GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 65


__ADS_3

Chaby berhenti tepat didepan sebuah gedung besar yang terletak di pusat Kota Jakarta. Ia menatap lama papan nama perusahaan yang terpampang besar-besar di atas sana yang bertuliskan SK GROUP.


Chaby masih terheran-heran. Ternyata kedua kakaknya punya perusahaan sebesar ini. Ia tidak pernah tahu karena baru sekarang mendatangi kantor itu. Ia hanya tahu alamatnya dimana namun belum pernah mendatangi tempat itu secara langsung.


Gadis itu ingin meminta kakaknya untuk menemani dia membeli barang-barang perlengkapan buat di bawa waktu camping nanti. Decklan tidak bisa menemaninya karena peraturan kampus mereka yang ketat yang membuat mereka tidak bisa keluar sembarangan. Pika sendiri hari ini ada les. Terpaksa harus Chaby yang cari semua perlengkapan mereka, dan dia membutuhkan orang yang bisa menemaninya.


Chaby tahu kedua kakaknya pasti sibuk dengan pekerjaan mereka, tiap hari juga begitu. Tapi pasti ada waktunya mereka beristirahat bukan? Itu sebabnya dia datang tanpa bilang-bilang. Sekalian mau kasih kejutan.


Setelah lama berdiri Chaby memutuskan masuk. Ia berhenti di meja resepsionis dan bertanya.


Entah kenapa ia merasa sih resepsionis cantik itu menatapnya seperti keheranan.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sih resepsionis ramah.


"Aku mau ketemu kak Danzel." balasnya dengan senyum lebar.


Resepsionis itu menatap Chaby sebentar dengan alis naik turun. Ia tentu tidak tahu kalau Chaby adalah adik dari bos mereka. Danzel tidak pernah membawa Chaby ke kantor ataupun cerita tentang gadis itu. Meski begitu sih resepsionis itu tetap bersikap ramah, hanya teman di sebelahnya saja yang terus menatap Chaby dengan tatapan seperti tidak suka.


"Anda sudah membuat janji?"


Chaby menggeleng. Kan rencananya mau kasih kejutan. Entar nggak  kejutan lagi dong kalau dia kasih tahu, gimana sih.


"Maaf, tapi pak Danzel hanya bisa di temui saat anda sudah membuat janji dengannya." resepsionis itu menjelaskan lagi dengan nada bicara yang tetap ramah. Ia memang tidak bisa begitu saja membawa siapapun orang yang tidak membuat janji dengan atasannya.


Chaby memainkan bibirnya maju mundur kemudian bertanya lagi.


"Kalo kak Galen? Bilangin aja Chaby pengen ketemu. Pasti langsung datang." katanya percaya diri. Kedua resepsionis perempuan itu saling berpandangan. Sih resepsionis yang tidak ramah tadi tersenyum sinis menatap Chaby.


"Kamu budek yah? Kan teman saya sudah bilang tadi kalau atasan kami itu tidak bisa di temui sembarangan kalau tidak buat janji!" sentak resepsionis itu membuat Chaby bergidik ngeri. Ia melihat sih resepsionis yang ramah itu seperti memberi kode pada temannya dengan matanya dan kembali menatapnya kurang enak.


"Tapi... Aku rencananya pengen kasih kejutan jadi nggak bisa telpon kak Danzel sama kak Galen." ucap Chaby lagi jujur. Sih resepsionis yang jutek itu tetap tidak percaya dan sudah siap-siap memanggil satpam untuk mengusir Chaby namun Galen tiba-tiba muncul.


"Chaby?"


Galen menatap Chaby heran. Kenapa adiknya bisa ada di kantor itu? Ia mendatangi Chaby yang berdiri didepan meja resepsionis.

__ADS_1


"Kak Galeeeen." panggil Chaby manja berhambur ke pelukan Galen. Kedua resepsionis itu saling menatap penasaran. Mereka tidak pernah melihat bos mereka itu dekat dengan perempuan, apalagi gadis itu tampak sangat muda. Siapanya Galen yah. Setahu mereka Galen cuma punya satu adik cowok. Resepsionis yang bicara kasar pada Chaby tadi menjadi waspada, ia takut Galen melihat sikap kasarnya tadi dan memarahinya.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Galen mengusap-usap kepala Chaby lembut.


"Di anterin om sopir." jawab gadis itu. Galen mengernyit bingung. Setahunya mereka tidak pernah menyewa sopir buat antar jemput Chaby.


"Om sopir?" pria itu mengulang jawaban Chaby. Chaby mengangguk dengan senyuman lebar andalannya.


"Sopir taksi."


Oh.. Galen hanya menggeleng-geleng merasa perkataan Chaby yang kadang nggak jelas itu. Pandangannya beralih ke salah satu resepsionis yang bicara kasar pada Chaby tadi. Jangan kira pria itu tidak dengar. Raut wajah Galen berubah. Ia tidak suka melihat Chaby dibentak. Apalagi mereka itu resepsionis yang harusnya punya sikap ramah pada semua tamu yang datang, itukan memang pekerjaan mereka.


"Apa kalian di training dengan bersikap kasar begitu? Kalian tidak tahu kan siapa yang kalian bentak tadi?" sentaknya tajam.


"Ada apa ini?"


Danzel tiba-tiba muncul dengan beberapa orang dibelakangnya. Pasti bawahannya tentu saja. Ia sempat berhenti melangkah ketika mendengar suara tegas Galen. Tampaknya Galen sedang memarahi resepsionis mereka.


Danzel awalnya memutuskan tidak peduli namun matanya seperti menangkap seseorang yang lain seperti Chaby yang sedang berdiri di sisi Galen membelakanginya. Akhirnya ia memutuskan mendatangi mereka sebentar. Heran juga dia kenapa adiknya bisa sampai kesini.


"Eh ada kak Danzel." seru Chaby senang ketika menyadari Danzel sudah berdiri dibelakangnya. Ia mencolek-colek pria itu sampai-sampai beberapa bawahan Danzel yang bersamanya tadi berbisik-bisik heran. Apalagi Danzel malah membiarkan dirinya diperlakukan seenaknya begitu oleh perempuan.


Danzel menatap Chaby galak.


"Kesini sama siapa?"


Chaby memutar bola matanya malas. Ia tidak suka mengulang jawaban yang sama.


"Ih, udah di jawab juga masih aja nanya-nanya terus." balasnya sebal. Danzel melirik Galen.


"Sopir taksi katanya." balas pria itu mewakil Chaby. Danzel lalu meraih Chaby ke dekatnya.


"Lain kali kalau mau datang lagi bilang sama kakak biar di jemput, ngerti?" Chaby mengangguk malas.


Pandangan Danzel beralih ke para karyawannya. Ia tahu mereka penasaran dan ingin tahu siapa Chaby. Karena adiknya itu sudah ada disini, sekalian saja ia kenalkan.

__ADS_1


"Dia adalah adik kandung saya." ujar Danzel menjelaskan. Semuanya langsung mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja gadis itu bisa berbuat semaunya pada Danzel yang terkenal sangat berwibawa itu.


Danzel menatap Chaby lagi.


"Kamu sama kak Galen dulu yah, kakak mau lanjut kerja." gumamnya mengelus-elus pipi Chaby pelan, melirik Galen sebentar lalu berbalik pergi diikuti para karyawan yang bersamanya tadi.


Galen Kembali menatap dua resepsionis itu.


"Lain kali jaga sikap kalian. Itu berlaku pada semua orang, paham?"


Mereka mengangguk-angguk malu.


Galen memang di kenal lebih ramah dari Danzel, tapi kalau sudah marah pria itu tidak akan segan-segan. Lagipula memang mereka yang salah.


"Ayo ke ruangan kakak." Galen kemudian meraih tangan Chaby meninggalkan tempat itu.


Kedua resepsionis itu langsung bernafas lega.


"Kamu sih kasar begitu." tegur temannya yang ramah tadi.


"Yah mana aku tahu kalau dia adiknya bos." balas temannya yang jutek tadi.


                                ***


"Jadi kamu ke sini karena pengen di temenin beli perlengkapan camping? Mau camping di mana, sama siapa?"  tanya Galen bertubi-tubi. Posisinya berdiri dan Chaby duduk di kursi putarnya.


"Aku sama Pika mau ikutan camping sama kak Decklan." Chaby terus memainkan map di atas meja Galen.


"Berapa hari?"


"Dua."


"Ya udah, kamu tungguin kakak nggak lama disini. Setelah itu kita ke mall, oke?"


Chaby mengangguk senang.

__ADS_1


__ADS_2