GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 61


__ADS_3

Hasil pemeriksaan yang keluar menyatakan kalau kondisi tubuh Pika tidak apa-apa. Tidak ada kondisi yang serius pasca sadar dari tabrakan itu. Namun dokter menyarankan Pika harus terapi jalan selama seminggu supaya tubuhnya lebih rileks dan kembali aktif seperti biasanya.


Pika sudah mendengar cerita yang terjadi selama ia koma. Chaby bercerita lama dengannya. Ia tidak tahu selama ia tidak sadar ternyata mereka semua mengalami situasi yang sulit seperti itu.


Namun semuanya sudah lewat dan keadaan sudah kembali seperti semula. Dia sudah sadar, kak Danzel ternyata masih hidup dan dia dengar mamanya Chaby dan kak Danzel sudah di masukin ke penjara saat di sidang di Korea. Mereka bisa bernafas lega sekarang.


Hal lain yang membuat Pika senang lagi, karena kecelakaan itu ia bisa tahu ternyata kak Decklan sangat peduli dan sayang padanya. Chaby sudah cerita kalau kak Decklan menemaninya tiap malam di rumah sakit. Ah, senangnya.


"Oh ya, gue denger dari mama lo tungguin gue sadar biar bisa masuk sekolah bareng?" tanya Pika lagi. Hanya ada dia dan Chaby di ruangan itu. Mamanya lagi jemput Gatan di sekolah, papanya sibuk kerja dan kak Decklan di sekolah.


Chaby mengangguk.


"Lo tuh yah, bener-bener. Tapi nggak pa pa sih, biar kita bisa barengan terus." kata Pika lagi penuh semangat.


Ia kembali memeluk Chaby merasa senang.


                                 ***


5 bulan kemudian


Sudah sekitar tiga bulan ini Decklan  menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu Universitas ternama dalam negeri. Tentu saja ada Andra yang ikut bersamanya. Sebenarnya Andra tidak ada bakat-bakatnya dalam ilmu medis namun kakeknya ingin dia belajar di bidang itu juga untuk membantu Decklan kelak mengurus rumah sakit mereka bersama.


Bara mengambil jurusan bisnis di kampus yang sama, namun waktu mereka bertemu terbatas karena sama-sama sibuk belajar.


Chaby dan Pika sudah naik kelas XI. Mereka memutuskan pindah ke sekolah lain karena tidak mau mengingat kenangan buruk yang pernah terjadi tiap kali melewati depan sekolah itu. Mereka juga tidak begitu suka dengan tatapan anak-anak sekolah itu pada mereka.

__ADS_1


Sekarang keduanya sekolah di salah satu sekolah elit namun teman-teman sekelas mereka jauh lebih ramah dari teman-teman di sekolah mereka dulu. Chaby dan Pika bergaul dengan banyak teman-teman sekelas mereka itu. Paling-paling ada cewek-cewek dari kelas lain saja atau kakak kelas yang kadang suka menatap benci ke mereka. Merasa iri karena banyak cowok yang sering mendekati mereka.


Sejak Chaby dan Pika pindah ke sekolah itu, mereka berdua langsung terkenal karena cantik dan banyak yang berusaha mendekati mereka. Sayangnya banyak cowok yang harus patah hati saat mendengar Chaby sudah punya pacar.


"By, kangen nggak sama kak Decklan? gimana kalo kita ke kampusnya pulang sekolah nanti?" ajak Pika. Mereka memang jarang bertemu Decklan, Bara dan Andra sudah hampir tiga bulan ini. Paling-paling ketemu weekend aja atau kalau cowok-cowok itu lagi punya waktu luang.


"Gue nggak suka sama kampus itu. Masa iya semua mahasiswa baru harus tinggal di asrama selama setahun penuh. Udah gitu ketat banget lagi nggak boleh keluar-keluar sembarangan. Kita kan jadi susah ngumpul bareng cowok-cowok kece itu." Pika merengut kesal.


Chaby mengangguk-angguk setuju dengan Pika. Waktunya telponan sama kak Decklan juga jadi terbatas karena ada waktu telponannya. Kayak penjara aja.


"Tapi emangnya bisa kita masuk kampusnya kak Decklan?" tanyanya kemudian.


Pika ikut berpikir. Kalo kampusnya ketat banget gitu sih harusnya orang luar nggak bisa masuk.


"Gimana caranya?"


"Biasalah, lompat pager."


"Hah?" Mata Chaby sukses membulat besar. Lompat pagar? Ia jadi ingat dulu waktu jaman-jaman ia baru masuk SMA dan ketemu Pika yang mengajaknya lompat pagar. Gadis itu menggeleng kuat, masih trauma dengan kejadian itu. Nggak, nggak. Pokoknya ia menolak keras dengan cara yang ia tidak bisa itu.


"Nggak mau, nanti aku nyangkut lagi kayak dulu Pika." tolaknya langsung. Pika menatapnya lama lalu mendengus pelan.


"Katanya lo udah nggak penakut lagi, kasih bukti dong." tantangnya.


"Tapi..."

__ADS_1


"Udah ikut aja. Lagian kalo nyangkut lagi tinggal telpon kak Decklan, gampang kan, jalan keluarnya udah ada." kata Pika lagi asal.


"Pikaaaa..." Chaby menggoyang-goyangkan badan Pika kuat-kuat. Ia nggak mau sama sekali mengikuti rencana cewek itu, titik. Tobat deh tobat.


"Udah deh nggak usah manja. Ikut aja." putus Pika udah final. Chaby langsung berubah cemberut. Pika gitu amat deh, nggak ngertiin sahabat sendiri.


Pulang sekolah, Pika menarik-narik Chaby yang bersikeras nggak mau ikut dia. Padahal mereka sudah sampai di kampusnya kak Decklan sekarang.


Sopir taksi menurunkan mereka di depan kampus elit itu tapi Pika ingin lewat belakang kampus untuk masuk diam-diam. Pasti semua sekolah dan kampus ada jalan masuk lainnya. Ia sudah terbiasa melakukan itu. Sebenarnya bisa sih mereka minta ijin pada satpam penjaga kampus didepan tadi, tapi takutnya nggak bakalan dapat ijin. Apalagi mereka masih anak sekolah. Alasan lainnya Pika selalu menyukai tantangan. Makanya dia senang melakukan hal-hal kayak begitu. Ia tertawa melihat Chaby yang sudah pucat dari tadi. Kasihan juga sih.


Pika terus menarik-narik Chaby yang mati-matian tidak mau ikut dengannya namun dia berhenti ketika seseorang memanggil nama mereka.


Pika dan Chaby sama-sama menoleh kearah panggilan itu.


Nana?


Keduanya saling berpandangan lalu kembali menatap Nana lagi. Cewek itu tersenyum ke mereka membuat Pika merasa aneh. Ia tahu Nana sangat tidak menyukai mereka, karena itu sangat aneh kalau gadis itu akan bersikap ramah.


Nana maju mendekati mereka. Penampilannya cukup berbeda. Tidak memakai riasan tebal dan kostum yang berlebihan seperti kemarin-kemarin lagi, menurut Pika sekarang kakak kelasnya itu jauh lebih cantik dengan riasan tipis itu. Auranya jadi kelihatan.


"Gimana keadaan lo? Gue sempat dengar lo koma." tanya Nana menatap Pika.


"Gue sehat sekarang." jawab Pika. Nana lalu melirik Chaby yang sedikit menunduk. Ia masih ingat perlakuan Nana yang membuatnya sampai terjatuh dulu. Nana tersenyum ramah.


"Chaby, maafin perlakuan gue yang dulu sama lo yah. Gue sadar waktu itu gue terlalu kekanak-kanakkan. Karena cemburu gue jadi nggak suka sama lo yang nggak ada salah apa-apa.  Lo baik-baik aja kan selama ini? Gue ikut senang karena denger kakak lo ternyata masih hidup." katanya panjang lebar. Sebenarnya sampai sekarang tidak ada yang tahu kalau orang yang menelpon polisi dulu adalah Nana.

__ADS_1


__ADS_2