GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 4


__ADS_3

"Hilang ingatan?"


Aska masih tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Sharon telah menceritakan semuanya. Termasuk Chaby yang sedang hamil muda ketika dia menemukannya. Pantas saja gadis itu tidak mengenalnya tadi. Tapi sebenarnya walau Chaby tidak mengenalnya itu adalah hal yang wajar, mengingat mereka hanya bertemu beberapa kali dulu. Tapi amnesia? Baru sekarang ia bertemu dengan seseorang yang mengalami kejadian hilang ingatan begitu. Tentu saja selain beberapa orang-orang tua atau bahkan anak muda yang punya penyakit demensia, alias pikun.


"Jadi selama ini gadis itu tinggal denganmu?" tanya Aska lagi. Sharon mengangguk.


"Kau tidak membantu mencari keluarganya?" Aska yakin sekali keluarga Chaby sedang tidak baik-baik saja sekarang ini. Mereka pasti masih mencarinya. Aska pernah dengar dari Karrel kalau Chaby adalah kesayangannya banyak orang. Ia sendiri mengakuinya karena pertama kali bertemu gadis itu dia juga sempat merasa tertarik.


"Aku pernah mencobanya, tapi belum ada hasil." ungkap Sharon.


Aska merasa heran. Mereka berada di Jakarta, Kota yang sama dengan Kota yang ditinggali oleh keluarga Chaby. Bagaimana bisa tidak ada hasil apapun. Memangnya kota ini sebesar apa?


Aska ingin bicara lagi namun terhenti saat melihat Chaby muncul dari balik dapur sambil membawa nampan di tangannya. Bocah yang memanggilnya mama tadi mengekor dibelakangnya dengan mulut penuh makanan.


Seketika Aska menahan senyumnya. Mereka begitu mirip. Keduanya sama-sama lucu. Ia masih tidak percaya bocah seperti Chaby itu sudah memiliki seorang putra berusia lima tahun. Menurutnya masih belum cocok. Chaby sendiri masih kelihatan seperti anak-anak. Wajahnya saja yang dewasa, pembawaannya belum cocok jadi ibu, menurutnya. Meski begitu, mama dan anak itu terlihat menggemaskan.


Senyuman di wajah Aska perlahan memudar. Setelah mendengar tentang kejadian yang di alami Chaby, hatinya benar-benar tergerak untuk membantu gadis itu membawanya pulang pada keluarganya. Namun, melihat Chaby yang begitu menawan dimatanya sekarang ini, perasaan egois mulai berkecamuk dalam pikirannya. Apa dia diam saja dulu dan pura-pura tidak mengenal gadis itu, supaya bisa menggunakan waktu mendekatinya ketika gadis itu masih hilang ingatan?


Aska cepat-cepat membuang jauh-jauh pikiran jahatnya itu. Astaga, apa yang dia pikirkan. Sungguh kejam dan sangat egois. Pandangannya terus fokus ke Chaby yang kini meletakkan nampan itu diatas meja sofa dan mengambil dua gelas berisi teh lalu di letakkan di meja. Ia tidak menyadari Aska terus mengamatinya. Aska sendiri tidak sadar kalau Sharon sedang mengamatinya juga.


Sejak tadi Sharon melihat raut wajah Aska yang sepertinya mengenal sosok Chaby yang dia panggil Sia itu. Aska juga biasanya tidak pernah mempedulikan wanita yang berada disekitarnya. Kecuali almarhumah adiknya dulu yang merupakan kekasihnya sendiri. Namun sejak tadi sosok Chaby selalu menjadi perhatian pria itu.

__ADS_1


"Ayo di minum," kata Chaby dengan senyum cerah. Ia menarik Arion lalu duduk bersebelahan dengan Sharon. Arion duduk di pangkuannya. Aska masih terus menatap gadis itu.


"Kau benar-benar hilang ingatan?" tanyanya memastikan. Meski sudah pasti sih. Chaby melirik Sharon sebentar, kemudian menatap Aska lagi dan mengangguk polos. Sharon makin yakin Aska mengenal Chaby.


"Aska, kau kenal Sia?" pertanyaan Sharon membuat Chaby membulatkan matanya. Pria tampan ini mengenalnya? 


"Kamu kenal aku? Kalau begitu kau kenal suamiku juga? Atau jangan-jangan kita berdua suami istri lagi!" seru Chaby asal ngomong Sakin antusiasnya. Aska dan Sharon melongo sesaat kemudian terdengar gelak tawa keras milik Aska.


Sifat Chaby ini memang tidak berubah dari dulu. Tetap blak-blakan. Seperti dulu di kampus, waktu gadis itu meminta nomor telponnya.


"Sia, kalau kau istrinya aku sudah tahu karena aku akan berada di pernikahan kalian. Kita juga tidak akan kesulitan menemukan keluarga kamu." ujar Sharon merasa malu dengan kelakuan Chaby. Sifat ibu satu anak ini sungguh membuatnya kadang geleng-geleng kepala.


"Mama, Ali mau itu," Arion menunjuk sebuah benda di ransel Aska. Gantungan kunci model piano.


"Nggak boleh, itu punyanya om ganteng."


"Tapi Ali suka mamaaa..," rengek Arion. Wajahnya terus memelas, menunjuk gantungan kunci milik Aska.


Aska sendiri tersenyum tipis. Gantungan kunci itu ia beli waktu berada di Paris dulu. Memang mahal dan itu adalah salah satu barang kesukaannya, namun ia rela memberikannya pada anak kecil bernama Arion itu. Aska lalu mengeluarkan benda kecil itu dari ranselnya dan memberinya pada Arion.


"Kalau kamu suka ambil aja nih," kata Aska memberikan gantungan itu ke Arion. Arion langsung mengambilnya dengan wajah senang.

__ADS_1


"Makacih om ganteeng," seru Arion senang. Aska tersenyum lebar mengacak-acak rambut Arion.


"Gak apa-apa nih?" tanya Chaby menatap Aska tidak enak. Pria itu tersenyum lagi sambil menggeleng. Sharon keheranan karena sikap Aska cukup berbeda pada Chaby. Ia makin yakin Aska kenal gadis itu.


Aska sendiri sadar kenapa Sharon terus menatapnya dari tadi. Gadis itu butuh penjelasan, pasti. Ia menghela nafas. Memang ia sempat berpikir untuk tidak bilang apa-apa terkait dengan dirinya yang mengenal Chaby, tapi itu terlalu jahat. Apalagi Chaby punya anak, sudah seharusnya keluarganya tahu dimana keberadaan gadis itu, terlebih lagi suaminya.


Aska memang tidak tahu dimana tempat tinggal keluarganya, tidak kenal siapa suami Chaby, tapi ada Karrel. Ia bisa bertanya pada Karrel nanti. Baiklah, saatnya memberitahu.


"Aku memang kenal kamu," Aska menatap Sharon dan Chaby bergantian. Keduanya balik menatapnya senang. Akhirnya setelah bertahun-tahun. Sharon senang sekali. Tahu-tahu begitu dari dulu saja Aska datang ke rumahnya biar dia bisa melihat Chaby dan langsung mengenalinya. Dengan begitu Chaby bisa segera bertemu keluarganya.


Sekarang sudah enam tahun, entah bagaimana dengan keluarga gadis itu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya kesempatan besar untuk menemukan keluarga Chaby itu akhirnya datang juga.


"Nama kamu Chaby," ucap Aska lagi.


"Chaby?" suara polos itu milik Arion. Ketiga orang dewasa didekatnya sama-sama menatap anak kecil itu.


"Ari, main dikamar gih. Mama mau ngomong serius sama om ganteng dan tante Sharon," ucap Chaby menurunkan Arion dari pangkuannya dan mendorong pelan putra lucunya itu. Arion menurut saja karena lebih fokus dengan mainan barunya pemberian Aska tadi. Chaby kembali menatap Aska setelah memastikan Arion sudah masuk kamar.


"Chaby? Kok jelek banget yah, kamu yakin nama aku Chaby? Gak princess Diana atau ratu Elisabeth gitu, biar cocok sama wajah aku yang cantik ini." kata Chaby sambil berlagak sok cantik dengan mata berkedip-kedip. Ia merasa nama itu tidak cocok untuknya.


Aska hampir tertawa keras namun ditahannya. Ada-ada saja. Namanya sendiri dibilang jelek. Jadi ini maksudnya ngomong serius yang dia bilang sama anaknya tadi? Apanya yang serius. Aska bahkan bisa melihat wajah malu Sharon akibat kelakuan Chaby.

__ADS_1


__ADS_2