
"Kamu aja yang buka sayang." kata Decklan mengubah posisinya menjadi duduk. Chaby ikut bangun, merapikan pakaiannya, menatap suaminya sebentar dan tertawa pelan. Wajah Decklan yang sedang kesal sangat lucu dimatanya. Siapa suruh salah tempat. Inikan memang tempat kerja, wajarlah ada yang ganggu.
Chaby lalu berdiri berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata Andra. Pria itu berdiri didepan pintu dengan senyuman lebar sambil melambai ke Chaby. Ia memang sudah tahu Chaby ada di ruangan Decklan sejak tadi. Namun keduanya sedang melakukan apa dia sama sekali tidak tahu. Tapi Andra merasa curiga karena Decklan mengunci ruangannya, padahal biasanya tidak. Bahkan ada beberapa tanda ****** di leher Ara. Meski begitu ia tetap mengetuk pintu. Biar saja mereka terganggu kalau-kalau memang lagi melakukan sesuatu didalam, ia tidak peduli. Ia malah ingin melihat wajah kesal Decklan.
"Hai kak Andra," seru Chaby balas tersenyum lebar ke Andra. Pria itu melangkah masuk dan detik itu juga bantal sofa langsung melayang ke arahnya. Tapi lemparan Decklan meleset dan malah mengenai Chaby. Membuat sang istri balik menatap dan mendelik kesal ke suaminya.
"Kak Decklaan..." geram Chaby. Sementara Decklan malah terlihat santai, ia masih terlalu kesal karena niatnya untuk menggauli sang istri tidak tersampaikan. Andra yang berdiri di dekat Chaby terkekeh. Ia barus sadar kedatangannya ternyata memang sangat mengganggu. Meski begitu ia merasa senang-senang saja.
"Jangan bilang tadi kalian berdua sedang..." Andra menatap Chaby dan Decklan bergantian. Ia sudah tahu tapi pura-pura bertanya saja karena ingin meledek Decklan. Berbeda dengan Chaby yang wajahnya berubah merah padam karena malu, Decklan malah melemparkan tatapan membunuhnya ke Andra.
"Ckckck, aku tahu kalian berdua suami istri, tapi tidak usah melakukannya di tempat kerja juga kan." kata pria itu lagi sambil berdecak. Ia sudah duduk berhadapan dengan Decklan. Chaby ikut duduk di sebelah suaminya.
"Katakan sekali lagi kalau ingin aku menghabisimu di sini sekarang juga." ancam Decklan. Andra malah tertawa. Ia sama sekali tidak takut dengan ancaman pria itu.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku. Aku hanyalah seorang pria lajang yang tidak tahu apa-apa." balas Andra meratapi dirinya sendiri.
"Kak Andra masih lajang?" tanya Chaby. Padahal ia pikir dokter seperti Andra ini punya banyak kenalan perempuan cantik. Kok bisa masih lajang? Padahal sudah sangat mapan.
Andra menganggukkan kepala menatap Chaby. Ia sesekali tertawa melihat Decklan menyandarkan kepalanya di bahu Chaby dan sesekali akan bersikap manja pada gadis itu. Tidak seperti seorang Decklan yang biasanya dingin pada orang lain. Tapi Andra tidak merasa terganggu melihat mereka seperti itu. Dulu saja waktu pasangan itu belum menikah, mereka sudah seperti itu terus. Jadi Andra tidak merasa risih lagi atau terganggu. Ia sudah biasa.
"Kalau kak Andra pengen aku kenalin sama teman perempuan aku, bisa kok Teman aku juga cantik-cantik." tawar Chaby. Tawaran itu sukses membuat Andra bernostalgia dengan masa lalu. Di mana dulu, Chaby pernah memperkenalkannya dengan seorang gadis yang... Andra tidak mau membayangkan kejadian dulu lagi. Itu kenangan yang terlalu miris baginya. Ia sudah trauma kalau Chaby yang memberikan penawaran itu.
"Oh, ya udah kalo nggak mau." balas Chaby.
"Dia bukannya nggak mau sayang, dia masih trauma sama masa lalu." ujar Decklan meledek Andra.
"Trauma?"
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan bicarakan itu lagi. Kalian sudah makan?" Andra mengalihkan pembicaraan. Chaby menggeleng kuat. Masalah makan dia termasuk salah satu penggemar makanan.
"Permisi dokter," suara dari depan pintu menghentikan pembicaraan mereka sebentar. Chaby terus melihat seorang wanita yang pakai jas dokter itu melangkah masuk. Decklan mengangkat kepalanya dari bahu Chaby ketika dokter perempuan itu menyodorkan sebuah map. Chaby sendiri merasa wanita itu menatapnya dengan tidak bersahabat. Ia dia tidak peduli. Tidak kenal juga siapa dokter itu.
"Dokter Decklan, ini adalah laporan hasil operasi salah satu pasienku." kata wanita yang ternyata Luna itu. Decklan mengangguk datar dan mengambil map warna biru itu dari tangan Luna.
"Lain kali tidak usah mengantarnya padaku secara langsung. Suruh perawat saja." kata Decklan datar seperti biasa. Luna memaksakan seulas senyum sebelum mengiyakan. Ia kembali menatap wanita yang duduk disebelah Decklan kali ini mencoba tersenyum walau hanya paksaan.
"Kalau begitu aku permisi dulu dok." katanya kemudian lalu berbalik pergi.
"Jadi mau makan dimana?" seru Chaby setelah melihat wanita yang datang tadi sudah pergi. Andra menatap Ara.
"Ikut aku dan suamimu saja. Nanti kamu bakal tahu." sahut Andra. Chaby hanya manggut-manggut mengerti.
__ADS_1