
"Gila, kekuatannya dokter Decklan tidak main-main, padahal belum lama-lama amat ia bertemu dengan istrinya, tapi sudah hamil anak kedua lagi."
"Rahim istrinya yang subur banget."
dua perawat itu tidak berhenti-berhenti saling bergosip heboh setelah keluar dari ruang rawat Chaby.
"Kamu liat nggak pria tampan yang masuk bersama dokter Decklan tadi? Wajahnya kayak oppa-oppa Korea banget. Keren abis pokoknya." seru perawat bertubuh agak gempal itu antusias.
"Kayaknya dia kakak iparnya dokter Decklan deh. Kalau tidak, mana mungkin dia diijinin megang-megang istrinya dokter Decklan kayak tadi. Kamu tahu sendiri kan dokter Decklan itu terkenal posesif banget sama istrinya. Menurut aku sih laki-laki tadi pasti ada hubungan dekat sama istrinya dokter Decklan, wajah mereka aja mirip." pungkas perawat yang satunya lagi. Mereka tidak tahu pembicaraan mereka itu didengar oleh dokter Nanda.
Nanda mulai berpikir. Kakak iparnya dokter Decklan? Kalau benar seperti yang mereka bilang, dirinya mungkin bisa mengambil kesempatan mendekati istrinya Decklan untuk bertanya-tanya tentang pria itu. Wanita itu tanpa sadar tersenyum senang. Kalau bisa berkenalan dengan pria setampan tadi, dia juga mau.
"Kenapa denganmu?" Luna menatap aneh ke Nanda yang masuk ruangan kerja mereka sambil senyum-senyum sendiri. Jelaslah dirinya merasa aneh. Tingkah Nanda sudah seperti orang sinting saja.
"Kamu tahu, tadi aku baru saja menemukan pujaan hati aku." gumam Nanda masih belum melupakan wajah Danzel. Hatinya masih berseri-seri. Luna merasa geli sendiri. Ia dan Nanda termasuk dekat. Mereka sering curhat-curhatan.
__ADS_1
Sebenarnya lebih banyak Luna yang mendengar curhatan Nanda yang kadang membuatnya jenuh karena menurutnya terlalu bertele-tele. Luna adalah tipikal wanita yang tidak begitu suka bertele-tele dan tidak ingin menceritakan sesuatu seperti rahasia pribadinya pada orang lain, sahabat sekalipun. Ia lebih suka menyimpannya sendiri. Itu sebabnya Nanda tidak pernah tahu kalau dirinya menyukai Decklan. Memang sih banyak staf yang sering bergosip tentang dirinya yang menyukai anak direktur rumah sakit itu, tapi Nanda tidak percaya gosip itu. Karena Luna tidak pernah bercerita. Ia juga tidak percaya seorang Luna akan menyukai pria yang sudah beristri
"Laki-laki itu sangat tampan. Wajah dinginnya menjadi kelebihan tersendiri. Pokoknya aku suka semua yang ada pada pria itu. Kira-kira dia sudah punya pacar belum ya? Kalau belum aku bisa nggak daftar jadi pacarnya. Ah, pokoknya aku harus bertanya pada istrinya dokter Decklan." perkataan panjang lebar dari mulut Nanda dan mendengar wanita itu menyebut istri Decklan membuat Luna tertarik.
"Kenapa harus bertanya pada istrinya dokter Decklan?" tanyanya.
"Karena aku dengar pria tampan itu adalah kakak dari istrinya dokter Decklan." sahut Nanda. Luna baru mengerti.
"Gimana caranya kamu nanya? Istri dokter Decklan bukannya ngga kenal kamu?" tanya Luna lagi.
"Istri dokter Decklan sedang hamil lagi?" tanya Luna bukan karena senang. Saat Nanda menganggukan kepala, Luna mengepal tangannya kuat-kuat. Ia tidak rela Decklan, laki-laki yang dia sukai itu mempunyai banyak anak dari istrinya. Memang pikirannya ini tidak sehat, tapi ia tidak peduli. Ia bahkan menyumpahi biar Decklan dan istrinya yang bodoh itu cepat bercerai. Kejam memang, tapi Luna tidak merasa berdosa sedikitpun. Ia ingin mendapatkan Decklan, entah kenapa ia sangat menginginkan lelaki itu, seolah hanya Decklanlah laki-laki paling pantas untuk dirinya di dunia ini.
***
Decklan masuk ke kamar perawatan
__ADS_1
Chaby malam kira-kira jam sembilan, Andra sedang berjaga di sana karena sore tadi dirinya langsung disibukan dengan pekerjaan dari papanya yang sama sekali tidak bisa dia tolak. Andra kebetulan sudah tidak ada shift malam, jadi Decklan meminta pria itu menjaga istrinya sebentar. Dengan senang hati Andra melakukannya.
"Dia masih ketiduran?" tanya Decklan dari belakang Andra. Matanya fokus ke Chaby. Andra menoleh lalu mengangguk.
"Kau sudah memberinya makan?" kali ini Andra terkekeh.
"Tenanglah. Istrimu itu makan banyak sebelum tertidur tadi." katanya. Decklan ikut tersenyum. Mengenai makan, mereka memang tidak perlu memaksa Chaby. Karena gadis itu sangat suka makan.
"Aku boleh pulang kan sekarang?" tanya Andra kemudian. Ia sudah lelah seharian ini dan ingin cepat-cepat pulang menikmati ranjang empuknya.
Saat melihat Decklan menganggukan kepala, Andra langsung bangkit dari kursi.
"Thanks ya, udah jagain Chaby." ucap Decklan. Andra hanya tersenyum lalu keluar. Tidak lupa menutup pintu.
Decklan berbalik memandangi istrinya yang sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan tak bersuara, ia berjalan menuju pintu untuk menguncinya dan membalikkan langkahnya ke tepi tempat tidur lalu berdiri dekat disana mengawasi Chaby.
__ADS_1
Begitu damai istrinya ini terpejam dalam lelapnya, membuat Decklan senang berlama-lama menatap wajah cantik yang tertidur begitu damai itu. Decklan sedikit membungkuk, lalu menyentuh pelan pipi Chaby. Gadis itu mengerang pelan lalu mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak terbangun. Decklan lalu menunduk dan mengecup bibir Chaby, merasakan manisnya bibir itu, sampai kemudian dia larut dalam gairahnya yang tertahan dan *****@* bibir Chaby.