GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 78


__ADS_3

Pika makin merasa aneh semenjak Bara menemui kakaknya dirumahnya dua hari yang lalu. Gimana nggak aneh coba kalau besoknya Bara tiba-tiba menghubunginya, menanyakan kapan waktu kosongnya  bahkan mengajaknya jalan.


Semakin Pika pikir-pikir, semakin dirinya semakin merasa bingung. Jangan-jangan kak Bara menyukainya? Gadis itu menggeleng-geleng kuat. Tidak, tidak. Tidak mungkin. Kan kata cowok itu dia udah ada cewek yang dia suka. Udah lama banget malah. Tidak mungkin dia kan. Tapi... Mungkin juga sih, kan mereka sudah lama saling kenal juga. Pika tertawa konyol, dia saja yang terlalu kepedean. Atau jangan-jangan kak Bara suka sama Chaby lagi tapi karena sahabatnya itu udah sama kak Decklan, jadinya kak Bara nutupin rasa sukanya ke cewek itu. Selama ini ia lihat cowok itu emang suka tersenyum kalau mereka lagi ngumpul, apalagi kalau ada Chaby.


Pika mendesah pelan. Kenapa pikirannya jadi kacau begini sih karena nama sih Bara Bara itu. Kenapa juga ia merasa tidak rela saat memikirkan cewek yang kak Bara suka itu adalah Chaby. Apa dia mulai suka sama cowok datar itu? Astaga.


"Pik, kamu ngapain sih? Kok bengong aja dari tadi?" tanya Chaby. Mereka lagi di kelas tapi sang guru yang mengajar hari ini belum masuk-masuk juga.


Chaby merasa Pika aneh. Biasanya tuh cewek selalu cerewet tapi hari ini ia belum bicara sama sekali malah terlihat bingung.


Pika menoleh kesamping.


"Gue lagi mikir aja, kak Bara akhir-akhir ini aneh ke gue." tutur gadis itu. Chaby mengernyit bingung. Ia tidak tahu aneh seperti apa yang Pika maksud.


"Aneh gimana?" tanyanya lagi.


"Suka senyum-senyum sama gue, kadang perhatiin gue, bahkan kemaren nelpon gue nanyain kalau minggu ini gue punya waktu apa nggak. Katanya mau ngajak gue jalan, menurut lo aneh nggak sih?" jawab Pika sekaligus bertanya. Mungkin meminta pendapat orang akan lebih baik.


"Emang kak Bara sering gitu kan sama kamu? Emangnya kamu nggak tahu? Aku sering banget malah liat kak Bara perhatiin kamu terus sama senyum-senyum, apalagi kalau kamu lagi ngomel-ngomel." cerita Chaby. Udah lama malah ia liat Bara sering perhatiin Pika. Pika melotot menatapnya.


"Masa sih? Nggak bohong kamu?" gadis itu bertanya dengan nada seakan tidak percaya. Chaby hanya mengangguk. Entah kenapa Pika merasa senang. Apa kak Bara memang suka sama dia? Ia tidak mau berharap lebih tapi entah kenapa dalam hatinya malah berharap.


"By, waktu lo suka kak Decklan, jantung lo berdetak kencang nggak sih?"

__ADS_1


Chaby terlihat mikir-mikir.


"Nggak juga sih, tapi jantung aku selalu deg degan kalo kak Decklan nyium aku. " sahutnya dan malah senyum-senyum sendiri  mengingat-ingat tiap kali dia dan Decklan ciuman. Pika menatapnya geli. Ada satu waktu ia tanpa sengaja melihat kakaknya dan Chaby berciuman.


"Tapi lo sama kak Decklan belum ngapa-ngapain kan?" selidik Pika, ia jadi lupa dengan pembicaraan mereka tentang Bara tadi. Ia jadi penasaran dan merasa ingin tahu hubungan pacaran Chaby dan kakaknya itu sudah sejauh apa.


"Ngapa-ngapain gimana?" Chaby balas bertanya.


"Yah lo tahu lah, anak-anak jaman sekarang kan kalo pacaran udah kayak suami istri aja, pegang sana pegang sini eh tahu tahunya hamil. Lo sama kak Decklan nggak kayak gitu juga kan?" ujar Pika ceplas ceplos sambil menyipitkan mata ke Chaby membuat mata Chaby sukses membulat lebar.


"Nggak dong Pika, kamu apaan sih." raut wajahnya memerah karena malu. Kali ini Pika mendekatkan wajah ke telinga Chaby.


"Pokoknya lo harus jaga diri. Lo bisa gituan sama kak Decklan kalo udah benar-benar sah, ngerti?" bisiknya pelan dengan nada tegas. Chaby mengangguk lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa mereka jadi bahas masalah hubungan pacarannya sama kak Decklan sih? Ia ingin kembali menanyakan tentang Bara tapi tidak jadi karena ada yang menelpon Pika.


Chaby melihat raut wajah Pika yang senang ketika berbicara dengan seseorang di telpon itu. Ia jadi penasaran siapa orang itu karena mereka ngobrolnya panjang lebar.


"Kita ketemu temen gue yah pulang sekolah." katanya dengan wajah sumringah.


"Temen siapa?"


Chaby tahu Pika punya banyak teman karena tuh cewek sering ikut-ikutan les privat dan banyak kegiatan-kegiatan lainnya. Kalo dibandingin sama dia sih kayaknya Pika jauh banget diatasnya. Pika itu banyak bakatnya dan sudah bisa cari uang sendiri, sedangkan dia?


"Temen gue itu, panutan gue dalam belajar bisnis. Pokoknya lo ikut aja deh." seru Pika. Gadis itu lalu sibuk melihat-lihat gambar di hpnya.

__ADS_1


Chaby masih berpikir. Kayaknya bagus juga dia ikut biar dia bisa dengar mereka bicara soal bisnis dan sekalian curi-curi ilmu. Siapa tahu aja dia bisa cari uang sendiri kayak Pika. Gadis itu terkikik. Ia kemudian melamun betapa senangnya dia kalau sudah bisa hidup mandiri tanpa minta uang dari kakaknya.


"Ngapain lo?" Pika menatap aneh Chaby yang dari tadi terus tertawa-tawa sendiri.


"Nggak." Chaby menggeleng namun masih melanjutkan kegiatannya dengan pikiran yang sama tadi.


"Aneh." kata Pika lagi kemudian kembali sibuk dengan hpnya.


                                   ***


Sekitar jam tiga sore dua gadis itu berhenti di KFC yang terletak di pusat kota Jakarta.


Chaby merutuk menatap Pika. Jelas-jelas cewek itu tahu kalau dia alergi ayam, tapi masih saja membawanya di KFC, bikin ngiler aja liat ayam.


"Karrel!" Seru Pika saat melihat keberadaan teman yang janjian dengannya itu sudah ada.


Lelaki tampan yang duduk dibagian tengah tempat makan itu menaikkan wajah dan menatap lurus kearah datangnya suara. Ia melihat Pika didepan sana bersama...


Karrel mengerutkan kening. Oh, cewek yang waktu itu nangis-nangis depan ruang rawat Pika, terus yang katanya pengen kabur dari rumah tapi nggak jadi karena keburu ketangkap sama kakaknya. Karrel tersenyum tipis, tidak menyangka akan bertemu gadis itu lagi.


"Udah lama nunggunya?" tanya Pika. Mereka sudah berdiri didepan Karrel. Pika menggeser kursi didepan Karrel dan cowok itu menggeser kursi disebelahnya biar sih temannya Pika yang ia ingat namanya Chaby itu bisa duduk.


"Udah nggak kepikiran buat kabur lagi sekarang?" ucap Karrel menatap Chaby sambil tersenyum setengah meledek sementara yang ditatap hanya menyengir. Ia jadi malu mengingat kejadian dulu, wajah cowok itu masih sangat diingatnya.

__ADS_1


Pika menatap bergantian keduanya dengan wajah heran. Ia tidak mengerti dengan perkataan Karrel.


"Maksud kamu apa rel?" gadis itu bertanya karena bingung.


__ADS_2