucunya. Lagipula walaupun masih kuliah, Chaby sudah bisa dibilang cukup umur untuk menikah. Decklan saja menurut wanita tua itu sudah pas menikah di umur yang mau masuk dua puluh dua tahun ini.


"Gimana, gimana? Papa kamu setuju nggak kalian menikah?" tanya tante Lily dengan antusias menatap Decklan. Yang lain ikut menunggu jawaban keluar dari mulut cowok itu.


Decklan menatap mereka semua bergantian lalu mengangguk tanpa semangat.


"Aku capek ma, aku butuh istirahat." ucapnya pelan lalu berjalan ke arah tangga dan naik ke kamarnya. Cowok itu sempat melirik Chaby sebentar sebelum pergi. Chaby malah tertawa. Ia tahu kak Decklan lagi cari perhatiannya, biarin aja dulu.


"Kenapa lagi tuh?" tanya Pika setelah Decklan menghilang dari balik tangga. Ia menatap lurus ke Chaby.


"Ia, rencana kalian udah disetujuin kok Decklannya nggak semangat gitu?" timpal tante Lily bingung. Mereka semua menatap Chaby seperti menunggu penjelasan.

__ADS_1


"Kak Decklan ngambek sama aku." jawab Chaby seadanya. Emang benar kekasihnya itu lagi ngambek.


"Lo sih, hobinya bikin orang kesel mulu." timpal Andra. Dia juga kan sering di buat kesal sama cewek itu, jadi ia bisa mengerti perasaan Decklan.


"Kak Andra aja yang sensitif banget orangnya. Aku kan biasa aja ngomongnya." balas Chaby membela diri.


"Udah-udah. Chaby, sekarang kamu ke atas gih bujuk Decklannya. Masa bentar lagi kalian nikah malah ngambek-ngambekan gini." sela tante Lily menyuruh Chaby.


"Kalau Decklan macam-macam sama kamu terima aja, kamu boleh kok di apa-apain sama Decklan sekarang." lanjut perempuan paruh baya itu lagi bermaksud untuk menggoda calon menantunya itu. Bara, Pika dan Andra ikut tersenyum menggoda. Sedang Chaby yang merasa malu dengan pipi yang mulai memerah, buru-buru berbalik menaiki tangga.


"Hati-hati bocah, kalo lo jatoh dari tangga, bisa-bisa Decklan ngamuk lagi sama kita." seru Andra dari bawah. Chaby berdecak kesal tapi terus melanjutkan langkahnya. Ia betul-betul malu karena mereka semua kompak menggodanya.


Chaby terus menimbang-nimbang ia bahkan tidak sadar pintu itu sudah terbuka, menampilkan tubuh jangkung dan proporsional milik Decklan yang berdiri tegak didepannya sambil bersedekap dada.


Ketika Chaby menaikkan wajah, mata mereka bertemu. Gadis tersenyum dan mengangkat sebelah tangannya ke atas.


"Hai calon suami." sapanya.


Decklan mengulum senyumnya. Ia senang dengan panggilan itu namun wajahnya kembali berubah datar. Ia sadar kalau dirinya masih kesal pada gadis itu. Sesaat kemudian Decklan langsung mengangkat tubuh Chaby,  menutup kamarnya dengan kaki dan menjatuhkan gadis itu ke atas tempat tidur besarnya.

__ADS_1


Decklan ikut duduk di tempat tidur, menatap gadis itu lekat-lekat. Chaby menelan ludah. Sudah lama mereka tidak pernah saling tatap-tatapan begitu jadi ada rasa malu dalam hatinya. Apalagi pria didepannya itu kini lebih dewasa dan makin bertambah tampan. Meski senang bisa bertemu lagi dengan kak Decklan hari ini, namun ia tetap malu karena tatapan kak Decklan sangat meresahkan baginya.


"K..kenapa kak Decklan natap aku kayak gitu?" gumam Chaby mulai gugup.


Decklan menyeringai. Siapa suruh gadis itu membuatnya kesal. Tatapannya tetap terpusat pada sosok menawan Chaby. Semua yang ada pada diri gadis itu tak pernah gagal membuatnya terpesona. Apalagi bibir yang baru siang tadi ia cicipi itu. Rasanya Decklan ingin mencumbunya lagi.


"Kamu tahu kesalahan kamu sama aku hari ini banyak banget kan? Pokoknya kamu harus aku hukum sekarang." gumam Decklan serak. Chaby menunduk sambil menaut-nautkan jarinya. Padahal menurutnya ia tidak salah apa-apa.


Decklan seketika menaikkan kedua ujung bibirnya dengan tinggi dan membuka mulutnya guna membentuk seringai. Tatapannya tidak berpaling sedikitpun dari Chaby dan malah terus mendekat.


Saat jarak diantara mereka sudah semakin menyempit, salah satu tangan Decklan pun berhasil diselipkan di pinggang Chaby. Ia lalu menarik gadis itu merapat. Tubuh mereka saling menempel dan Decklan makin merapatkan tubuh keduanya.


"K..kak D..Decklan.," gumam Chaby pelan saat Decklan menidurkannya perlahan, meniup telinga dan mengecup lehernya singkat. Ia merasa geli ketika merasakan mulut Decklan kembali menggigit kecil lehernya berkali-kali. Tanpa sadar mata Chaby tertutup dan menikmatinya. Cukup lama sampai gadis itu kembali membuka matanya setelah tidak merasa ada gerakan di lehernya lagi.


Ketika matamys terbuka, Chaby malah melihat Decklan tengah menatapnya dengan senyum lebar. Alisnya berkerut.


"Kayaknya kamu nikmatin gigitan aku." goda Decklan mencolek pipi Chaby. Chaby memalingkan wajahnya kearah lain karena malu.


"Aku kasih kamu pemanasan tadi, setelah menikah aku akan gigit bagian-bagian yang lain di tubuh kamu sayang." tambah Decklan lagi. Chaby mengerjap-ngerjabkan mata lalu cepat-cepat berdiri dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar itu saking malunya. Decklan hanya membiarkannya dan memutuskan berbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia sangat senang Ibrani berhasil menggoda Chaby dan membuatnya malu berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2