
Sedari tadi ketiga cowok yang sedang berjalan berdampingan di koridor jurusan bisnis itu tidak luput dari tatapan kagum para orang-orang yang berlalu lalang didepan mereka, atau sekedar berdiri membentuk sebuah kelompok di jalan itu untuk bergosip. Hugo tertawa geli melihat para mahasiswi yang memekik tertahan saat melewati mereka. Lain dengan Andra yang cuek-cuek saja, lain pula dengan Decklan yang mendengus kesal, jalannya terganggu karena beberapa dari mereka yang tanpa canggung memotret dari dekat. Jarang-jarang melihat para idola kampus ke jurusan itu.
Semua orang tahu kalau Bara juga termasuk dalam kelompoknya Decklan. Biasanya Bara yang akan pergi ke jurusan kedokteran, namun hari ini berbeda. Kelompok Decklan tiba-tiba muncul di jurusan mereka membuat para penggemar mereka dari jurusan itu banjir masuk kantin karena keempat cowok itu sudah berkumpul di kantin.
Sebenarnya Decklan lebih suka menyendiri di sudut kampus yang tidak terlihat oleh siapapun daripada berada di keramaian dan ditatap oleh banyak orang dengan tatapan-tatapan memuja. Itu membuatnya risih. Namun apa boleh buat, ia terlanjur di tarik oleh Andra dan Hugo. Perutnya pun sudah keroncongan minta di isi.
Daripada ditatap begitu oleh orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali, ia lebih senang ditatap lama-lama oleh pacar manisnya itu. Decklan senyum-senyum sendiri memikirkan Chaby. Kira-kira gadis itu lagi apa yah sekarang. Tadi Chaby mengiriminya pesan kalau dia akan mampir ke kantor kakaknya. Decklan ingin sekali menelpon gadis itu tapi keadaan sekarang ini tidak memungkinkan.
"Sejak kapan lo suka Pika?" Andra bertanya pada Bara.
Bara mengangkat wajahnya malah menatap Decklan, cowok itu hanya mengangkat bahu cuek.
"Udah lama." sahut cowok itu singkat, terkesan cuek. Andra melongo menatapnya, entah ia harus kagum pada Bara yang sangat pintar menutupi perasaannya, atau dirinya yang terlalu bodoh karena tidak menyadari perasaan sahabatnya itu. Padahal sudah beberapa tahun ini mereka terus ngumpul bareng dan selama itu juga Bara pasti sering memperhatikan Pika.
"Udah, udah. Nggak usah bahas cewek dulu." timpal Hugo.
"Gue denger dari jurusan kita ada yang mendapat tawaran pindah ke Cambridge university, Inggris. Pihak kampus mereka sudah menghubungi dekan kita." Hugo menjelaskan sambil menatap Decklan. Ia merasa yakin kalau cowok itu yang akan diberikan tawaran. Semua angkatan mereka di jurusan kedokteran juga tahu kalau Decklan sangat pintar dibidang itu sejak pertama kali masuk kampus itu. Terlebih lagi cowok itu sangat serius mempelajari banyak ilmu medis.
"Kenapa lo natap dia? Emang dia yang kepilih?" tanya Andra langsung. Decklan ikut menatap Hugo.
__ADS_1
"Gue cuma punya firasat doang. Kalo seandainya bener, lo mau terima tawaran itu nggak?" jawab Hugo sekalian bertanya. Bara dan Andra ikut melirik cowok itu. Mereka tahu itu pilihan yang berat buat Decklan, ia harus memikirkan Chaby juga.
"Gue nggak mau bahas sesuatu yang belum jelas." imbuh Decklan.
"Tapi gue ya.."
"Udah, makan aja dulu." potong Bara. Jelas sekali ia lihat Decklan tidak ingin membahas hal itu.
***
Chaby mengikuti Danzel dan Galen ke restoran western samping kantor itu. Ada Pika dan Karrel yang juga ikut. Mereka berlima duduk di sebuah meja bundar yang sudah dihias sedemikian rupa agar terlihat indah.
Galen menggeleng-geleng, kebiasaan itu memang sulit hilang karena sudah mendarah daging pada gadis itu. Namun Chaby hanya akan melakukannya pada orang-orang terdekatnya saja.
Sejak tadi pandangan Karrel tidak pernah lepas dari Chaby. Sesekali ia tersenyum. Ternyata hubungan kakak beradik itu sangat dekat. Pikirannya kembali pada kenyataan bahwa gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Ia mendesah pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Pika. Karrel yang biasanya selalu tersenyum dan banyak bicara tentang mimpinya itu kelihatan lebih pendiam hari ini, dan itu aneh menurut Pika. Apa karena hari ini terlalu banyak orang? Tapi Karrel juga bukannya tidak mengenal mereka. Ia juga termasuk akrab dengan Chaby juga kak Danzel. Seharusnya ia tidak merasa canggung lagi.
"Aku hanya merasa lapar." jawab Karrel memberi alasan sambil memasang senyum tipis ke Pika. Pada waktu yang sama seorang pelayan perempuan datang dengan menu. Danzel mengambilnya lebih dulu.
__ADS_1
"Potluck Macaroni and Cheese satu," katanya sambil membaca menu. Sih pelayan mendengar dengan saksama sambil menulis di padnya.
"Beef Wellington satu, Fruit Yogurts dua." Danzel melanjutkan lalu memberikan menu ke Karrel biar lelaki itu memesan sendiri apa yang mau dia makan. Pesanan yang ia sebutkan tadi khusus untuk dirinya dan adik kesayangannya tentu saja. Sih pelayan berbalik pergi setelah menulis pesanan mereka.
Restoran ini tidak terbilang ramai karena harganya yang mahal. Tapi karena kebanyakan yang datang adalah orang berduit dan makanan mereka pun terjamin, restoran ini menjadi salah tempat makan western terkenal di daerah ini, khususnya bagi orang-orang kalangan atas. Orang yang bekerja dengan gaji pas-pasan akan berpikir dua kali masuk kesini.
"Kak Danzel dan kak Galen sering makan disini?" Pika melontarkan pertanyaan sambil menatap kedua pria yang ditanyanya bergantian.
"Yah, kalau nggak sibuk." jawab Galen mewakili. Sebenarnya sih mereka lebih banyak makan di kantin perusahaan. Makanan disana pun tak kalah rasanya dari restoran ini. Pandangan Galen pindah menatap Karrel yang hanya menyimak sejak tadi.
"Bagaimana denganmu? Kau suka makanan western?"
Karrel bergeming. Ia melihat semua orang menatapnya, mungkin sedang menunggu dirinya menjawab. Lelaki itu mengangguk.
"Mm, aku bisa menikmati semua makanan." sahutnya. Ia bukanlah tipe pemilih dalam makanan.
"Kalau wanita? Kau punya tipe tertentu?" Karrel tertawa canggung. Ia tidak berpikir Galen akan melontarkan pertanyaan itu. Ia melirik Chaby sekilas dan menatap Galen lagi. Berbeda dengan semua jenis makanan yang bisa dia nikmati, dalam hal perempuan tentu saja ia tipe yang sangat pemilih. Seumur hidupnya ia bahkan baru pacaran sekali tapi tidak lama karena ternyata mereka tidak cocok.
"Aku sangat pemilih dalam hal wanita. Mungkin karena itu aku belum pacaran lagi sampai sekarang, karena belum dapat yang cocok." gumamnya lalu tersenyum tipis. Yang lain hanya manggut-manggut.
__ADS_1
Galen tersenyum. Bukan tanpa alasan ia bertanya tipikal wanita yang disukai Karrel. Sejak tadi ia melihat lelaki itu terus mencuri-curi pandang ke Chaby. Bahkan saat dia bertanya tad, Karrel dengan refleks menatap Chaby meski hanya sekilas. Sepertinya lelaki itu tertarik pada adiknya.