
Tante Lily dan Gatan tidak berhenti-berhenti menangis dan terus memeluk Pika. Perasaan senang, sedih haru semuanya bercampur aduk. Akhirnya anak perempuan satu-satunya yang mereka sayangi itu sadar setelah menunggu hampir tiga bulan ini.
Pika masih terheran-heran menatap mereka semua.
Sepertinya ada banyak hal yang ia lewati. Ia akan meminta penjelasan nanti karena sekarang papanya mendesak dokter yang entah siapa itu memeriksa kondisinya pasca sadar.
Chaby sudah dibawa oleh Danzel setelah pria itu meminta maaf pada orang tua mereka. Decklan memberi waktu pada dua kakak beradik itu untuk bicara. Ia sadar dirinya pun belum sepenuhnya berhak atas gadis itu. Chaby belum jadi istrinya.
***
Sepanjang perjalanan Chaby tidak melepaskan pelukannya dari Danzel. Ia sudah dengar penjelasan kenapa kakaknya itu menutupi kalau dirinya masih hidup. Ia tidak mau marah-marah lagi apalagi pria itu baru sembuh dari luka tembak.
Namun tidak marah pada Danzel bukan berarti dirinya juga akan memaafkan Galen begitu saja. Pokoknya ia tidak mau bicara pada kakaknya yang satu itu dulu. Ia masih ngambek.
Sampai apartemen Chaby terus membuang mukanya nggak mau natap Galen hingga membuat pria itu kelabakan sendiri.
"Chaby sayang, kok kak Danzel doang sih yang di maafin. Kan kakak kamu yang ini juga udah minta maaf."
"Hmph." Chaby membuang muka ke arah lain. Tangannya terus memeluk lengan Danzel dan menyandarkan kepala di bahu lelaki itu.
"Kan kakak ngelakuin itu semua karena perintah kakak kamu. Semuanya demi kebaikan kamu." jelas Galen lagi. Kali ini ucapannya berhasil membuat Chaby menatapnya. Galen tersenyum lebar.
"Kebaikan apanya? Chaby tuh sedih banget sampe kabur-kaburan kemaren kak Galen pikir itu baik? Kak Galen ini tuh yah, orang dewasa yang otaknya nggak pinter-pinter amat. Main sembunyi-sembunyiin kak Danzel, pake pura-pura sedih lagi." omel gadis itu panjang lebar.
Galen melongo menatap Chaby. Ketika dilihatnya Danzel malah menertawainya, pria itu berubah dongkol. Kalau dipikir-pikir semua ini yang salah adalah Danzel, tapi malah dia yang kena amukan Chaby. Galen menatap Chaby lagi.
"Ya udah, ya udah. Kakak ngaku salah. Kamu boleh pukul kakak sekarang habis itu maafin kakak yah. Nanti kakak kakak beliin apapun yang kamu mau." ujarnya.
Mendengarkan perkataan Galen membuat Chaby tergiur. Ia melepaskan pelukannya dari lengan Danzel dan mendekati Galen. Tangannya mengepal dan tanpa aba-aba memukuli pria itu berkali-kali. Meski hanya rasa geli yang Galen rasakan bukan rasa sakit tapi gadis itu sudah merasa puas. Baginya ia sudah berhasil melampiaskan segala kekesalannya. Lagipula ia juga tahu pasti dirinya tidak akan tahan marah lama-lama.
__ADS_1
"Pokoknya beliin Chaby semua yang Chaby mau. Kalau nggak..." gadis itu kembali mengepal tangan dan memasang wajah galak menatap Galen sambil menggeram pelan.
Galen tertawa.
"Iya-iya janji." janjinya.
Chaby kembali duduk di sebelah Danzel. Masih mau bermanja-manja pada kakaknya itu.
"Kak Danzel lukanya udah sembuh belum." tanyanya. Danzel tersenyum kecil.
"Mm." pria itu mengangguk. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala Chaby.
"Maafin kakak yah. Kakak nggak tahu selama ini kamu sangat sedih karena mikirin kakak." ucapnya. Chaby menggeleng memegangi wajah Danzel.
"Makanya jangan ninggalin Chaby lagi yah." katanya. Pandangannya berpindah ke Galen yang sejak tadi terus berdiri.
"Kak Galen duduk sini cepat." katanya sambil menepuk sofa kosong itu.
"Mulai sekarang kak Danzel sama kak Galen jangan pernah tinggalin aku lagi yah." katanya kemudian. Galen malah meliriknya dengan tatapan menggoda.
"Tapi kayaknya bentar lagi kamu yang bakal ninggalin kakak-kakak kamu ini deh."
Chaby mengernyit bingung.
"Emang Chaby mau pergi kemana?" tanyanya.
Galen tak menjawabnya dan hanya menatap gadis itu dengan wajah jahilnya. Danzel tahu maksud sahabatnya itu. Meski belum rela, ia tahu semakin berlalunya hari, ia harus merelakan adiknya itu pergi dengan seseorang yang akan menjadi suaminya kelak. Entah kapan itu, Danzel harus siap. Apalagi Decklan yang sepertinya memang sangat serius menjalin hubungan dengan Chaby.
__ADS_1
***
"Jadi lo maafin kakak lo gitu aja?"
Andra menatap terus menatap Chaby yang sejak tadi terus mengunyah makanannya. Ia, Bara, Decklan dan gadis itu sekarang lagi berada di restoran rumah sakit. Mereka sedang menunggu Pika selesai pemeriksaan dan karena ini sudah jam makan malam, mereka memutuskan makan didalam restoran rumah sakit itu sambil menunggu.
Chaby mengangguk-angguk. Andra mendesah kesal. Ia ingin Chaby tidak secepat itu maafin kakaknya karena sudah membohonginya. Pasalnya karena kebohongan Danzel dan Galen itu dirinya juga kena imbas di tonjok Decklan sampai babak belur.
"Kok kak Andra kesal banget gitu? Harusnya aku loh yang kesal." ucap Chaby dengan mulut penuh.
"Telen dulu makanannya baru ngomong." tegur Decklan. Chaby hanya tersenyum lebar menatap cowok itu.
"Jelaslah gue kesel, lo nggak liat apa gimana keadaan gue yang berakhir tragis ditangan kekasih lo itu."
Decklan diam saja. Ia sadar dirinya sudah keterlaluan memukul Andra. Tapi waktu itu ia benar-benar kalap. Siapa suruh bohong. Kalau waktu itu mereka tidak langsung menemukan Chaby, Decklan mungkin belum akan bicara pada Andra sampai sekarang.
"Kak Bara, kok aku nggak ngerti sama omongannya kak Andra yah?" Chaby menatap Bara. Cowok itu selalu menjadi sosok yang paling diam di antara mereka semua.
"Nggak usah dibahas, udah lewat juga. " balas Bara. Ia tertawa kecil menatap Andra yang sepertinya masih tidak rela. Pandangannya berpindah ke Decklan.
"Gue dengar lo berhasil masuk Universitas kedokteran." entah itu pertanyaan atau bukan namun Decklan membalasnya dengan anggukan. Pandangannya pindah ke Chaby.
"Tapi ada seseorang yang pengen gue jadi artis aja. Katanya biarp.."
Chaby cepat-cepat menutup mulut Decklan dengan tangannya dan menatap Andra dan Bara sambil tersenyum. Kedua cowok itu hanya menatap mereka dengan wajah bingung.
"Biar apa?" ulang Andra jadi penasaran.
Chaby terus menutup mulut Decklan.
__ADS_1
"Biar terkenal. Itu aja, iya itu aja." jawab gadis itu memberi anggukan pasti tapi justru tingkahnya itu yang membuat dua cowok didepannya makin merasa aneh. Sementara Decklan hanya senyum-senyum membiarkan Chaby melakukan apapun yang dia mau. Senang sekali baginya mengggoda gadis itu.