
Hampir dua Minggu berlalu dan Chaby terus berada di sisi Decklan menjaga Pika. Kata dokter kondisi Pika mulai ada tanda-tanda perubahan. Bahkan kemarin Chaby dan Decklan sempat melihat jemari Pika bergerak.
Mereka pikir Pika sudah mau sadar, ternyata tidak. Namun mereka tetap senang karena Pika mulai ada tanda-tanda akan sadar.
Chaby memutuskan untuk berhenti sekolah sementara dan menjaga Pika. Ia bilang akan masuk sekolah setelah Pika sudah sadar saja.
Decklan dan Galen sempat melarang keras niatnya itu namun keputusan Chaby sudah bulat. Ia tidak mau mendengarkan siapapun dengan keputusan yang itu. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan kedua pria itu setuju dan tidak mau memaksanya lagi.
Hari-hari berlalu. Akhir-akhir ini Decklan, Bara dan Andra mulai sibuk dengan kegiatan sekolah mereka. Tidak lama lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk Universitas. Sebentar lagi mereka bakal jadi mahasiswa. Nggak kerasa ternyata sudah mau setahun Chaby mengenal mereka.
"Kak Decklan nanti mau ambil jurusan apa kalau kuliah?"
tanya Chaby sambil bersandar pada tubuh cowok itu yang duduk di sofa. Mereka sekarang hanya berduaan di kamar rawat Pika.
Mama Decklan sudah pulang ke rumah karena harus menemani Gatan tidur. Papanya sejak tadi sudah balik ke ruang kerjanya, mungkin nanti pria tua itu akan langsung pulang ke rumah kalau tidak sibuk.
Biasanya memang hanya Decklan yang akan menginap di rumah sakit itu kalau malam. Tapi sekarang Chaby sering menemaninya.
Entah kenapa Decklan merasa rumah sakit itu, lebih khususnya kamar tempat Pika di rawat ini sudah menjadi tempat dia dan Chaby pacaran malam-malam begini. Cowok itu tersenyum sambil memainkan jemari Chaby. Dari tadi dirinya asyik memainkan jemari halus itu sampai pertanyaan keluar dari mulut Chaby. Decklan berpikir sebentar.
"Mm, dokter?" jawabnya dengan nada bertanya. Tangannya terus memainkan jemari cewek yang tengah duduk bersandar di dada bidangnya itu.
Chaby mengerutkan alis.
"Kenapa dokter? Kenapa nggak jadi artis aja? Kan wajah kak Decklan ganteng banget, pasti banyak yang suka. Kak Decklan bisa main film terus Chaby bisa dong nyombongin ke orang-orang kalau kak Decklan itu milik Chaby." ujar gadis itu panjang lebar.
Decklan langsung menyentil daun telinga gadis itu pelan. Anak ini memang kalau ngomong nggak mikir-mikir dulu.
__ADS_1
Chaby mengusap-usap telinganya yang gatal lalu menunjukkan ekspresi cemberut yang tidak bisa dilihat Decklan karena posisinya membelakangi cowok itu. Ia lanjut bicara lagi.
"Kenapa? Kak Decklan nggak pengen jadi artis? Kan bagus orang-orang bisa nikmatin wajah kerennya kak Decklan."
Decklan mendengus pelan.
"Aku nggak pengen jual tampang."
Tiba-tiba ia terpikir untuk menggoda cewek itu. Decklan lalu menurunkan kepalanya dan menggigit ****** telinga Chaby dan berbisik serak.
"Cuman kamu yang bisa nikmatin wajah sama tubuh aku." godanya. Siapa suruh gadis itu yang mulai duluan.
Pipi Chaby langsung merona merah seperti kepiting rebus. Ia merasa sangat malu.
Decklan kembali menggigit telinganya yang lain dari belakang, bahkan kali ini cowok itu menyesapnya dalam dan cukup lama membuat Chaby merasa geli. Gadis itu cepat-cepat berdiri sebelum Decklan melakukan hal lain yang akan membuatnya lebih malu lagi.
Decklan tersenyum lebar.
Mata Chaby melebar lalu mundur perlahan. Ketika melihat Decklan berdiri dari duduknya ia langsung terkesiap dan berlari kencang mengitari ruangan itu, mencari tempat yang bisa dibuatnya menjadi tempat untuk bersembunyi.
Decklan tertawa. Pacarnya itu benar-benar menggemaskan. Cowok itu siap-siap mau mengejar namun pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan dua perawat yang biasa memeriksa Pika muncul di ambang pintu masuk.
Para perawat itu merasa keheranan saat melihat Chaby yang kini bersembunyi di bawah tempat tidur Pika. Salah satu dari mereka melirik Decklan.
"Biarin aja sus, dia lagi malu."
ucap Decklan. Perawat itu makin tidak mengerti. Memangnya apa yang di lakukan dua orang itu malam-malam begini? Main petak umpet? Kok pake malu-malu?
__ADS_1
Decklan lalu berjalan ke dekat kasur Pika dan menarik Chaby keluar dari bawah kolong tempat tidur itu. Chaby sudah bersiap-siap mau teriak tapi Decklan buru-buru membekap mulutnya. Bisa-bisa mereka mengagetkan orang lain lagi malam-malam begini. Apalagi rumah sakit sudah sepi.
"Udah sayang, aku nggak bakal godain kamu lagi. Janji." ucap Decklan pelan tapi Chaby masih was-was. Ia menyipit menatap Decklan.
"Kak Decklan nggak bakal gigit telinga aku kayak tadi lagi kan?" tanyanya polos. Kedua perawat saling berpandangan lalu tersenyum. Kini mereka tahu kenapa gadis itu bersembunyi tadi. Astaga. Mereka masih SMA dan sudah melakukan hal yang tidak senonoh seperti itu, di rumah sakit lagi.
Decklan berdeham. Ia jadi tidak enak pada dua perawat itu. Pasti mereka berpikir ia dan Chaby sedang melakukan hal yang tidak-tidak tadi. Cowok itu hanya tersenyum canggung. Nggak ada gunanya juga menjelaskan pada mereka.
***
Pagi-pagi sekali Decklan membangunkan Chaby yang masih ketiduran di sofa. Mamanya akan datang sebentar lagi untuk berganti jaga dan cowok itu harus bersiap-siap pergi ke sekolah.
Decklan berniat mengantarkan Chaby dulu ke apartemen namun gadis itu menolak. Katanya ia bisa pulang sendiri pakai taksi.
Decklan tertawa kecil. Beberapa waktu ini ia selalu memperhatikan Chaby dan melihat perubahan gadis itu.
Meski tidak bisa dibilang itu perubahan yang besar, ia melihat Chaby mulai banyak belajar. Dari yang tidak bisa kemana-mana sendiri, sekarang gadis itu mulai bisa.
Awalnya Decklan dan Galen masih takut-takut membiarkannya sendiri, tapi mereka berpikir gadis itu mulai tumbuh dewasa, tidak mungkin harus bergantung terus pada mereka. Ia harus belajar.
Bagaimana kalau mereka semua sama-sama lagi sibuk dan Chaby hanya sendirian. Kalau mereka terus membiarkannya hidup bergantung pada orang lain, nanti ia tidak akan pernah tumbuh dewasa dan mental penakutnya untuk bertemu dengan berbagai tipe orang tidak akan pernah hilang.
Karena itu Decklan berpikir untuk membiarkan gadis itu belajar mulai dari hal-hal kecil dulu. Ia senang karena Chaby tampak menikmati kegiatannya sendiri. Meski sifat Manja belum hilang-hilang. Tapi justru itulah yang membuat Decklan lebih tertarik. Ada kesenangan tersendiri baginya saat Chaby bermanja-manja padanya.
"Kak Decklan pergi aja. Aku bakalan balik kalo mama Lily udah Dateng." gumam Chaby pelan. Ia masih malas bangun dari sofa besar tempatnya tidur semalam. Decklan membelai pipinya lembut.
"Ya udah, ingat selalu hati-hati kalau lagi jalan sendirian. Jangan suka lari-lari kayak kemaren." ia ingat kemarin Chaby yang lari-lari terus terjatuh di gang rumah sakit itu. Untung nggak apa-apa, hanya lecet sedikit.
__ADS_1
"Siap bos!" balas Chaby.
Decklan terkekeh lalu mencium dahi gadis itu dan berbalik pergi.