GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 50


__ADS_3

"APPA!" Chaby berseru gembira melihat papanya yang tengah berdiri didepan sana ketika mereka sampai di rumah yang sudah lama sekali tidak ia datangi itu. Rumah masa kecilnya. Rumah itu masih sama. Walau kehangatannya berbeda dengan rumahnya kak Decklan, tapi Chaby tetap senang. Ia datang ke kampung halamannya ini karena ingin bertemu papanya. Melihat keadaan laki-laki paruh baya itu. Chaby senang papanya kelihatan sehat.


"Appa, kau sudah jauh lebih tua sekarang." ucap gadis itu setelah melepaskan pelukannya. Papanya tertawa pelan. Pria tua itu masih lengkap dengan baju kantornya. Dari kantor ia langsung pulang karena mau menyambut sang putri.


Pandangan lelaki paruh baya itu berpindah ke Decklan dan anak kecil yang tertidur dalam pelukan pria itu. Cucunya. Sayang sekali bocah itu ketiduran, padahal dia ingin menggendongnya. Pria tua itu pernah melihat foto pernikahan Chaby dan Decklan. Dan ia masih ingat wajah Dekclan. Decklan sendiri membungkuk hormat pada papa Chaby.


Ini pertama kalinya Decklan bertemu langsung dengan lelaki tua itu. Ternyata pembawaannya sangat berwibawa dan terlihat tegas. Jauh sekali perbedaannya jika dibandingkan dengan Chaby. Lebih mirip Danzel. Waktu ia dan Chaby menikah, papanya tidak datang karena waktu itu kondisi tubuhnya belum memungkinkan untuk berjalan jauh.


Mereka masuk ke dalam rumah itu saling melepas rindu antara putri dan ayahnya, berbincang-bincang lama lalu masuk tidur karena Chaby dan Decklan sudah capek seharian ini. Besok Ju wan akan membawa mereka berkeliling tempat-tempat wisata yang ada di Kota itu.


                                 ***


Di Jakarta,


Pika bergerak gelisah dalam kamarnya. Sudah tiga hari ini ia mencoba menelpon Bara, tapi tidak masuk-masuk. Iya yakin nomornya telah diblokir oleh pria itu. Pasti Bara masih marah besar dan tidak ingin melihatnya. Pika menunduk sedih. Sudah berhari-hari dia dicuekin terus. Padahal dia mau minta maaf.


Ia merasa hubungannya dengan pria itu sekarang tidak jelas. Tiga hari ini dia juga selalu datang kekantornya kak Danzel untuk menemui Bara. Namun tidak pernah ketemu. Karyawan di sana bilang pria itu sibuk meeting dengan kliennya. Entah benar, atau memang Bara sengaja mau menghindarinya.


Apa kak Bara ingin putus dengannya? Kalau memang begitu temui saja dia dan bilang secara langsung. Pika sudah siap. Ia sadar dirinya bersalah. Ini adalah kesalahan paling fatal yang dia lakukan selama mereka pacaran. Kalau pun kak Bara ingin putus, ia akan terima. Pria itu mungkin lebih cocok bersama dengan perempuan yang jauh lebih baik darinya. Yang bisa lebih memahami laki-laki itu.


Tapi, memikirkan hal itu membuat Pika merasa dirinya tidak sedang baik-baik saja. Ia merasa sesak. Jujur ia tidak mau putus. Kak Bara adalah sosok yang paling memahaminya. Apa dia tidak pantas berharap? Apa hubungan mereka selama bertahun-tahun ini akan berakhir begitu saja? Apakah cinta mereka tidak pantas diperjuangkan?


Pika terus berpikir lalu melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, mungkin kak Bara ada dirumahnya. Gadis itu cepat-cepat memesan taksi online kemudian bangkit dari ranjang dan keluar rumah. Ia tidak mau menunggu sampai Bara siap bicara dengannya lagi. Ia ingin bertemu pria itu dan membuat semuanya menjadi jelas. Apapun keputusan Bara, ia sudah pasrah. Dalam hati ia berdoa semoga pria itu ada dirumahnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rumah Bara, entah kenapa ia merasa taksi yang ia tumpangi berjalan sangat lama. Padahal ia sudah tidak sabar bertemu dengan Bara.


"Pak, bisa cepat dikit nggak jalannya?" pintanya menatap pak sopir sambil meremas kuat ponselnya.


"Aduh non, ini udah malem. Nggak baik kebut-kebutan." balas sih sopir.


"Tapi saya pengen ketemu orang secepatnya pak. Penting banget." kata Pika lagi tidak sabaran.


"Sabar yah non. Bentar lagi sampai kok." mau tau mau Pika harus bersabar. Ia masih membutuhkan sekitar sepuluh menit baru sampai di rumah Bara.


Gadis itu langsung berlari keluar mobil dan masuk begitu saja saat melihat gerbang rumah Bara terbuka. Ia mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama pria itu. Tak perlu waktu lama pintu itu lalu terbuka, menampilkan seorang pria tinggi yang tampan namun sayangnya bukan pria yang dia cari.


"Pika?" Galen berdiri didepan pintu masuk rumah sambil menatap keseluruhan penampilan Pika. Gadis itu masih pakai baju tidur dan sandal rumah. Tentu saja Galen heran. Kenapa malam-malam begini Pika datang ke rumah mereka dengan penampilan seperti itu? Apa terjadi sesuatu antara gadis itu dan Bara. Ah, pantas saja beberapa hari ini Galen merasa Bara sedang banyak pikiran dan terlihat kacau.


"Masuk dulu." ucap Galen sebelum menjawab Pika. Ia merasa kasihan melihat penampilan gadis itu. Sebenarnya apa yang dilakukan Bara sih.


Pika duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian Galen kembali dengan segelas air mineral


"Minum dulu."


Pika mengambil gelas yang disodorkan Galen dan meminum air mineral itu. Mulutnya memang sudah terasa kering sejak tadi.


"Bara belum pulang." kata Galen menjawab pertanyaan Pika tadi. Pika meletakkan gelas bekas minumnya di meja lalu menaikkan wajahnya menatap Galen.

__ADS_1


"Belum pulang? Kak Bara masih kerja?" seingat Pika biasanya jam begini pria itu tidak kerja lagi. Karena dari jam enam sore biasanya dia sudah dijemput oleh Bara untuk menghabiskan waktu bersama. Kecuali kalau mereka sama-sama sedang lembur.


"Dia bilang mau mampir ke suatu tempat. Kalian ada masalah?"


Pika tidak menjawab, hanya memaksakan seulas senyum. Namun bagi Galen, ekspresi gadis itu sudah menjawab pertanyaannya. Ia menarik nafas dan menyentuh bahu Pika.


"Jangan terlalu sedih. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.  Bara pasti pulang sebentar lagi. Kamu bisa menunggu dikamarnya." gumam Galen mencoba menghibur. Pika menimbang-nimbang mau menunggu atau pulang saja, akhirnya ia memutuskan menunggu.


Gadis itu mengikuti Galen ke kamar Bara.


"Kamu tunggu di sini saja sambil beristirahat." ucap Galen. Pika mengangguk dan tersenyum kecil pada pria itu.


"Oh ya, tidak apa-apa kan kalau kau tinggal sendiri di sini?" tanya pria itu sebelum berbalik pergi.


"Kak Galen mau keluar?" pria itu mengangguk.


"Mungkin Bara tidak bilang. Mama kami sedang rawat jalan di rumah sakit beberapa hari ini. Aku harus balik secepatnya ke sana." jelas Galen. Ia balik ke rumah karena mau mengambil beberapa barang mamanya dan harus kembali lagi secepatnya.


Tentu saja perkataan Galen membangkitkan kembali rasa bersalah Pika. Tapi dia tetap berusaha tersenyum didepan Galen.


"Kalau kamu takut,"


"Nggak apa-apa kak, aku bisa sendiri kok. Kak Galen pergi saja." potong Pika cepat. Galen mengangguk lalu pamit keluar. Tak lama setelah kepergian Galen, seseorang masuk ke kamar itu. Siapa lagi kalau bukan pemilik kamar. Keadaannya terlihat begitu kacau.

__ADS_1


Dia mabuk?


__ADS_2