GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 39


__ADS_3

"Jadi kakak-kakak sekalian pengen ngajakin aku sama Chaby ke pestanya sih ratu drama itu?"


Pika menatap bergantian ketiga pria di depannya itu dengan raut wajah enggan. Mereka sekarang lagi berada di cafe dekat sekolah. Andra yang mengajak dua cewek itu meski Decklan yang punya keperluan sama mereka.


Andra merasa lucu pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah seperti asistennya Decklan saja. Mungkin suatu hari nanti kalau Decklan jadi CEO dia yang bakalan jadi sekretarisnya. Tidak, tidak. Ia menggeleng kuat. Decklan sama sekali tidak punya minat untuk bekerja di perusahaan.


Balik ke Pika.


Cewek itu masih tidak habis pikir kenapa ia dan Chaby harus ikut ke pesta sih Nana Nana  itu, males banget. Mereka kan bukan kelas dua belas.. Apalagi Nana itu nggak suka banget sama mereka. Dia sendiri juga sama. Jadi, nggak ada salahnya kan menolak.


"Nggak deh, aku nggak mau pergi." tolak cewek itu tanpa pikir panjang.


"Lagian sih Nana Nana itu kayaknya nggak bakalan seneng liat kita juga." tambahnya yakin. Yakin sekali malah.


"Lo harus pergi."


Kalimat datar yang terdengar penuh penekanan itu membuat Pika menatap Decklan. Ia memutar bola matanya malas. Nih orang kenapa lagi sih. Mau ngajakin orang ke pesta tapi nadanya malah seperti mau nodong kayak pencopet yang selalu bilang harta atau nyawa.


Cewek itu menghembuskan nafas kasar lalu berdiri berkacak pinggang menghadap kakaknya. Mereka semua fokus menatapnya, hanya Chaby yang sibuk menikmati kentang gorengnya sambil menjadi penonton yang tidak mengerti apa-apa. Ia memang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan sejak tadi.


"Denger yah kak Decklan yang kakak aku yang ganteng tapi jutek, aku tuh males pergi ke pesta cewek sirik itu."


Oh jadi mereka lagi ngomongin pesta. Chaby baru mengerti setelah mendengar perkataan Pika.


Fokusnya kembali ke kentang goreng di depannya. Biarin aja mereka sibuk dengan pembicaraan mereka dan dia sibuk makan. Jarang-jarang kan di traktir kakak kelas begini. Ia nggak sadar ke empat makhluk yang juga duduk di meja yang sama dengannya itu sedang menatapnya takjub.


Decklan ingin tersenyum tapi di tahannya. Ia kembali menatap Pika, urusan mereka harus dituntaskan dulu. Terpaksa ia harus menyogok cewek itu dengan barang-barang kesukaannya.


"Gue beliin semua alat lukis keluaran terbaru yang lo mau." katanya langsung.


Alat lukis?


Pika terdiam sebentar menatap kakaknya itu kemudian bersorak senang dan langsung mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Decklan tersenyum remeh menatap cewek itu. Tuhkan, ia tahu sekali adiknya itu gampang banget di sogok sama barang kesukaannya.


"Kak Decklan?"


Pandangan cowok itu turun ke cewek manis disebelahnya yang semenjak tadi hanya sibuk makan sibuk. Meski begitu ia masih bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa hm?" balasnya lembut. Pika menatap cowok itu rese. Giliran ngomong sama Chaby aja tuh cowok jadi lembut banget kayak gitu. Hmph.


"Kalo aku ikut ke pesta, aku bakal di beliin hadiah juga kan kayak Pika?"


Pertanyaan polos itu kontan membuat mereka semua tertawa. Pika yang tadinya merasa jengkel tersenyum lebar bahkan Andra sampai mencubit gemas pipi tembem Chaby.


Decklan mengacak-acak rambut cewek itu pelan lalu membersihkan sisa-sisa makanan di tepi bibirnya.


"Kamu bilang aja pengen apa nanti aku beliin." ucap cowok itu lembut. Ia tidak peduli lagi kalau teman-temannya meledeknya bucin atau apalah. Kenyataannya sekarang ia memang senang memperlakukan gadis itu dengan lembut seperti itu.


"Yeah!" seru Chaby melompat girang.


Kebahagiaannya menular pada ke empat orang di meja itu.


"Chaby, umur lo berapa sih?"


Chaby menatap Andra. Entah kenapa cowok itu jadi penasaran mau menanyakan umur tuh cewek. Mungkin saja kan ia belum cukup umur dan sudah maksa masuk SMA. Sifat dan tingkahnya saja kekanak-kanakan begitu. Mereka semua menatap gadis itu, ingin tahu juga.


Chaby tampak mengingat-ingat


"Lima belas apa enam belas yah? aku  lupa."


Prang


Astaga. Umur sendiri bahkan sampai lupa?


"Ya ampun Chaby, masa lo nggak ingat umur lo sendiri sih."

__ADS_1


Chaby tersenyum lebar menatap Pika.


"Yah kan ulang tahun setahun sekali Pik, wajar dong lupa." balasnya enteng.


Andra langsung pecah tertawa. Ia tak menyangka pertanyaan tentang umur tuh cewek bakal berujung ke jawaban konyol itu. Pika sampai habis berkata-kata nggak tahu apa lagi yang ingin ia katakan. Hebat, Chaby sangat hebat. Ia bertepuk tangan kagum.


"Lan, kayaknya lo harus ajarin dia biar pinter." ucap Andra menepuk bahu Decklan. Cowok itu hanya tersenyum tipis tidak memindahkan pandangannya dari Chaby.


"Pika!"


Mereka semua sama-sama menoleh kearah panggilan itu. Di depan sana sudah berdiri seorang cewek berambut pendek sedang menatap mereka semua bergantian tapi hanya memanggil Pika.


"Laras." balas Pika. Laras adalah teman yang sama-sama ikut les melukis dengannya. Tapi mereka tidak dekat.


Setahunya Laras itu sombong dan suka pilih-pilih teman. Pasti ia menyapanya hari ini karena melihat dirinya sedang bersama cowok-cowok keren. Buktinya sejak tadi matanya tak beralih dari ketiga cowok yang duduk bersamanya itu. Pika mencibir.


Jelas banget pengen caper.


"Lo sama siapa?"


Lihatkan? Pika paling malas dengan cewek model begitu. Kalau ada maunya doang baru sok dekat. Namun sebelum ia menjawab, Chaby sudah lebih dulu memotong.


"Pik, anterin aku ke depan yuk kak Danzel udah jemput."


Pika tersenyum puas. Tanpa sengaja Chaby sudah menolongnya. Ia nggak perlu berhadapan dengan cewek sombong itu lagi.


"Sorry Ras, tapi gue udah harus pergi." ucapnya menatap Laras.


"Eh? Y..ya udah." Laras tersenyum paksa. Padahal ia belum sempat di kenalin sama cowok-cowok ganteng itu.


"Kakak-kakak sekalian masih pengen disini atau mau anterin Chaby bareng?" Pika menatap ketiga cowok itu bergantian. Ia tidak mau Laras mengambil kesempatan mendekati mereka saat ia pergi. Ia nggak mau Laras mendekati mereka makanya ia cari alasan. Pasti mereka bakal milih anterin Chaby.


"Ke depan bareng aja." kata Decklan memutuskan lalu berjalan duluan dengan menarik pelan lengan Chaby. Bara dan Andra hanya ikut-ikut saja.

__ADS_1


"Laras, kita duluan yah." pamit Pika dengan senyum penuh kemenangan. Lihat wajah cewek itu sekarang. Huh, ia senang sekali.


__ADS_2