
Andra melirik Decklan yang sedaritadi tersenyum sendiri menatap layar ponselnya. Mereka sedang menghabiskan waktu kosong sore ini di salah satu tempat bermain golf. Andra tahu semenjak Decklan menemukan istri dan anaknya, pria itu jadi lebih banyak berekspresi dan terlihat senang. Tapi kadang Andra merasa aneh saja. Decklan yang biasa dilihatnya ketika memasang wajah dingin dan tak tersentuh pada orang lain, dan Decklan yang sekarang ini benar-benar seperti dua orang yang berbeda.
"Apa yang kau lihat?" tanya Andra meski ia yakin yang dilirik Decklan di ponselnya itu berhubungan dengan Chaby. Ia sudah bisa menebak dari raut wajah bahagia yang terpampang jelas di wajah sahabatnya itu. Hanya Chaby yang bisa membuat pria itu terlihat seperti orang gila begini. Decklan mengerlingkan matanya sejenak lalu memperlihatkan layar ponselnya ke Andra.
Di sana ada beberapa gambar Chaby yang gadis itu kirim lewat Wa dengan berbagai pose lucu yang dia lakukan khusus buat Decklan. Andra ikut tertawa kecil.
"Kau pasti sengaja menyuruhnya melakukan itu karena dia meminta sesuatu bukan?" tebaknya. Decklan menggeleng. Tebakan Andra tidak sepenuhnya benar.
"Dia memang memohon sesuatu dariku, tapi gambar ini aku tidak memintanya melakukannya. istriku itu memang sengaja mau merayuku." dahi Andra berkerut samar. Decklan melanjutkan.
"Chaby memaksaku pergi ke Korea hari ini. Katanya ingin bertemu dengan papanya." ucap Decklan. Ia tertawa mengingat perdebatan kecil mereka pagi tadi sebelum berangkat kerja.
Chaby terus mendesaknya berangkat ke negeri ginseng itu sore ini juga. Tentu saja Decklan langsung menolak. Dipikirnya gampang apa mengurus semua urusan keberangkatan ke sana. Belum lagi dia harus ijin cuti kerja sama papanya. Decklan memang tidak sepenuhnya menolak Chaby, ia hanya keberatan dengan waktu yang istrinya itu tentukan.
"Hari ini?" mata Andra membulat penuh. Lalu tertawa. Chaby ada-ada saja. Dia pikir jarak Korea dan Indonesia sedekat Jakarta-Surabaya apa. Belum lagi paspor, Visa dan beberapa dokumen lain yang masih harus di urus juga.
"Jadi, kau akan menuruti permintaannya?" Andra bertanya lagi.
__ADS_1
"Yah, secepat mungkin tapi tidak hari ini. Sekalian membawa mereka jalan-jalan." gumam Decklan.
"Mereka?"
"Kami berdua tidak mungkin meninggalkan Arion bukan? Juga ada adik Arion dalam perut Chaby." Decklan melirik Andra sekilas.
"Ah, benar." ujar Andra mengangguk mengerti. Ia jadi ingat Chaby lagi hamil juga.
"Masalah Bara dan Pika bagaimana?" pria itu mengubah topik. Semalam dirinya memang sempat berpikir pasangan itu bertengkar. Sikap Bara menunjukkan semuanya. Ketika ia bertanya pada Decklan pagi tadi, ternyata benar. Decklan sudah cerita semuanya. Semua yang terjadi semalam. Ia masih tidak menyangka Pika akan berbuat sampai sejauh itu.
"Aku sudah bicara dengan Bara. Sekarang biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur." ujar Decklan. Bara dan Pika sudah sama-sama dewasa. Menurutnya terserah mereka berdua saja bagaimana mau menyelesaikan masalah yang terjadi diantara keduanya. Yang pasti, sebagai sahabat dan seorang kakak, ia mengharapkan akhir yang baik buat keduanya.
Andra mengikuti Decklan untuk ikut bermain. Permainan golf hari ini ditutup dengan makan bersama keduanya sambil membahas rencana pembaharuan buat rumah sakit mereka. Decklan dan Andra sedang bekerja sama dan membagi pikiran untuk membuat rumah sakit mereka lebih maju lagi dan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi untuk semua pasien agar mereka merasa nyaman berada di rumah sakit. Memang menurut Andra, Decklan adalah seseorang yang pas untuk bekerja sama dengannya. Mereka punya pemikiran yang sama.
***
Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali Chaby sudah bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan seluruh badannya, mengingat mereka akan segera berangkat ke kampung halamannya di Seoul jam sembilan nanti. Dia sedikit mempercepat mandinya karena masih ada Arion juga yang harus dia urus setelah ini. Semua pakaian yang akan mereka bawa sudah ia masukan ke dalam koper.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi, Chaby melihat suaminya yang masih asyik-asyikan dalam tidurnya. Ia berdecak pelan lalu berjalan mendekat dan berjongkok di tepi tempat tidur.
"Kak Decklan, bangun." ucap Chaby dengan suara lembut sambil menggoyang-goyang pelan tubuh suaminya pelan-pelan. Padahal biasanya Decklanlah yang lebih sering membangunkannya di pagi hari begini. Hari ini terbalik.
"Kak Decklan sayang, ayo cepetan bangun. Udah jam enam lewat. Nanti kita telat ke bandara loh." ucap Chaby lagi. Suaminya itu kalau mandi lebih lama dari dirinya. Entah apa saja yang dilakukan pria itu di kamar mandi. Jadi ia harus membangunkannya sekarang juga.
"Hmm.. hhnnggg..." erang Decklan. Ia mengerjap-ngerjakan matanya karena baru bangun dan masih setengah sadar. Ketika ia mulai mendapatkan kesadarannya dan melihat Chaby, ia tersenyum pada istri tercintanya itu.
"Pagi sayang," gumam Decklan menarik Chaby hingga gadis itu kini terduduk disampingnya.
"Ayo cepet mandi sana. Kan kita bakal berangkat sebentar lagi." suruh sang istri. Decklan terus menatap Chaby lama kemudian mengulurkan kedua tangannya kedepan Chaby.
"Mandiin," gumamnya manja. Tidak ada salahnya kan bermanja-manja pada istri sendiri. Mata Chaby langsung membulat lebar dan memukul pelan lengan suaminya.
"Nggak ada, mandi sendiri sana. Aku mau mandiin Arion!" katanya galak. Dasar suami mesum. Ia tahu kalau pria itu sudah bicara begitu dan jika dirinya menurut saja, bisa-bisa mereka melakukan beberapa ronde lagi dan mungkin bisa ketinggalan pesawat nanti. Jangan harap.
Decklan langsung memasang wajah cemberutnya karena mendapat penolakan dari sang istri. Tapi terlihat lucu didepan Chaby. Pria itu lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan malas-malasan. Chaby hanya tersenyum geli. Semua orang mungkin melihat suaminya itu sangat sempurna saat berhadapan dengan mereka, hanya dirinya yang tahu sikap sebenarnya seorang Decklan. Kalau hanya berdua begini, pria itu sangat berbeda jauh dengan waktu sedang bersama orang lain. Decklan selalu bersikap manja dan kadang akan terlihat kekanak-kanakan kalau lagi bersamanya.
__ADS_1
Gadis itu lalu merapikan tempat tidur, menyiapkan pakaian buat dipakai suaminya nanti yang ia letakkan di atas tempat tidur, kemudian keluar. Pergi ke kamar Arion, membangunkan putra tercintanya itu dan memandikannya. Chaby tidak pernah merasa lelah mengurus kedua orang yang dia sayangi itu. Mereka adalah sosok yang paling penting dalam hidupnya. Apalagi sebentar lagi akan hadir adik Arion di antara mereka. Chaby merasa sangat bahagia. Hidupnya sangat diberkati.