
Selamat membaca😉
________________
London, Inggris
Decklan membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan
lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Lalu ia memaksa diri berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah diseret-seret ke meja tulis di depan jendela untuk mematikan lampu meja yang masih
menyala dan memandang ke luar jendela.
Tidak biasanya langit kota London terlihat cerah. Sepertinya musim semi yang di tunggu-tunggu sudah tiba. Decklan membuka jendela dan menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dan seluruh tubuhnya yang masih lemas dengan semangat musim semi. Tetapi karena udara masih terasa dingin, Decklan cepat-cepat menutup jendela dan menggosok-gosok kedua tangannya. Matanya terarah ke jam kecil di atas meja lalu mengerang pelan. Sudah waktunya ia siap-siap ke kampus.
Decklan berjalan ke pintu kamar tidur dan bersiap membukanya. Langkahnya terhenti ketika sebuah pesan notifikasi di ponselnya berbunyi. Decklan lalu kembali, mengecek siapa yang mengiriminya pesan. Bisa saja kan dari sang pacar tercinta.
Pria itu mengerutkan kening. Bukan pesan dari Chaby tapi Pika sang adik. Apa yang dia kirim, video? Decklan langsung memutar isi video itu setelah berhasil terdownload.
Tangan Decklan mengepal kuat, ia melempar ponselnya dengan kasar keatas kasur. Pria itu mengacak-acak rambut dengan tangan, lalu berkacak pinggang, isi video yang dikirim Pika membuat rasa cemburunya bercampur amarah langsung bangkit. Pria itu membuang nafas kesal lalu menunduk sebentar untuk mengendalikan diri. Brengsek. Ia merasa tidak berdaya. Berani sekali Chaby memuji-muji cowok lain bahkan meminta nomor telponnya. Argh! Decklan mengerang kesal.
Tidak, tidak. Ia harus melakukan sesuatu. Decklan berjalan bolak-balik dalam kamarnya dengan wajah kelimpungan. Ia bahkan sudah lupa kalau hari ini dirinya ada kelas. Bagaimana mau ingat coba kalau pikirannya lagi fokus ke yang lain, pada seseorang yang lebih penting dari semuanya. Persetan dengan LDR, ia tidak tahan lagi.
Decklan lalu berjalan membuka pintu kamar dengan gerakan cepat, mengagetkan salah satu temannya yang baru mau mengetuk pintu. Teman bule yang tinggal di apartemen itu bersamanya. Namanya Lucas. Lucas menatap lurus ke Decklan, ia merasa lelaki itu sedikit berbeda hari ini. Tampangnya muram dan terlihat marah.
"Kau tidak ke kampus?" tanyanya dengan bahasanya saat melihat Decklan masih dengan gaya baru bangun tidurnya. Decklan melirik lelaki itu sebentar,
__ADS_1
"Aku akan segera membuat pengajuan pindah ke kampus lamaku." balasnya langsung membuat keputusan tanpa berpikir. Ia tidak mau lagi terpisah jauh dengan Chaby. Ia pikir dirinya akan sanggup menahan diri sampai selesai, sayangnya ternyata tidak bisa. Mungkin ia akan mengecewakan papanya, tapi ia akan mencari cara untuk menebusnya nanti.
Lucas sih bule itu menatap Decklan heran.
"Why?" ia berpikir mungkin Decklan punya masalah. Apalagi raut wajahnya itu tampak tidak baik.
"Aku ingin segera menemui peliharaanku dan memberinya hukuman."
Emosi Decklan tadi sedikit mereda karena merasa lucu dengan perkataannya sendiri. Kata peliharaan memang cocok buat Chaby, satu kata itu entah kenapa membuat kebahagiaan tersendiri dalam hati Decklan. Dan hukuman, dia memang harus memberi gadis itu hukuman. Enak saja main minta-minta nomor pria lain.
Decklan bisa lihat ekspresi bingung Lucas namun akan panjang kalau dirinya menjelaskan. Lucas adalah tipikal pria yang tidak akan pernah berhenti bertanya, sedangkan kakinya sudah sangat gatal untuk terbang ke Jakarta.
"Man, aku akan menjelaskan nanti." ujar Decklan menepuk pelan pundak Lucas, melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri secepat mungkin. Setelah mandi, ia mengambil apa saja yang akan dibawahnya kemudian bergegas ke bandara. Lucas hanya terbengong-bengong karena Decklan yang dilihatnya sekarang sangat tidak biasa. Biasanya pembawaan pria itu selalu tenang. Dan sekarang ia malah keluar membawa koper? Apa dia ada masalah?
***
Pandangan Bara berpindah ke Chaby dan Andra yang tengah sibuk bermain bulu tangkis di halaman belakang rumahnya. Seperti biasa, mereka tidak pernah absen ngumpul bareng kalau semuanya lagi punya jam kosong. Hanya saja kalau dulu ada Decklan, sekarang mereka harus sabar berempat dulu. Andra dan Chaby juga akhir-akhir ini lagi suka banget olahraga bulu tangkis. Terkadang mereka akan main berempat, namun sekarang Pika lagi malas main. Bara yang tidak punya pasangan lain, akhirnya memilih tidak ikut main juga.
Bara menggeser badannya mendekat ke Pika.
"Kamu ngeliatin apa sih? Kok berubah-berubah gitu ekspresinya?" tanya Bara penasaran. Pika mendongak menatap cowok itu.
"Kak Bara liat deh." ia lalu memutar video yang di ambilnya kemarin. Bara menonton dengan serius.
"Kok bisa Chaby minta nomor cowok itu?" tanya Bara merasa aneh.
__ADS_1
"Aku yang nyuruh, soalnya ganteng banget sih kak Aska." balas Pika tanpa sadar. Ia tidak melihat pandangan Bara sudah berpindah dan menatapnya tajam. Ekspresinya tidak terlihat senang.
"Kenapa nyuruh? Karena wajah tuh cowok lebih ganteng dari aku?" Bara merasa cemburu. Cowok dalam gambar itu memang terlihat sangat tampan menurutnya.
Pika menyengir lebar. Aduh, tuhkan jadi salah ngomong. Maksudnya bukan itu.
"M..maksud aku, aku sengaja maksa Chaby minta nomornya kak Aska biar bisa rekam videonya dan kirim ke kak Decklan. Aku cuman pengen tahu responnya kak Decklan, itu aja." jelas Pika panjang lebar. Niatnya mau bikin kakaknya cemburu, eh malah pacarnya ikut-ikutan cemburu. Ini sih namanya senjata makan tuan.
Bara menyipit menatap Pika.
"Bener?" tanyanya memicingkan mata.
"Suer." balas gadis itu takut-takut. Bara masih menatapnya tajam lalu memilih percaya. Pika bernafas lega. Ia kembali melirik ponselnya.
"Tapi, kok kak Decklan nggak respon-respon juga yah. Cuman liat doang." gumamnya. Masa kakaknya nggak cemburu. Bara mengusap-usap kepalanya.
"Menurut aku, kamu udah bikin kesalahan besar."
Pika menatap Bara tidak mengerti.
"Kamu nggak kenal Decklan? Kalau nggak ada respon, kemungkinan besar kakak kamu itu bakal langsung kesini."
mata Pika melotot. Mana mungkin, ia masih tidak percaya. Masa kakaknya senekat itu sih. Kan Chaby nanya nomor doang, bukan ngajak pacaran.
"Siapa yang bakalan kesini?" tanya Andra yang tiba-tiba muncul. Chaby mengikutinya dari belakang sambil mengusap keringat di leher dan wajahnya. Mereka berdua sama-sama melirik Bara dan Pika yang saling menatap.
__ADS_1
"Ng..pesanan grap aku." sela Pika cepat. Bara hanya tertawa. Otak pacarnya encer juga.