GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 64


__ADS_3

Banyak penghuni kampus terus mengamati Decklan yang menggandeng seorang cewek masuk kantin. Mereka tidak kenal cewek itu dan menurut mereka cewek yang di gandeng Decklan lebih muda dari cowok itu.


Ada yang berbisik-bisik tentang Decklan tentu saja. Bagaimana tidak, selama kuliah di kampus itu Decklan sangat terkenal di jurusan kedokteran karena memiliki visual yang banyak orang bilang sempurna. Wajah tampannya, sifat pendiam dan coolnya, status keluarganya yang dari keluarga terpandang, belum lagi dia sangat dalam pelajaran.


Decklan telah mendapatkan predikat cowok nomor satu di jurusan kedokteran. Belum lagi teman-temannya yang nggak kalah keren itu. Saat cowok itu berjalan masuk kantin dengan menggandeng cewek begitu tentu saja membuat mereka merasa heran dan seperti merasa tidak rela.


Sayangnya mereka mengira Elsa yang sering terlihat bicara dengan Decklan yang bakal jadi ceweknya. Eh tuh cowok malah gandeng cewek lain. Kasihan sih Elsa.


Elsa termasuk salah satu perempuan yang katanya cocok bersanding dengan Decklan. Sama-sama pintar, kaya juga cantik.


Elsa merasa kesal dalam hati. Ia memilih berjalan paling belakang dan terus memperhatikan Decklan dan cewek yang bernama Chaby itu terus berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan. Sesekali ia tersenyum sinis merasa kalau yang lebih cocok bersama Decklan adalah dirinya dibanding cewek bego dan sok manja itu. Menurutnya cowok sempurna seperti Decklan nggak cocok sama cewek oon macem itu. Mereka duduk di meja besar bagian tengah.


"Lan, catatan lo gue balikin besok yah." kata Elsa. Ia sengaja mau nunjukin kalau dirinya juga cukup dekat dengan cowok itu. Padahal Decklan sama sekali nggak merasa mereka deket tuh.


Decklan mengangguk cuek. Semenjak ada Chaby perhatiannya selalu pada gadis itu.


"Oh iya, club kita bakalan ada camping dua hari. Gue udah masukin nama lo. Lo ikut juga kan?" tambah Elsa lagi sengaja. Ia berpikir dengan begitu, orang-orang akan berpikir dia dan Decklan memang dekat.


Decklan mengangkat wajah menatap Elsa tidak senang. Ia tidak suka karena gadis itu berbuat seenaknya tanpa bertanya.


Pika yang duduk berhadapan dengan Elsa terus menatap cewek itu. Ia mencium-cium bau tidak sedap sejak tadi. Entah kenapa Pika merasa sih Elsa ini tipikal perempuan yang suka merusak hubungan orang. Lebih parah dari Nana dulu. Elsa jauh lebih terang-terangan.


Nggak bisa dibiarin. Pokoknya Pika harus terus mantau tuh cewek. Ia tahu kakaknya nggak bakalan pernah terpengaruh sama cewek itu, tapi bagaimana kalau tuh cewek sengaja mau bikin Chaby cemburu dengan sengaja manas-manasin sahabatnya itu?


Pika nggak mau hubungan Chaby dan kakaknya yang sangat membuat orang lain baper itu ternodai karena cewek perusak.


"Kak Decklan," panggilnya. Niat Decklan yang ingin bicara pada Elsa terhenti dan melirik Pika.


"Aku sama Chaby bisa ikutan camping juga nggak?"


Chaby ikutan mengangguk semangat.

__ADS_1


"Tapi kalian bukan anak kampus ini."  kata Elsa keberatan. Bara terus menatap gadis itu. Dari tadi ia selalu memperhatikan Elsa yang menatap Chaby seperti tidak suka, dan Bara jelas tidak suka dengan perempuan macam begitu.


Pika memutar bola matanya malas dan memutuskan tidak menghiraukan Elsa, nggak penting juga.


"Chaby." ia memanggil Chaby dan memberi kode dengan matanya.


Seolah mengerti maksud sahabatnya itu, Chaby mengangguk dan mulai melancarkan aksinya.


"Kak Decklan aku sama Pika ikut yah." ucapnya bergelayut manja di lengan Decklan.


"Kak Decklaaann.." gadis itu terus memelas manja pada Decklan sampai-sampai Elsa ingin sekali melemparnya dengan segelas air yang ada didepannya.


Bara, Pika dan Andra sudah biasa melihat tingkah Chaby yang begitu kalau ada maunya sedang Hugo, sejak tadi ia terus merasa ngakak sekaligus heran karena Decklan sama sekali tidak tidak terlihat terganggu atau malu dengan tingkah pacarnya itu. Malah terlihat senang. Hugo berpikir sebentar, seru juga sih kalau Decklan bawa adik sama pacarnya. Lagian itu kan kegiatan club buat senang-senang aja. Harusnya nggak apa-apa dong.


"Gue rasa mereka bisa ikut kok. Kan nggak ada larangan yang bukan anak kampus kita nggak bisa ikutan. Lagian ini acaranya buat seneng-seneng juga." ujar Hugo. Pika berubah senang.


"Tapi.." Elsa masih keberatan.


Awalnya sih Decklan mau menolak pergi. Tapi karena kedua gadis yang disayanginya itu memaksa mau pergi ya sudahlah, pergi aja.


Cowok itu menatap sebentar ke Chaby yang menatapnya penuh harap, kemudian mengangguk menatap Pika.


Dua gadis itu saling menepuk tangan gembira. Pika merasa menang dan menatap Elsa dengan dagu terangkat sombong sedang cewek itu hanya menahan kesalnya dalam hati.


"Kak Bara sama kak Andra ikut kan?" tanya Pika. Menurutnya lebih asyik kalau ada mereka. Kan mereka selalu ngumpul bareng. Walau tiga bulan terakhir ini waktu ngumpul mereka jadi berkurang karena ketiganya sibuk.


"Kayaknya gue nggak bisa." jawab Andra.


Pika langsung melirik Chaby lagi. Chaby adalah senjata pamungkasnya kalau dalam hal memelas begitu. Karena dirinya sama sekali tidak cocok. Bisa-bisa mereka malah jijik.


"Chaby!"

__ADS_1


Chaby melepaskan tangannya dari lengan Decklan dan berpindah ke Andra.


"Kak Andraaa..." ia mulai melakukan aksinya yang membuat Andra tidak bisa berkutik dan hanya mengiyakan. Ketika gadis itu berbalik ke Bara. Cowok itu langsung berkata iya.


"Iya gue pergi." jawab Bara langsung. Ia sudah tahu akan sulit mengatakan tidak kalau Chaby sudah bersikap manja seperti itu.


Hugo hanya melongo menepuk-nepuk tangannya takjub. Kekuatan apa yang dimiliki oleh kedua gadis itu sampai-sampai bisa membuat Decklan dan teman-temannya itu tidak berkutik. Pandangannya berpindah ke Elsa, menurutnya cewek itu tidak punya harapan lagi. Mending cari yang lain saja.


Chaby sekarang memfokuskan pandangannya pada dessert yang ada diatas meja mereka. Entah siapa yang memesannya tapi dia suka. Ia menelan ludah sambil terus menatap dessert itu.


"Kenapa, suka? Ambil aja itu punya gue." kata Hugo. Ia sempat melihat ekspresi lucu Chaby yang terus menatap tanpa berpaling dari dessertnya. Kasian juga lama-lama.


Setelah mendapat persetujuan Hugo, Chaby cepat-cepat mengambil dessert itu namun lagi-lagi digagalkan oleh Decklan. Pika dan Andra menertawai wajah cemberut khas Chaby.


"Nggak boleh." gumam Decklan galak.


Chaby memberengut kesal.


"Ini nggak boleh, itu nggak boleh, yang bolehnya mana siihh, hmph." omelnya lalu membuang muka ngambek sambil bersedekap.


"Chaby, lo nggak liat tuh dessert ada telornya apa. Masa lo lupa punya alergi ayam sama telornya juga." timpal Pika.


Decklan sendiri yang membawa Chaby buat cek alergi dulu jadi ia tahu apa saja yang bisa dan nggak bisa di makan sama cewek itu. Ia juga memberitahunya pada Pika dan memintanya untuk terus memperhatikan Chaby kalau sedang makan. Pasalnya Chaby selalu lupa saking ke pengen buat makan semua yang dilihatnya enak.


"Makan ini aja yah." ucap Decklan lembut menyodorkan muffin apel yang khusus ia pesan buat kekasihnya itu.


___________________


Gimana sejauh ini ceritanya guys?


Ada yang pada suka nggak?

__ADS_1


__ADS_2