
Chaby menjerit-jerit seperti orang gila memukul tubuh Danzel, berharap pria itu akan bangun kalau ia melakukan hal itu. Sementara wanita yang menembak tadi malah terus tertawa kencang entah merasa puas atau memang sudah gila.
Hampir setengah jam berlalu dan jalanan itu mulai ramai. Terdengar mobil polisi yang datang. Mereka langsung meringkus wanita yang mereka lihat sedang memegang pistol itu. Tak ada perlawanan dari wanita itu, ia malah terus tertawa.
Waktu kejadian itu seorang siswi yang kebetulan mau keluar tanpa sengaja melihat kejadian itu dari jauh dan dengan panik cepat-cepat menelpon polisi, entah siapa dia. Siswi itu juga berinisiatif menelpon ambulance, namun tampaknya sudah terlambat. Ia hanya meratap mereka dari jauh merasa kasihan.
Danzel sudah tidak bergerak lagi. Mau bagaimanapun Chaby memohon, Galen tahu sahabatnya itu sudah tidak ada. Ia menangis dalam diam. Mereka sudah dikerumuni oleh orang-orang yang entah sejak kapan telah berada disitu.
"Kak Galen, ayo bawa kak Danzel ke rumah sakit. Aku tahu kakak masih hidup, tolong aku kak Galen, hm?"
Chaby terus menarik-narik lengan Galen menjerit meminta tolong tapi pria itu hanya diam. Ia menatap gadis itu.
"Chaby, kamu harus siap." gumamnya dengan nafas tercekat. Susah sekali mengatakan kalimat itu. Chaby makin menjerit dan memukul-mukulnya sekuat mungkin.
"Nggak, nggak!" pandangannya berpindah ke Danzel.
"Kak Danzel, ayo bangun. Chaby janji bakalan minum obat, gak makan sembarangan dan patuh sama kakak, hm? Kak Danzel.. kakaak." gadis itu memohon-mohon sambil memeluk tubuh Danzel dan menangis sekuat mungkin. Segalanya terjadi begitu cepat didepan matanya.
***
Bara berlari menerobos kerumunan melihat keadaan Danzel. Ya Tuhan, ada apa dengan hari ini, semuanya tampak seperti mimpi dan terjadi hanya dalam sekejap mata.
Pandangannya turun ke Galen yang hanya terdiam seperti orang bodoh. Pandangan pria itu lurus ke Danzel namun tatapannya kosong seperti orang linglung. Bara lalu menatap Chaby yang terus menjerit sejadi-jadinya. Hatinya ikut tersentuh. Gadis malang itu, ia menatap Galen lagi.
"Bang." gumamnya pelan. Galen yang seolah tersadar akan panggilan itu menaikkan wajah menatap Bara. Setelah itu ia melihat banyak orang sudah berkerumun mengelilingi mereka. Ia mencoba berdiri dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Lo temenin Chaby, gue urus pemakamannya." ucapnya mengambil keputusan.
Mendengar hal itu Chaby semakin menjadi-jadi. Ia berteriak-teriak histeris memukul tubuh Galen. Tidak mau, ia tidak mau. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa kakaknya. Bara cepat-cepat menarik gadis itu membawanya ke dalam pelukan, mencoba menenangkannya. Chaby yang masih tidak siap memekik kuat dan terus meronta-ronta seperti orang gila membuat Bara merasa kewalahan. Tak lama setelah itu gadis itu jatuh pingsan dalam pelukan Bara. Tenaganya sudah terkuras habis.
***
Di rumah sakit, Decklan terus berjalan bolak-balik didepan kamar operasi. Sorot matanya begitu cemas.
Andra berdiri tak jauh dari situ, sama-sama menunggu Pika yang sedang di operasi.
Pikiran Andra melayang-layang kemana-mana. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Chaby dan kakaknya. Ia masih ingat jelas bunyi tembakan tadi dan ingin tahu peluru itu mengarah kemana dan mengenai siapa. Ia berharap Chaby dan kakaknya baik-baik saja.
Hampir empat jam mereka menunggu. Tante Lily, papa Decklan dan adiknya Gatan sudah berkumpul di tempat itu. Mereka semua syok saat mendengar Pika kecelakaan mobil. Tante Lily tidak berhenti-berhenti menangis dalam pelukan suaminya. Gatan yang masih kecil ikut menangis kencang. Andralah yang menghibur bocah itu karena ia tahu Decklan tidak bisa.
Seragam Decklan penuh dengan noda darah namun ia tidak peduli. Ia ingin memastikan keadaan Pika.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya ruang operasi itu terbuka dan menampilkan seorang dokter laki-laki yang keluar dari dalam ruangan. Raut wajahnya kelihatan serius.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Tante Lily.
Sang dokter menatap wanita paruh baya itu.
"Begini, anak kalian mengalami cedera para pada otaknya akibat kecelakaan. Saat ini dia tidak mati, juga tidak hidup."
__ADS_1
"M..maksud dokter?" sekarang papa Decklan yang bertanya. Pria tua itu jauh lebih tenang dari anggota keluarganya yang lain.
Decklan mundur beberapa langkah. Ia jelas tahu maksud dari perkataan dokter itu. Pika mengalami mati otak. Pria itu lalu terduduk lemas di lantai.
"Anak kalian mengalami mati otak, dan dinyatakan koma." saat itu juga Tante Lily langsung jatuh pingsan.
***
Chaby berdiri didepan makam Danzel. Tampangnya seperti mayat hidup, tatapannya kosong. Danzel langsung di makamkan hari itu juga. Yang datang hanya beberapa rekan kerja Danzel dan Galen yang cukup dekat dengan mereka. Galen tidak mau peristiwa yang terjadi pada Danzel tersebar luas dan menjadi heboh. Pasti akan sangat berdampak pada mental Chaby nantinya. Ia mengesampingkan kesedihannya sebentar dan terus menguatkan Chaby meminta gadis itu untuk bisa merelakan kepergian kakaknya. Meski rasanya begitu berat, gadis itu setuju untuk langsung memakamkan Danzel.
Bara dan Galen berdiri di sebelah Chaby. Sejak tadi tak ada yang buka suara dan bicara sepatah kata pun. Hanya menatap lurus kedepan pada foto Danzel di makam itu. Chaby sudah terlalu lelah untuk menangis. Untuk sesaat, ia berpikir egois dan menyalahkan dunia ini. Kenapa pria sebaik kakaknya di ambil begitu saja dari sisinya.
Ia ingin berteriak marah, melampiaskan semua kekesalannya, namun ia sadar semua itu tidak akan mengembalikan kakak yang sangat ia cintai.
Chaby merasakan seseorang menyentuh bahunya. Ia menoleh ke samping.
"Ayo aku antar pulang. Kau perlu istirahat." Bara menatap gadis itu.
Chaby tidak menjawab. Pandangannya berpindah ke Galen yang terlihat lemas.
"Kak Galen." gumamnya pelan dengan suara serak. Galen menoleh dan memaksakan seulas senyum. Ia terus berusaha terlihat kuat didepan gadis itu.
"Kamu pulang bareng Bara yah, kakak masih mau disini sebentar." ucapnya mengusap pelan kepala gadis itu. Chaby masih berpikir sebelum akhirnya mengangguk. Ia membiarkan Bara membimbingnya berjalan meninggalkan tempat itu.
Setelah memastikan Bara dan Chaby sudah tidak terlihat lagi dan benar-benar menghilang dari hadapannya, Galen langsung jatuh tersungkur ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1