
Banyak jenis kegiatan yang dilakukan oleh club yang Chaby dan Pika nggak tahu club apa sebenarnya itu. Tapi mereka seru-seru aja karena gamenya lucu-lucu. Ada perkenalan di awal dan diakhiri dengan bakar-bakar. Suasana malam yang dingin memang sangat cocok dengan kegiatan bakar membakar itu.
Pandangan Decklan sesekali melirik Chaby yang asyik berbincang-bincang dengan beberapa teman kampusnya. Gadis itu sudah mulai akrab dengan mereka. Seulas senyum terukir di wajah tampan Decklan kemudian ia kembali memutar-mutar sate yang sedang dibakarnya.
Dari jauh Elsa tersenyum senang saat melihat Decklan hanya sendirian. Cewek manja yang suka nempel itu kebetulan nggak ada disampingnya jadi dia punya kesempatan buat mendekati cowok itu.
" Decklan," panggilnya dengan suara yang dibuat-buat biar terlihat semanis mungkin. Decklan mendongak. Wajahnya tetap datar menatap Elsa. Mau apa lagi tuh cewek. Meski risih Decklan tetap mencoba bersikap sabar. Tidak ada alasan juga kenapa ia harus mengusir gadis itu.
"Lo ngapain?"
Tuh cewek buta? Jelas-jelas sudah lihat dia lagi ngapain malah nanya.
Decklan tidak ada minat sama sekali bicara dengan cewek itu.
"Oh ya, nanti gue bisa pinjam catatan lo nggak? Sama pelajaran kemaren bisa minta tolong lo jelasin nggak? Soalnya gue masih rada-rada kurang ngerti." pintanya lagi masih memasang senyum manisnya.
Decklan mengernyit melirik Elsa. Ia heran karena tiap kali cewek itu selalu meminjam bukunya. Udah salah tempat, ngomongnya itu-itu aja lagi. Kalo mau deketin dia, suka atau apapun itu bilang aja biar dia langsung nolak.
"Sorry Sa, gue nggak mood buat bahas pelajaran sekarang. Kalo lo belum ngerti sama pelajaran langsung nanya ke dosen aja jangan gue." balas Decklan tegas. Lama-lama ia malas bicara dengan cewek itu. Dari dulu alesannya nggak ngerti pelajaran, dia pikir Decklan cowok bego apa. Decklan sudah sangat berbaik hati beberapa waktu ini meminjamkan catatanya ke cewek itu, tapi sekarang ia rasa sudah cukup karena ia tahu Elsa punya modus lain terhadapnya.
Elsa menggigit bibirnya lirih. Ia malu karena ucapan Decklan, cewek itu ingin bicara lagi tapi terjeda. Pandangannya berpindah ke Bara yang sudah berdiri didepan mereka, cowok yang Elsa tahu sebagai salah satu sahabat Decklan itu, yang namanya juga terkenal di jurusan bisnis dan tentu saja tak kalah keren dari Decklan. Hanya saja Bara lebih kaku dari Decklan dan sangat pendiam. Pernah sekali Elsa mengajaknya bicara tapi tak di gubris. Bara selalu diam.
Bara menatap Decklan.
"Biar gue aja yang bakar, lo temenin Chaby." ucap Bara menunjuk Chaby yang kini sendirian selfie-selfie di pendopo. Pika, Andra dan Hugo sedang berbincang-bincang tak jauh dari gadis itu.
__ADS_1
Sejak tadi Bara memperhatikan Elsa terus mendekati Decklan dan Decklan sendiri yang terlihat risih. Ia jadi geram sendiri melihatnya. Tuh cewek betul-betul tidak tahu diri, menurutnya.
Decklan lalu mengangguk kemudian meninggalkan Bara dan Elsa yang berdiri didekat situ. Elsa ingin berbalik pergi mengikuti Decklan tapi Bara tiba-tiba memanggilnya.
"Elsa." suara itu terdengar berat dan tajam. Elsa menoleh. Tak ada senyum di wajah Bara, dan dia heran kenapa cowok itu berinisiatif bicara dengannya duluan. Bara menatapnya datar.
"Gue rasa gue harus ingetin lo." ucap Bara datar. Sepertinya Elsa tahu arah pembicaraan cowok itu.
"Decklan itu sahabat gue, dan Chaby udah kayak adik kandung gue sendiri." kening Elsa berkerut. Emangnya kenapa? Apa dia harus tahu? Nggak penting juga. Apalagi nama tuh cewek manja pake di bawa-bawa segala, kayak cuman ada satu cewek aja di dunia ini. Elsa mengangkat dagunya tinggi-tinggi menatap Bara.
"Jadi maksud lo?" ia bertanya malas.
"Kalo lo sampe lo ngerusak hubungan mereka, gue nggak bakal segan-segan sekalipun lo cewek." aura gelap Bara membuat Elsa menciut.
Chaby, nama itu sungguh membuat Elsa merasa sangat kesal. Kenapa semua orang memperlakukannya seperti tuan putri. Lemah dan manja begitu. Elsa melihatnya sebagai gadis tidak berguna. Bersanding dengan Decklan hanya membuat cowok itu kesusahan karena ngurusin cewek lemah itu. Jelaslah dia rasa dia yang jauh lebih cocok kemana-mana sama Decklan. Dia bisa ngertiin cowok itu, otaknya juga cukup pintar dan mereka bisa masuk kalau bicara soal pelajaran karena wawasan mereka sama-sama luas.
"Gue nggak ada niat sama sekali buat rusak hubungan mereka, kalau Decklan mau deketin gue, gue nggak bisa sengaja menjauh kan?" katanya penuh percaya diri.
Bara mendengus keras. Apa katanya? Jelas-jelas cewek itu yang sengaja mendekati Decklan duluan tapi ngomongnya malah Decklan yang pengen ngedeketin dia.
"Jaga mulut kotor lo itu, gue kenal Decklan. Dia nggak akan pernah tertarik sama cewek licik kayak lo. Nggak usah balikin fakta kalo dia yang deketin lo duluan, gue liat semua gerak-gerik lo tadi, ngerti." sentak Bara dengan nada agak tinggi. Untung tidak ada orang lain didekat situ, kalau tidak mereka akan menjadi perhatian sekarang.
Hati Elsa menjadi panas. Ia sangat malu. Ia tahu sih Bara adalah cowok yang pendiam, tapi malam ini bicaranya panjang lebar dan begitu merendahkannya. Ia tidak terima. Dengan wajah marah gadis itu berbalik pergi. Matanya melirik sekilas pada Decklan dan Chaby yang berduaan saja di ujung sana. Decklan terus tersenyum pada Chaby dan Elsa melihat cowok itu mencium pipi gadis sialan itu.
Hatinya membara. Kenapa bukan dia saja yang disisi Decklan. Ia mengepal kedua tangannya kuat-kuat dan mengumpat. Brengsek.
__ADS_1
Bara masih menatap kepergian Elsa lalu menggeleng heran. Ada yah cewek macam begitu. Padahal dulu dia pikir Nana yang paling licik, ternyata ada yang lebih berbahaya lagi.
"Kak Bara ngomong apa sama Elsa?"
tanya Pika yang muncul bersama Andra. Ia sempat melihat cowok itu bicara dengan Elsa dan cewek itu pergi dengan raut wajah marah.
"Ingetin doang." sahut Bara pendek sambil mengatur-atur sate yang sudah matang dipiring.
Alis Pika terangkat.
"Emangnya tuh cewek ngapain? Sengaja mau deketin kak Decklan lagi? Atau sekarang malah deketin kak Bara?" tanya Pika lagi antusias tapi ada rasa kesalnya juga.
Bara terkekeh.
"Nggak usah dipikirin udah lewat. Nih makan." cowok itu menyodorkan sepotong sate ke Pika. Ia tidak ingin memperpanjang masalah namun Pika masih terlihat tidak puas.
"Udahlah Pik, ngapain sih lo ngurusin hal-hal kayak begitu." timpal Andra. Tangannya mengambil satu tusuk sate di piring lalu mulai mengunyah.
"Harus kak Andra, ini masalah kebahagiaan dua pasangan paling ter so sweet menurut aku." balas Pika sambil menunjuk-nunjuk Chaby dan Decklan diujung sana.
Andra dan Bara hanya senyum-senyum. Pika ini sudah seperti fans fanatiknya Decklan dan Chaby saja.
_______________
Teruntuk semua readers yang tetap setia baca novel ini, makasih banget buat dukungan kalian semua 🙏
__ADS_1
Dan buat kalian yang pengen aku crazy up dari kemaren-kemaren, maaf banget nih, aku kayaknya belum bisa karena sibuk sama pekerjaan yang lain, tapi tetap ku usahain yah nanti😉
Kalo kalian masih seneng baca gadis manja dan pangeran dingin, jangan lupa juga terus dukung novel ini yah. Gratis kok😇