
"Hei, kamu belum jawab aku kenapa kesini?" Bara ulang bertanya karena Pika hanya bengong ditempatnya.
Pika tersadar dari lamunannya dan kembali menatap Bara.
"Ah, a..aku pengen ngambil barang aku yang ketinggalan kemaren." sahutnya. Ia masih memikirkan penampilannya hari ini yang jauh banget dari kata oke. Pokoknya kalau ada alasan ia ingin sekali membatalkan janji mereka hari ini sayangnya ia tidak tahu mau beralasan apa.
"Barang apa? Perlu aku temani keatas?"
"Tidak,tidak." Pika buru-buru melambai-lambai ke udara.
"Hanya benda kecil, kak Bara tunggu disini aja yah, aku naik sebentar." lanjut gadis itu. Ia cepat-cepat masuk ke gedung besar itu meninggalkan Bara yang terus menatapnya dari belakang. Sesekali cowok itu tersenyum.
Bara menatap gedung besar itu dengan saksama. Gedung yang bagus dan terkesan cukup mewah, sayangnya lokasinya menurutnya tidak begitu strategis karena harus melewati gang kecil dan tidak bisa dimasuki kendaraan seperti mobil. Bagaimana kalau Pika datang malam-malam kesitu dan bertemu dengan orang jahat? Tadi saja gadis itu sudah ketakutan setengah mati saat mengira ada yang mengikutinya dari belakang.
Bara terus-terusan mengamati bangunan itu sampai gadis yang sejak tadi di tunggunya muncul.
"Udah?" tanyanya ketika Pika berdiri didepannya. Gadis itu mengangguk. Mereka lalu berjalan berdampingan melewati jalanan kecil tadi.
Pika merasa canggung. Ia mendadak bingung bagaimana caranya membuka obrolan, tidak tahu mau membahas apa. Sesekali ia tersenyum saat Bara menatapnya. Tenang Pika, tenang. Jangan gugup. Ia bersungut dalam hati karena masih cukup panjang mereka akan berjalan sampai ke jalan besar dan dia tidak ada bahan obrolan.
"Kenapa milih les di daerah sini?" akhirnya Bara yang lebih dulu memulai obrolan.
"Dulu teman SMP aku ngajakin, awalnya iseng aja ikutan les disini tapi lama-lama aku mulai terbiasa. Lagian aku jarang banget olahraga jadi kalo datang kesini anggap aja aku udah berolahraga karena harus jalan kaki sampai ke dalam." jawabnya panjang lebar. Ia tidak menangkap ekspresi kurang setuju di mata Bara.
__ADS_1
"Jangan dateng kesini sendirian kalau malam." ujar Bara. Nadanya terdengar seperti memerintah. Alis Pika terangkat.
"Kenapa?" tanyanya agak bingung. Selama ini dirinya memang jarang sekali datang malam. Tapi kadang kalau mulai lesnya sore banget, pulangnya pasti kemalaman. Itu sudah biasa baginya. Lagipula ia juga pulang bareng teman-temannya. Dan mereka cukup banyak, jadi tidak perlu ada yang ditakuti.
"Daerah sini sepi, aku nggak mau kamu kenapa-napa." imbuh Bara serius. Pika melirik cowok itu sekilas. Keseriusan Bara bisa ditangkap oleh matanya. Pika merasa wajahnya menjadi panas, rasa malu sekaligus senang memenuhi dirinya. Ternyata diberikan perhatian oleh seseorang rasanya seperti ini. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana, tapi yang pasti ia sangat senang dan merasa berbunga-bunga.
"Lain kali kalau mau datang kesini malam-malam, telpon aku. Aku akan mengantar-jemput kamu." tambah Bara lagi. Ia sangat serius dengan perkataannya. Lelaki itu tidak mau menyesal kalau terjadi sesuatu pada gadis yang disukainya itu. Pika mengangguk canggung.
Kini mereka sudah mencapai jalan besar. Pika mengikuti Bara ke tempat mobil cowok itu di parkir. Mereka tidak saling bicara beberapa saat. Hanya ada keheningan dalam mobil. Bara sangat fokus saat mengemudi, matanya terus menatap ke depan. Bahkan tak ada musik yang diputar yang bisa memecah keheningan selama perjalanan.
Pika menghela nafas, lama-lama ia bisa mati karena kecanggungan dan kebosanan ini. Hari ini Bara sukses membuatnya berbunga-bunga juga bosan setengah mati. Ia adalah tipikal gadis yang tidak bisa diam sebentar saja, meski begitu ia mencoba memakhlumi Bara karena cowok itu memang terbiasa tenang. Bisa mendengar dia bicara beberapa kalimat saja sudah membuat banyak orang takjub. Dan Pika harusnya merasa senang karena akhir-akhir ini cowok itu seperti lebih banya berbicara padanya. Entah maksud kak Bara mengajaknya jalan itu apa, tapi ia jujur menikmati waktu mereka bersama.
***
Andra menatap Decklan yang terlihat biasa saja. Chaby asyik duduk di kursi gantung. Sekarang ini mereka bertiga sedang berkumpul di ruang santai outdoor yang berada di tengah-tengah taman rumah Andra.
Andra menanyakan Bara dan Pika karena keduanya tidak terlihat dan sekarang ia mendengar dari mulut Decklan sendiri yang mengatakan kalau mereka lagi jalan berdua. Sejak kapan Bara menyukai Pika? Ia sama sekali tidak sadar.
"Kak Andra cepetan cari cewek makanya. Kalo nanti kak Bara sama Pika jadian, kasian kak Andra dong bakalan jadi nyamuk." ucap Chaby meski niatnya bukan meledek namun Andra tetap merasa dongkol mendengarnya, ngomongnya suka bener. Ia mendelik ke Chaby, sementara Decklan yang setia duduk di kursi lesehan menertawainya.
"Bukannya lo lagi pedekate sama cewek?" tanya Decklan. Andra menoleh kesamping
"Kata siapa?"
__ADS_1
"Hugo." Decklan ingat kemaren Hugo pernah ngomong tentang cewek yang lagi dekat dengan Andra.
Andra tertawa remeh.
"Matre banget tuh cewek, bikin diri kayak ratu. Pas gue dapat gebetan baru, pinter tapi kelakuannya lebih parah lagi. Mending gue pacarin cewek kayak Chaby yang polosnya kemana-kemana tapi nggak aneh-aneh dan bisa diatur." kata-katanya mengalir begitu saja. Ia tidak lihat tatapan Decklan padanya sekarang seperti apa.
"Maksud lo apa?" Decklan memicingkan matanya tajam.
Andra terkekeh.
"Gue umpamain doang elah, itu aja." sahut Andra. Ia melirik ke Chaby dengan tatapan memberi isyarat supaya gadis itu membujuk Decklan. Kalau cowok itu sedang marah, atau apapun itu, hanya Chaby yang bisa membujuk sang pacar. Chaby mengangguk lalu turun dari kursi gantungnya berjalan ke Decklan.
"Kak Decklan capek nggak? Aku pijitin yah." kata Chaby mulai memijit-mijit bahu Decklan. Sementara sang pacar masih menatap Andra kesal, sekalipun hanya dijadikan contoh, ia tidak mau. Enak saja, gadis itu hanya miliknya seorang.
"Kak Andra? Mau aku kenalin nggak ke temennya aku? Orangnya cantik, baik, pinter juga." Chaby mencoba menawarkan. Mungkin saja kak Andra setuju.
"Matre nggak? soalnya aku anti sama cewek matre dan sok ngatur-ngatur." tanya Andra. Chaby terlihat berpikir.
"Kayaknya nggak deh. Nanti kalo kita mau ngumpul bareng lagi aku ajakin, biar kak Andra liat sendiri orangnya gimana?"
"Serah lo aja deh." balas Andra malas. Ia lalu tidur-tiduran di kursi lantai yang empuk itu dan tanpa sadar malah ketiduran.
Decklan menarik Chaby yang sejak tadi masih setia memijit bahunya, membuat gadis itu duduk bersandar padanya, menikmati waktu mereka bersama. Ternyata rumah Andra sangat sejuk sore-sore begini, apalagi ditemani sang kekasih yang amat dicintainya itu.
__ADS_1