
"Tante Sharon..." Arion bangkit dari kursi tunggu di depan bandara dan berlari ke Sharon yang muncul bersama Danzel. Mereka sudah sampai hampir setengah jam yang lalu di Jakarta setelah penerbangan panjang dari Korea. Sebenarnya Decklan tidak perlu meminta jemputan dan pulang dengan taksi saja ke rumah.
Tapi ketika turun dari pesawat istrinya tiba-tiba mengeluh tidak enak badan. Tentu saja Decklan khawatir. Pria itu langsung menelpon Andra untuk menjemputnya. Sayang sekali Andra tidak bisa karena kebetulan ada operasi hari ini. Ia kemudian menelpon mamanya, tapi sama saja. Mamanya sedang kumpul-kumpul dengan genk ibu-ibu sosialitanya. Decklan akhirnya memilih untuk menelpon Danzel. Tidak ada yang lain lagi dalam pikirannya saat ini. Ia juga bisa sekalian menitip putranya pada kakak istrinya itu selama dirinya menemani Chaby.
Sharon menyambut Arion dalam pelukan sambil tersenyum mengacak-acak rambut bocah itu. Ia memang lagi berduaan dengan Danzel ketika Decklan menelpon tadi, jadi ia juga memutuskan ikut bersama Danzel ke bandara.
Sementara itu, Danzel melangkah ke arah Decklan dan Chaby yang masih duduk di kursi ruang tunggu depan bandara. Pandangannya lebih fokus ke sang adik yang terus memeluk lengan Decklan dengan kepala bersandar didada pria itu. Chaby terlihat agak lemah dan sesekali merengek. Mengingatkan Danzel pada masa lalu, ketika Chaby belum menikah dan masih tinggal dengannya. Dulu gadis itu juga sering seperti ini apalagi kalau sakit, pasti manjanya minta ampun. Tidak mau ditinggalkan sedetikpun oleh orang-orang yang dia sayang.
"Dia sakit apa?" pandangan Danzel berpindah ke Decklan. Tangan Decklan terus mengusap-usap kepala Chaby untuk memberi gadis itu kenyamanan. Ia mendongak menatap Danzel tanpa menghentikan kegiatannya.
"Agak pusing, dan perutnya mual. Mungkin efek hamil dan kelelahan karena seharian di pesawat." sahut Decklan pelan. Danzel mengangguk mengerti.
"Kau bolehkan antar kami ke rumah sakit, sekalian jagain Arion hari ini? Aku ingin fokus mengurusnya dulu." Danzel langsung mengangguk tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Ia sendiri khawatir melihat Chaby sakit. Ia tidak mau adiknya kenapa-napa. Sudah cukup Chaby menghilang bertahun-tahun dari hadapannya.
"Kak Decklan.." gumam Chaby dengan suara merengek. Matanya terus tertutup hingga ia tidak menyadari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Aku haus," Decklan cepat-cepat mengambil botol air minum bekasnya tadi dan meminumkan ke Chaby dengan lembut. Danzel hanya senyum-senyum melihat kemesraan mereka. Itulah alasannya kenapa dia tidak menyesal adiknya menikah dengan laki-laki seperti Decklan. Karena Decklan adalah tipe pria yang sangat perhatian pada pasangannya dan benar-benar mencintai adiknya dengan tulus. Tidak sia-sia mereka menikah muda, karena dalam pandangannya, cinta mereka selalu bertumbuh lebih dalam setiap hari. Danzel mau menjadi pria seperti Decklan yang memperlakukan pasangannya dengan begitu tulus dan penuh cinta.
Mata Danzel tanpa sadar berpindah ke Sharon yang tengah berdiri bersama Arion di sana. Ia berjanji akan membahagiakan wanita itu. Sebentar lagi, dia akan menjadikan Sharon istrinya. Dirinya sudah bertekad.
"Ayo ke rumah sakit sekarang." ucap Danzel kemudian. Ia mengambil koper besar di samping suami istri itu dan berjalan lebih dulu ke mobil. Sementara Decklan hanya bisa berjalan perlahan karena sang istri yang terus merengek manja padanya.
Bahkan sampai mereka di rumah sakit Chaby tidak mau melepaskan tangan Decklan. Padahal sejak tadi pria itu sudah merasa tubuhnya keram. Tapi dia bisa apa coba, kalau istrinya sedang merengek manja begini apalagi karena sakit, pria itu juga tidak bisa apa-apa.
"Mama kenapa pa?" Arion ikut nimbrung memeluk mamanya dari belakang. Mau tak mau Danzel langsung mengambil alih menggendong bocah itu agar tidak membuat dokter dan dua perawat yang ada di situ makin merasa kesulitan.
"Mama kamu cuman sakit dikit Ari, ijinin tante dokter periksa mama kamu bentar ya." gumam Danzel lalu memberikan Arion ke Sharon.
"Kamu sama Ari ke mobil aja, aku nyusul bentar lagi." katanya pada sang kekasih. Tak lupa menyerahkan kunci mobil yang diambil dari dalam saku celananya. Sharon mengangguk. Ia melirik Chaby sebentar kemudian berbalik keluar bersama Arion.
__ADS_1
"Mama Ari nggak kenapa-napa kok. Ari sama tante Sharon dulu yah, sampe mama Ari sembuh." gumam Sharon sambil berjalan menuju mobil bersama bocah dalam gendongannya tersebut. Arion mengangguk patuh.
Didalam ruangan, akhirnya Decklan bisa bernafas lega. Chaby sudah mau di suruh berbaring. Dengan begitu dia bisa merenggangkan tangannya yang mati rasa sesaat. Ia membiarkan dokter Nanda memeriksa istrinya.
"Dokter tahu istri dokter lagi hamil muda?" tanya dokter Nanda di sela-sela memeriksa Chaby. Dua perawat yang berdiri didekat situ saling berpandangan. Decklan sendiri mengangguk sambil melemaskan tangannya.
"Kenapa, ada yang salah dengan istri saya?" Decklan balik bertanya sementara dokter Nanda menggeleng dengan senyum ramahnya.
"Tidak ada dok, saya hanya berpikir anda mungkin belum tahu tentang kehamilan istri anda. Istri anda hanya pusing dan kelelahan karena efek hamil. Itu hal yang wajar. Saya rasa anda pasti sudah tahu bagaimana caranya mengurus perempuan yang sedang hamil." dokter Nanda menjelakan. Decklan juga seorang dokter yang menurutnya jauh lebih hebat darinya. Status mereka di rumah sakit ini saja berbeda. Meski bukan khusus menangani kandungan, pasti pria itu tahu langkah-langkahnya menangani orang hamil.
Decklan mengangguk.
"Kalau begitu saya akan memberikan obat agar istri anda bisa tidur supaya saat bangun nanti ia akan merasa lebih baik." kata dokter Nanda lagi. Salah satu perawat langsung menyodorkan obat padanya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dokter itu keluar bersama dua orang perawat yang mengikutinya tadi.
Dokter Nanda sempat terpesona sebentar ketika dirinya berjalan melewati Danzel. Pria itu sangat tampan dimatanya dan begitu menarik, wajar kalau dirinya terpesona. Kira-kira apa hubungannya dengan dokter Decklan dan istrinya? Tatapan pria itu yang terkesan dingin membuat Nanda menunduk malu dan makin mempercepat langkahnya keluar dari situ.
__ADS_1