GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 115 End


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak pernikahan Decklan Chaby. Karena keduanya sama-sama sibuk menghadapi kegiatan kampus masing-masing, mereka harus menunggu sampai keduanya sama-sama tidak sibuk lagi. Decklan berencana akan membawa Chaby berbulan madu ke Paris. Mereka akan mengunjungi banyak tempat wisata disana. Pokoknya Decklan akan memanjakan sang istri di tempat-tempat romantis kota Paris.


Pagi hari yang mendung, hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat suasana pagi gelap dan temaram. Chaby menarik selimutnya sampai ke pundak, merasa lelah dan mengantuk luar biasa. Lalu dia merasakan lengan itu melingkari


pinggangnya, lengan yang kuat, memeluknya dengan posesif.


Chaby mengerutkan kening, membuka matanya pelan dan menunduk melihat lengan itu, kesadarannya kembali... Itu lengan Decklan, suaminya.


Suaminya. Pipi Chaby memerah dan dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat. Decklan benar-benar telah menjadi suaminya yang sesungguhnya, sudah satu minggu.


Ingatannya melayang kepada malam sebelumnya dimana Decklan berlaku sangat


lembut kepadanya, menyentuhnya dengan hati-hati dan penuh penghormatan, lalu Decklan memberinya pengalaman luar biasa


dan membuat mereka benar-benar menjadi suami isteri.


Lengan Decklan yang memeluknya bergerak, lelaki itu rupanya terbangun dan langsung mengecup pipi Chaby dari belakang dengan lembut.


"Pagi sayang." bisiknya serak di telinga Chaby.


Chaby menolehkan kepalanya dan tersenyum malu-malu kepada Decklan,


"Pagi juga kak Decklan."


Decklan melirik ke arah hujan yang mulai turun dengan deras di luar,


"Hari ini hari sabtu dan di awali dengan hujan yang turun deras." lelaki itu mengedipkan matanya,


"Sepertinya kita akan berada di atas ranjang seharian." gumamnya.


Chaby sempat tertawa geli ketika Decklan menariknya setengah menggoda ke dalam pelukannya dan menciuminya. Dan memang benar, mereka baru turun dari ranjang lama


sekali sesudahnya.


                                  ***


Ketika Chaby dan Decklan turun untuk makan siang dan melewatkan sarapan, mereka bertemu dengan Bara dan Pika yang sedang duduk di ruang makan, menikmati makanan sekaligus mengisi waktu mereka bersama. Mama Lily lagi mengantar Gatan ke rumah sakit dari pagi dan belum kembali sampai sekarang. Andra? Akhir-akhir ini ia sibuk mengurus magangnya.


Bara memang sengaja datang untuk menemani Pika karena kata gadis itu ia tidak mau tinggal sendirian di rumah dengan pengantin baru. Ia tidak mau jadi nyamuk.


Bara mengangkat alisnya melihat pasangan itu dan tersenyum menggoda. Kata Pika mereka belum keluar kamar dari pagi.


"Aku pikir kalian nggak akan bangun seharian." gumamnya penuh arti, membuat pipi Chaby merah padam karena malu.


Decklan hanya terkekeh menanggapinya dan merangkul pinggang Chaby erat-erat,


"Lo tahu kan kita berdua masih bisa di sebut pengantin baru. Lo juga tahu pasti kegiatan apa yang biasanya pengantin baru lakukan."

__ADS_1


"Kak Decklan," Chaby berbisik pelan sambil menyikut pinggang suaminya pelan, membuat Decklan tergelak dan Bara serta Pika ikut tertawa.


Masih tersenyum Decklan menarikan kursi makan untuk gadis itu dan duduk di sebelahnya. Mereka lalu makan bersama.


"Jadi, kak Decklan dan Chaby sudah punya tempat untuk pergi berbulan madu nanti?" tanya Pika tiba-tiba. Chaby terus menikmati makanannya biar kak Decklan yang menjawab.


"Kita berdua akan berbulan madu ke Paris." jawab Decklan.


Pika menanggapi dengan senyum


lebarnya.


"Ah senang bangeet." serunya antusias.


"Kapan Chaby?" tanyanya bersemangat.


Chaby menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu rencana ini, kak Decklan belum bilang padanya.


Chaby menoleh ke arah Decklan dengan penuh pertanyaan.


"Aku nggak tahu..." jawabnya kepada Pika.


"Memangnya kita akan berbulan madu kapan kak Decklan?" Decklan tersenyum penuh rahasia.


"Segera." gumamnya,


Pika tersenyum makin lebar,


"Jangan lupa bawa oleh-oleh ya kalau pulang dari sana nanti." pinta. Decklan tersenyum. Ia sudah tahu adiknya pasti akan meminta oleh-oleh.


                                  ***


"Aku cinta kamu." Decklan memeluk Chaby dari belakang dengan menggoda, mereka sudah balik ke kamar dan menikmati angin malam hari lewat balkon kamarnya. Decklan terus memeluk Chaby dari belakang dan menggelitiknya setengah


menggoda.


"Kak Decklan!" Chaby berteriak kegelian dan menerima kecupan-kecupan sayang Decklan di pipinya. Decklan terkekeh sambil masih menciumi Chaby, menghirup aroma isterinya yang selalu ia rindukan itu.


"Kamu kangen aku nggak?" bisiknya lembut,


"Dan kamu harus menjawab iya


kalau nggak aku akan marah." tambahnya, terdengar nada peringatan yang lucu dari nada bicaranya.


Chaby tertawa kecil. Padahal mereka belum berpisah lama karena pria itu mandi tadi. Catat, mereka hanya berpisah sebentar karena kak Decklan mandi, tapi perkataannya seperti baru balik dari bepergian jauh saja.


"Iya kak Decklan."

__ADS_1


Chaby membalikkan badannya dan


memeluk Decklan, membiarkan dahinya di kecup dengan lembut.


"Aku juga." Decklan mengaku.


"Setiap saat yang aku pikirin hanya kamu, aku nggak sabar lama-lama pisah sama kamu."


Pipi Chaby bersemu merah dan menatap suaminya penuh cinta.


"Aku sangat bahagia bisa nikah sama kak Decklan." bisiknya kemudian membuat Decklan langsung memeluknya semakin erat.


"Makasih sayang." gumam Decklan penuh perasaan.


"Kamu tahu kebahagiaan kamu telah menjadi obsesi pribadi aku. Aku janji akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk membahagiakan kamu." dikecupnya ujung hidung Chaby,


"Ngomong-ngomong tentang berbahagia, kita akan berangkat ke Paris sabtu depan. Aku sudah menyiapkan semuanya."


mata Chaby berbinar,


"Benarkah? Kuliah kak Decklan gimana?" ia ingat suaminya itu sedang sibuk menyelesaikan studinya di universitas.


Decklan tersenyum,


"Sesibuk-sibuknya aku, kamu adalah


prioritas aku, aku sudah mengurus semua masalah kampus. Saat balik dari bulan madu nanti aku akan langsung ujian skripsi. Nggak usah khawatir. Sekarang pikirin aja dulu tentang kita berdua.


Chaby mendesah lega,


"Jadi, kita jadi berbulan madu?"


Decklan menganggukkan kepalanya,


"Kita akan berusaha untuk membuat Decklan junior di Paris." godanya, membuat pipi Chaby bersemu merah. Lelaki itu terpesona melihat kecantikan isterinya, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mengecup bibir isterinya dengan penuh gairah. Disesapnya bibir yang lembut itu dengan penuh kasih sayang. Ketika mereka berdua mengangkat matanya, binar-binar kebahagiaan memancar dari mata mereka, penuh dengan cinta.


Chaby sangat bahagia sekarang, ia tahu kisah cintanya dengan kak Decklan mungkin akan menghadapi banyak tantangan kedepannya. Namun ia akan belajar untuk menjadi dewasa.


Dirinya tersenyum membayangkan masa depannya, bersama kak Decklan dan anak-anak mereka nanti.


                              Tamat


Eitss..,


Yang mau nanya-nanya kenapa aku udah tamatin novel ini jangan berburuk sangka dulu yah. Aku bakal bikin season duanya kok.


*****Pokoknya buat kalian yang masih pengen kisah manis Chaby dan Decklan berlanjut, tunggu season duanya yah.😇*****

__ADS_1


__ADS_2