GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 19


__ADS_3

Mata Decklan mulai menelusuri tubuh molek Chaby dan berhenti pada bibir merah penuh yang menggiurkan. Makin dewasa istrinya ini makin cantik. Makin membuatnya tergila-gila. Hasrat yang selalu ia tahan selama ini ingin segera disalurkan.


"Kak Decklan..." gumam Chaby ketika tangan Decklan mulai membelai keseluruhan wajahnya.


"Ssst... ijinkan aku menyentuhmu. Kamu tahu kan sudah lama kita tidak pernah berhubungan. Aku juga tidak bisa melakukannya dengan wanita lain karena hanya bisa sama kamu. Tanpa kamu hatiku mati terhadap semua perempuan. Memangnya kamu nggak senang aku selalu setia nungguin kamu? Malam ini, bagaimana kalau kamu setuju saja. Sambil mencoba mengingat kalau kita pernah melakukannya berkali-kali dulu. Posisi kita seperti ini, apa kamu tidak bisa mengingatnya?" gumam Decklan panjang lebar. Tangannya terus bergerak di wajah Chaby. Menunggu gadis itu mengangguk setuju. Karena dia tidak ingin memaksa. Ia tidak ingin menyakiti Chaby.


"A..apa itu akan sakit?" tanya Chaby malu-malu. Decklan terkekeh lalu mengecup mata Chaby.


"Bagaimana bisa sakit. Kan kamu sudah tidak perawan lagi. Kamu lupa kamu sudah punya Arion?" Chaby tersenyum malu. Benar. Kan itu akan sakit kalau baru melakukan pertama kali.


"Bagaimana? Kamu siapkan?" lelaki itu bertanya lagi. Ia tidak tahu saja kalau Chaby sudah gugup sekali dari tadi.


"Bagaimana kalau aku hamil lagi?"


"Bukannya itu bagus? Aku memang berniat membuat banyak anak denganmu." balas Decklan.


"Tapi susah melahirkannya tahu. Kalau kak Decklan mau punya banyak anak, minta dulu sama dokter buat pindahin rahim aku ke kak Decklan, biar kak Decklan aja yang hamil." Decklan terperangah menatap istrinya. Di saat-saat begini masih bisa saja Chaby terpikir hal begitu. Pindahin rahim? mana ada yang seperti itu.


"Mana bisa begitu sayang. Kamu bikin lama kegiatan kita aja deh. Setuju nggak? Kalau nggak jawab juga aku bakal langsung bikin dedeknya Arion sekarang juga."


"T..tapi aku belum mandi,"

__ADS_1


Decklan menggeram frustasi. Ia sudah  tak tahan lagi. Chaby hanya mengulur-ulur waktu saja.


"Sekarang kamu pilih, mau malam ini aku melakukannya dengan lembut sejam doang, atau besok aku bikin kamu sampai nggak bisa jalan sekalian?" ancamnya.


"Sekarang aja!" sahut Chaby refleks. Ia lalu menutup mulutnya. Ya ampun, apa masih bisa di ralat? Tapi kalau besok...


"Anak pintar." ia merasakan tangan Decklan menepuk pelan kepalanya.


Belum sempat Chaby mempersiapkan diri, Decklan sudah mendekapnya dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Pria itu menyesap bibirnya dengan sangat lembut. Chaby mendesah di saat Decklan semakin memperdalam ciuman panasnya.


Begitu bibir Chaby terbuka, Decklan semakin gencar memainkan lidahnya, Chaby tidak bisa berontak atau melakukan apapun karena dirinya memang sudah setuju. Alih-alih menolak, ia malah mulai menikmati sentuhan serta ciuman panas Decklan.


Tangan Decklan tak tinggal diam. Tangan kekar itu mulai turun dan meremas dada Chaby yang masih tertutup dengan baju yang dipakainya. Mulut Decklan melepaskan pagutannya dan berpindah ke leher jenjang Chaby. Ia mengecup leher Chaby dan meremas bukit kembar itu kuat-kuat.


"Ini masih kencang sekali sayang. Padahal dulu aku sering sekali memijitnya" bisik Decklan di telinga istrinya. Chaby memalingkan wajahnya malu.


Decklan menghentikan kegiatannya sebentar lalu membukakan baju Chaby. Sampai tak bersisa lagi dan gadis itu benar-benar polos dihadapannya. Mengamati tubuh polos yang indah itu. Wajah Chaby merona. Tangan kirinya terangkat menutupi bagian dadanya, sebelahnya lagi menutupi bagian bawah di antara pahanya. Tapi Decklan menahan tangan mulus itu.


"Jangan ditutupi. Aku pernah lihat sebelumnya. Tidak usah malu sayang." gumam pria itu. Lalu membuka bajunya. Chaby menutup mata. Ia malu melihat tubuh Decklan yang tanpa busana. Masih teringat dengan jelas bentuk benda yang dilihatnya tadi.


"Bukankah kamu ingin lihat ukuran punyaku ini saat lagi tegang? Ayo buka matamu. Hanya kamu yang aku ijinkan lihat loh." Chaby kembali membuka matanya perlahan memberanikan diri untuk menatap suaminya.

__ADS_1


Decklan lalu kembali mendorong tubuh Chaby hingga terbaring di ranjang dan tidur terlentang. Sorot matanya semakin


berkabut gairah. Decklan kembali menyerbu bibir manis Chaby, mengobrak-abrik


rongga mulut gadis itu.


"Aaahhh!" Chaby terpekik kaget saat Decklan


menyentuh bagian dalam pahanya. Mata pria yang menindih tubuhnya ini


semakin menampakkan gairahnya.


Selanjutnya adegan demi adegan panas terus berlanjut hingga Chaby menjerit kaget saat Decklan memasukinya dengan terburu-buru namun tidak begitu kasar. Rasanya aneh sekaligus nikmat. Decklan berkali-kali meneriakan nama Chaby dan makin memperdalam memasukan miliknya. Chaby terus merintih dengan nada lemah. Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa lemas akibat menerima sentuhan maut pria di atasnya.


Decklan kembali mencium bibir Chaby yang sudah membengkak. Satu tangannya mengarahkan tangan Chaby yang semula berada di dada bidangnya untuk berpindah mengalung di lehernya.


Bunyi ******* dan erangan begitu menggema dalam kamar itu. Sampai keduanya sama-sama mengerang


kuat saat mendapatkan pelepasan. Sungguh, tubuh Chaby selalu menjadi candu bagi Decklan. Istrinya masih terasa seperti perawan, masih begitu sempit.


Sebenarnya Decklan masih ingin meneruskan permainan panas mereka lagi, namun ia sudah berjanji pada Chaby hanya satu jam dan ini sudah lewat. Hampir dua jam keduanya bergulat diatas ranjang besar itu. Ia juga melihat istrinya sudah capek, ia jadi tidak tega. Akhirnya dia memutuskan mengakhiri kegiatan panas itu. Masih banyak waktu bagi keduanya untuk melakukannya lagi dan lagi.

__ADS_1


"Masih bisa berdiri? Atau mau aku gendong ke kamar mandi?" tanyanya melihat Chaby yang kesusahan berdiri. Pasti istrinya merasa ngilu dibagian itu, mengingat sudah lama sekali mereka tidak melakukannya. Ia tahu gadis itu mau masuk ke kamar mandi. Chaby menggeleng namun memegangi tangan Decklan sebagai penopang untuk turun dari tempat tidur dengan tubuh polos. Entah kenapa ia tidak malu lagi tubuh polosnya dilihat Decklan.


Chaby merasa harus mandi karena seluruh badannya sudah terasa lengket akibat perbuatan suaminya. Tapi, lagi-lagi Chaby merasakan perasaan dejavu. Ia mulai mengingat secara samar-samar, tapi semakin dirinya berpikir dengan keras, kepalanya makin pusing. Ah sudahlah, berhenti berpikir dulu, daripada kepalanya makin pusing.


__ADS_2