
Decklan sedang bersama papanya di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan menuju ke tempat meeting mereka bersama beberapa investor. Sebenarnya jadwal meeting mereka sore hari namun karena salah satu rekan bisnis mereka tidak bisa bertemu di sore hari, jadinya jadwalnya diganti pagi hari.
Awalnya Decklan merasa sedikit keberatan, karena dirinya masih harus menemani istrinya di rumah sakit. Namun ia juga tidak bisa berbuat seenaknya. Apalagi ini meeting penting, menyangkut nama baik dan kemajuan rumah sakit mereka.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia dan Andra sama-sama menatap ke arah ponsel yang berada di samping stir. Decklan mengernyitkan dahi. Itu panggilan dari Gatan. Pasti berhubungan dengan Chaby. Jangan-jangan istrinya itu yang sengaja menyuruh Gatan untuk menelponnya agar gadis itu mengomelinya karena pergi diam-diam.
"Papa saja yang angkat." ucap Decklan ke papanya. Ia tidak mau mendengar omelan Chaby. Karena istrinya itu kalau mengomel bisa sampai seharian. Dari a-z dan omelannya itu-itu saja. Kalau Decklan sedang tidak sibuk, tidak apa-apa diladenin. Paling-paling mereka berakhir dengan beberapa ronde diatas ranjang. Tapi sekarang laki-laki itu benar-benar sibuk. Tanpa menunggu lama, papanya meraih ponsel di dekat stir milik putra sulungnya dan mengangkatnya.
"Iya Gatan?" ujar papanya setelah benda pipih itu tertempel ditelinga. Gatan diseberang mulai bicara dan seketika itu juga raut wajah papanya berubah serius. Pandangannya tertuju ke Decklan yang ikut bingung melihat perubahan air muka papanya.
"Kenapa?" tanyanya. Papanya mengakhiri panggilan Gatan.
"Menepi sekarang." entah kenapa Decklan merasa aneh dengan perubahan wajah papanya. Apa yang Gatan bilang? Kenapa pria tua itu tiba-tiba jadi seserius ini? Mau tak mau Decklan menurut, menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu menatap pria tua itu dengan wajah penasaran. Mendadak saja perasaannya jadi tidak enak. Apa ada hubungannya dengan Chaby?
"Chaby jatuh dari tangga, sekarang sedang di operasi."
__ADS_1
begitu mendengar perkataan papanya, mata Decklan terbelalak.
Apa? Istrinya kenapa? Decklan merasa tubuhnya lemas seketika. Ia tiba-tiba merasa sulit bernafas. Tangannya mulai terasa dingin dan ia sendiri menjadi panik.
Decklan merasa dadanya berat sekali, susah bernafas dan darahnya seolah membeku begitu saja. Ya Tuhan...
Decklan berusaha keras untuk menarik nafas tapi ia tetap merasa kesulitan. Chaby...
"Decklan, tenangkan dirimu. Kita ke rumah sakit sekarang. Biarkan papa yang menyetir." kata papanya. Pria tua itu tidak mau terjadi kecelakaan kalau Decklan yang menyetir. Kondisi putranya ini sangat tidak baik sekarang, jadi ia tidak mau mengambil resiko. Decklan menurut saja. Mereka lalu bertukar posisi. Lalu mobil itu berputar balik ke rumah sakit.
"Bang, tahan dulu. Kak Chaby lagi di operasi sama bang Andra." kata Gatan mengingatkan. Decklan mengerang keras. Merasa frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Untung tak lama kemudian Andra keluar dari ruangan itu hingga Decklan tidak jadi melakukan sesuatu yang diluar batas. Padahal tadi lelaki itu sudah siap-siap menonjok tembok dihadapannya.
Danzel, Decklan, Gatan dan papanya yang telah berdiri di depan situ menatap Andra serius. Menunggu lelaki itu bicara. Andra menarik nafas pelan sebelum mengeluarkan suara.
"Kondisi Chaby... Ada sedikit benturan dibagian kakinya. Kemungkinan dia harus rawat jalan selama satu sampai dua minggu di sini." jelas Andra kemudian.
__ADS_1
"Bagian tubuh yang lainnya bagaimana? Aku melihatnya terguling-guling dari tangga." tanya Danzel ingin memastikan.
"Tidak ada yang serius. Tubuhnya cukup kuat. Hanya kakinya saja yang lumayan parah. Tapi kita akan melakukan rontgen setelah dia sadar. Untuk memastikan kondisinya.
"Bagaimana dengan bayinya?" giliran papa Decklan yang bertanya. Decklan sendiri sudah tidak ada di depan situ. Sejak Andra membuka pintu ruangan itu, ia langsung menghambur ke dalam. Meski begitu, ia bisa mendengar percakapan Andra dan yang lain dari dalam. Suara mereka terdengar jelas ditelinganya.
"Om nggak perlu khawatir, bayinya tidak apa-apa." jawab Andra lagi dan mereka semua akhirnya bernafas lega. Andra memang sangat teliti memeriksa Chaby tadi. Bahkan hal pertama yang dia periksa tadi adalah kondisi bayi yang ada dalam perut Chaby. Ia sendiri hampir tidak mampu mengingat Chaby adalah salah satu orang terdekatnya. Tapi Andra berusaha bersikap profesional. Ia mengesampingkan kedekatannya dengan gadis itu sebentar dan melakukan pekerjaannya dengan serius.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, mereka semua ikut masuk ke dalam. Memandangi Chaby yang masih menutup matanya. Decklan duduk di sisi ranjang sambil mengusap-usap kepala sang istri penuh sayang. Tangannya yang lain menggenggam tangan Chaby. Ia sangat takut kehilangan gadis itu. Sungguh dirinya tidak bisa. Cukup sekali saja Chaby menghilang dalam hidupnya.
Dibandingkan tadi, sekarang Decklan sudah lebih tenang. Pikirannya sudah kembali berjalan dengan baik. Pria itu melirik Gatan.
"Abang suruh kamu jagain kak Chaby, kenapa malah jatoh dari tangga?" tanya Decklan menatap adik laki-lakinya itu dengan tajam. Gatan menelan ludah.
"Maaf bang. Tadi kak Chaby lagi mandi. Terus aku keluar sebentar buat beliin sarapan, pas balik, aku liat bang Danzel teriak-teriak sambil gendong kak Chaby yang udah pingsan." katanya menjelaskan. Decklan beralih menatap Danzel. Tidak ada gunanya juga memarahi adiknya. Ia ingin tahu kenapa Chaby sampai terjatuh. Memang Chaby ceroboh. Tapi dia ingin tahu kronologi yang sebenarnya sampai istrinya terjatuh. Bisa sajakan ada apa-apa dibalik itu.
__ADS_1
"Aku akan menyelidikinya." kata Danzel seolah tahu arti tatapan Decklan. Ia juga penasaran kenapa adiknya bisa sampai terjatuh. Dan entah kenapa, Danzel punya firasat kuat kalau Chaby bukan tidak sengaja terjatuh. Ia akan menyelidikinya sampai tuntas. Kalau sampai memang ada yang berniat jahat pada adiknya, dia tidak akan segan-segan dengan orang itu.