GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 102


__ADS_3

Satu tahun kemudian


Sudah satu tahun berjalan. Chaby dan Pika telah lulus SMA dua bulan lalu. Kini keduanya tengah sibuk dengan persiapan mereka masuk universitas. Keduanya akan mulai menjalani kehidupan baru mereka sebagai mahasiswa.


Tahun lalu, dua bulan setelah Decklan ke London, Chaby baru balik ke Jakarta. Kondisi papanya sudah membaik dan hubungan mereka makin dekat. Sebenarnya waktu itu papanya ingin dia tetap di Seoul, namun Chaby lebih memilih balik ke Indonesia karena semua orang-orang yang ia sayangi ada di sana. Kak Danzel pun harus segera balik ke Jakarta untuk mengurus perusahaan yang ia bangun bersama kak Galen. Jadi, keduanya memutuskan balik ke Jakarta. Meski begitu, mereka sesekali akan terbang ke Seoul untuk sekedar menjenguk sang papa.


Selama setahun ini, Chaby dan Decklan sering sekali bicara lewat video call, mereka saling menahan rindu untuk bertemu secara langsung. Decklan mati-matian menahan keinginannya terbang ke Jakarta untuk menemui Chaby. Kuliahnya di Cambridge sangat padat namun ia selalu menyempatkan diri menelpon sang pacar di sela-sela kesibukannya, karena itu ia sangat rindu. Andai saja jarak tempat Chaby tinggal dan Inggris hanya bisa di tempuh dengan mobil, tiap hari dirinya akan bolak-balik menemui sang kekasih. 


Decklan pikir akan ada hari libur yang membuatnya bisa terbang ke Jakarta selama beberapa hari, sayangnya hari libur mereka malah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pihak kampusnya yang mewajibkan mereka menjadi dokter relawan di daerah-daerah kecil dekat kota itu. Decklan harus mengubur keinginannya untuk pulang walau hanya beberapa hari.


Pria itu mati-matian menahan diri supaya tidak terus teringat pulang dengan belajar keras memfokuskan dirinya untuk cepat selesai kuliah. Makanya dia banyak mengambil mata kuliah semester atas dengan alasan biar bisa cepat-cepat wisuda dan langsung pulang ke Indonesia. Ia juga jarang sekali kumpul dengan teman-teman kampusnya di Cambridge karena menurutnya itu hanya akan membuang-buang waktunya. Lebih baik fokus belajar. Padahal pria itu cukup populer semenjak masuk kampus itu. Pesonanya membuat banyak cewek-cewek bule yang mencoba-coba mendekatinya. Sayangnya, hati Decklan sudah seperti mati rasa pada perempuan lain. Hatinya sepenuhnya sudah menjadi milik Chaby.


Ia memang mengakui kalau mereka itu perempuan-perempuan yang cantik, tapi ia sepenuhnya hanya menganggap mereka teman, tidak lebih. Ia bahkan cenderung bersikap dingin dan tegas jika ada yang terus-terusan mendekatinya secara berlebihan.


Di Jakarta, Chaby dan Pika telah siap-siap berangkat ke kampus. Mereka masuk di kampus yang sama tapi mengambil jurusan yang berbeda. Pika ambil jurusan DKV (Jesain Komunikasi Visual), sedang Chaby malah ambil jurusan musik. Pika sampai sekarang masih terheran-terheran dengan sahabatnya itu. Kok bisa dia ambil jurusan musik padahal tidak ada bakatnya sama sekali dalam bidang itu. Yang lebih anehnya lagi, gadis itu malah lulus seleksi. Padahal kampus yang mereka masuk itu termasuk salah satu kampus terkenal yang menyeleksi mahasiswa baru masuk dengan ketat. Sampai sekarang ia masih bingung apa yang dilakukan Chaby pada waktu ujian hingga gadis itu bisa di terima di jurusan itu. Chaby betul-betul beruntung.

__ADS_1


"Chaby, cepetan napa sih! Lo mau kita kena hukum senior-senior galak itu kalo telat." celetuk Pika. Semalam Chaby nginap di rumahnya biar bisa berangkat kampus bareng-bareng. Ia tidur di kamarnya kak Decklan. Daripada kamar itu kosong, mending ada yang ngisi selama pemiliknya lagi nggak ada. Kak Decklan memang paling benci kamarnya ditiduri orang lain, tapi karena itu Chaby, beda ceritanya pasti. Tuh cowok malah kesenangan.


Decklan sudah tahu hari ini adalah hari pertama mereka kuliah, semalam pria itu menelpon. Perbedaan dan waktu negara mereka kira-kira enam jam jadi kalau Decklan telponnya sore, di Jakarta tentu saja sudah malam. Ketika bicara ditelpon semalam, Decklan terus-terusan memperingatkan Chaby.


Chaby selalu terkikik sendiri mengingat sang pacar mengancamnya supaya tidak melirik cowok lain. Katanya dia akan dapat hukuman berat kalau kedapatan melirik cowok lain. Dasar kak Decklan, pria itu tidak tahu apa betapa malunya Chaby saat dirinya meminta maaf pada Karrel ketika bertemu beberapa bulan lalu. Dia ingat gimana kekasihnya itu menonjok Karrel yang nggak ada salah apa-apa dulu. Untung Karrel orangnya baik dan dewasa, jadi dengan cepat ia langsung memaafkan.


"Chaby!" teriakan dari bawah membuat Chaby mempercepat langkahnya turun tangga.


"Iya bentar, ini lagi turun." balas Chaby malas. Heran deh, padahal ini masih pagi banget dan mereka masih punya banyak waktu, nggak mungkin bakal terlambat. Tapi Pika ngotot banget mau cepat-cepat pergi ke kampus. Bilang aja kalau dia nggak mau kak Bara yang udah jemput didepan nunggu lama. Yah, kak Bara yang sekarang sudah naik level jadi pacarnya Pika itu sudah setia menunggu didepan buat nganterin mereka ke kampus. Chaby baru tahu mereka udah jadian waktu balik ke Jakarta. Keduanya juga sering bikin dia dan Andra kesal kalau lagi mereka ngumpul. Kesannya tuh nih dunia milik mereka berdua, yang lain ngekos.


"Lagian kita nggak bakal terlambat kali Pik," balas Chaby sebal.


"Ia tapi kan kita itu..."


"Udah nggak ada yang ketinggalan?"  tanya Bara memotong perkataan Pika. Tangan pria itu setia memegang kemudi.

__ADS_1


"Nggak ada kak." jawab Pika. Pandangan Bara berpindah ke bagian tengah, menetap Chaby dari kaca spion dalam mobilnya.


"Chaby, yakin nggak ada yang ketinggalan kan?" tanyanya. Setelah melihat gadis itu menggeleng Bara siap-siap melajukan mobil hitamnya meninggalkan rumah Pika.


Sepanjang perjalanan Chaby terus mengoceh melihat Pika dan Bara yang  terus beradegan mesra didepannya. Kalau begitu teruskan, ia jadi kangen kak Decklan, gimana dong.


"Kenapa tuh muka? Cemberut amat."


ledek Pika. Bara ikut tertawa pelan. Saking menikmati waktunya bersama Pika, ia malah lupa masih ada Chaby dalam mobil itu.


"Bisa nggak, kalo mesra-mesraan di tempat lain aja?" ketus Chaby. Pika tertawa.


"Lo baru rasa kan gimana nggak enaknya liat orang pacaran didepan kita? Lo sama kak Decklan gitu juga kan dulu, kalian bahkan lebih parah. Makanya, kalo nggak mau liat aku sama kak Bara mesra-mesraan, lo susul kak Decklan gih ke Inggris."


"Cih." cibir Chaby lalu membuang muka ke arah luar. Ia jadi memikirkan perkataan Pika tadi. Benar juga sih, apa dia susul kak Decklan saja? Gadis itu buru-buru membuang pikirannya jauh-jauh. Nggak usah. Tunggu kak Decklan balik aja deh. Lagian ia punya teman yang sama-sama jadi nyamuk kalau lagi ngumpul bareng Pika dan kak Bara. Siapa lagi kalau bukan kak Andra. Kak Andra sih nggak mau sama Dina, makanya sampe sekarang menjomblo terus. 

__ADS_1


__ADS_2