
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu Decklan dan Chaby tiba.
Ornamen dinding penuh bunga. Di dominasi oleh warna pastel dengan kesan lembut. Suara alunan musik memainkan nada-nada yang indah dan romantis. Meja-meja tersusun rapi dan orang-orang mulai berdatangan. Belum lagi sebuah meja panjang yang di atasnya telah tersaji berbagai jenis hidangan yang di masak oleh koki terkenal.
Seperti itulah gambaran aula salah satu hotel bintang lima tempat pelaksanaan pernikahan Decklan dan Chaby. Semua undangan yang datang kebanyakan adalah staf rumah sakit milik keluarga Decklan dan Andra, ada juga beberapa teman dekat tante Lily, beberapa rekan kerja Danzel dan Galen juga beberapa teman kampus Decklan yang turut di undang.
Kurang dari beberapa menit lagi, prosesi pernikahan akan di mulai. Suara pembawa acara membuat para tamu segera duduk di tempat mereka dan menyaksikan prosesi nikah. Setelah lampu yang dinyalakan terang benderang menjadi redup, pintu aula dari samping mulai terbuka.
"Kita sambut mempelai pria kita, Decklan Nugraha. "
Mendengar pembawa acara memanggil nama lengkapnya, Decklan mulai berjalan memasuki aula. Iringan musik yang manis dan romantis itu mengiringi langkah Decklan yang masuk sendiri.
Setelah Decklan sampai dan berdiri didepan. Sih pembawa acara kemudian memanggil nama lengkap Chaby.
"Selanjutnya kita sambut mempelai wanita kita, Nam Sarang."
Tepat di akhir panggilan sih pembawa acara, sebuah lagu Perfect milik Ed Sheeran terdengar mengalun begitu indah di seluruh ruangan. Tak lama kemudian Chaby muncul dengan Danzel yang berjalan berdampingan disebelahnya, mengantar adik yang sangat dicintainya itu ke calon suaminya didepan sana.
Mereka melangkah masuk dengan langkah pelan, mengikuti irama musik. Semua orang menatap mereka dengan tatapan kagum. Pika dan sang mama merasa begitu terharu. Ada juga papa Decklan, Bara, Galen dan Andra yang tak berhenti-berhenti tersenyum senang. Papa Chaby tidak bisa hadir, hanya sang pengacara yang mewakili. Karrel duduk di antara para undangan lain, lelaki itu tersenyum tipis. Chaby sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang indah. Gadis itu dan lelaki yang sedang menunggunya didepan sana terlihat begitu serasi.
Rasanya baru kemarin Danzel melihat Chaby tumbuh dan sekarang ia harus rela melepaskan adiknya itu. Pria itu mencium mengelus lembut puncak kepala Chaby sebelum memberikan gadis itu pada Decklan. Decklan terlihat gugup. Ia tidak pernah segugup ini sebelumnya. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi dirinya dan Chaby. Ia akan terus mengingat hari ini.
Lelaki itu mengulurkan tangannya memegang pergelangan tangan Chaby sambil berusaha membuang nafas panjang, menghilangkan rasa gugupnya. Danzel sudah berbalik pergi setelah menyerahkan Chaby ke pria yang akan sah menjadi suaminya beberapa menit kedepan ini.
__ADS_1
Semua orang dalam aula itu bertepuk tangan gembira ketika Decklan dan Chaby selesai mengucapkan janji pernikahan mereka dan saling bertukar cincin. Suasana makin riuh saat Decklan mencium bibir Chaby dihadapan semuanya. Akhirnya setelah melewati semuanya, kini keduanya telah menjadi pasangan suami istri.
"Hai istri," bisik Decklan pelan di telinga Chaby. Gadis itu memukul lengan Decklan pelan.
"Kak Decklan jangan godain aku disini, malu tahu ada banyak orang." Chaby balas berbisik. Decklan malah tersenyum lebar.
Pernikahan mereka luar biasa mewah dan sangat indah, banyak tamu bergantian memberikan ucapan selamat kepada pasangan baru itu. Sebenarnya sih Chaby hampir tidak mengenal rata-rata undangan yang datang. Kebanyakan dari mereka adalah rekan-rekan kerja mertuanya, rekan bisnis kakaknya dan beberapa lagi teman Decklan. Makanya ketika melihat Karrel juga ada gadis itu sangat senang.
Chaby terus berbicara dengan pria itu meski ia tahu Decklan sudah memasang tampang tidak suka. Dasar tukang cemburu. Chaby rasa lelaki yang sekarang telah berstatus sebagai suaminya itu sangat kekanakan kalau sudah cemburu.
"Kak Decklan ngomong sama tamu yang lain gih, aku nggak bakal kabur kok." seru Chaby. Karrel tertawa pelan. Chaby ini bisa aja, padahal jelas-jelas ia tahu keberadaannya membuat Decklan merasa tidak senang tapi sih pengantin wanita ini masih saja santai begitu. Karrel akhirnya memilih pamit kepada Chaby daripada di pelototin terus oleh Decklan.
"Kamu udah bikin aku cemburu, malam ini terima hukuman kamu." bisik Decklan setelah Karrel tidak terlihat lagi. Chaby menatapnya ngeri lalu cepat-cepat berlari ke arah kedua kakaknya berdiri. Ia lalu berfoto-foto ria dengan mereka. Meninggalkan Decklan sendirian menyapa para tamu-tamu yang hadir.
***
bunganya dipasok oleh kenalan tante Lily, salah satu pengusaha bunga. Beberapa merupakan sumbangan dari sahabat-sahabatnya mama Decklan itu yang sangat senang dengan pernikahan anak putra sulungnya itu.
Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, Chaby duduk dengan ragu di atas ranjang. Decklan belum masuk daritadi karena masih banyak tamu di luar meskipun
waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Chaby tadi masuk duluan karena
__ADS_1
dia kelelahan sejak pesta mewah tadi, sedangkan Decklan masih harus menemani tamu-tamunya demi kesopanan. Setelah para tamu itu pulang, Danzel, Galen, keluarganya juga para sahabat dekatnya itu ikut pamit pulang. Decklan harus menahan rasa malunya ketika mamanya menggodanya dengan berbisik tentang kegiatan yang akan ia lakukan bersama Chaby malam ini di hotel itu.
Decklan akhirnya masuk ke kamar setelah semuanya sudah pergi. Ini sudah larut malam namun dirinya masih sangat bersemangat. Masih ada yang harus ia tuntaskan malam ini bersama gadis yang sudah resmi berstatus menjadi istrinya itu.
Kalau saja mereka menikah tahun lalu ketika Chaby masih SMA, Decklan akan memikirkan dua kali untuk melakukan apa yang ada di otaknya sekarang. Tapi sekarang Chaby sudah selesai sekolah, umurnya pun sudah legal untuk melakukan adegan itu. Decklan tidak mau menunda malam pertama mereka. Ia tidak sabar, kalaupun sang istri sudah ketiduran ia akan memaksanya bangun.
Chaby masih menunggu Decklan dengan duduk di tepi
ranjang, dia mendongak ketika pintu kamar terbuka lalu cepat-cepat membaringkan diri dan pura-pura tidur saat Decklan menutup pintu kamar pengantin mereka.
Sekarang jantung Chaby berdegup kencang, dia hanya berdua saja dengan pria itu sekarang. Malam ini dan seterusnya mereka adalah suami istri.
Pipi Chaby merona, membayangkan bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Chaby
bagaimanapun juga menyimpan ketakutan kalau dia akan
mengecewakan Decklan yang sudah begitu dewasa dan
berpengalaman dibanding dirinya.
Decklan melangkah pelan ke tempat tidur. Ia tersenyum pelan melihat tingkah Chaby. Ia tahu gadis itu pura-pura tidur. Keliatan sekali. Mana ada orang yang ketiduran matanya bergerak-gerak seperti itu. Tanpa aba-aba Decklan menyibak selimut yang menutupi badan Chaby dan menarik kakinya hingga gadis itu berteriak saking kagetnya.
"Hwaaa.."
__ADS_1
Decklan malah menertawai teriakan Chaby lalu duduk di tepi tempat tidur dengan wajahnya di condongkan kedepan gadis itu.
"Mau pura-pura tidur? Udah lupa kalau masih ada yang harus kita berdua lakukan malam ini, hm?"