
Tak lama setelah dokter Nina pergi dan kembali ruangannya, Andra dan Bara muncul.
"Gimana, kok bisa tiba-tiba muntah?" tanya Andra. Pandangannya berpindah-pindah dari Decklan dan gadis di atas tempat tidur itu yang sudah pulas.
"Jatoh, perutnya ke bentur lantai." sahut Decklan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Chaby.
"Kenapa sampai jatoh?" giliran Bara yang bertanya. Decklan menggeleng.
"Gue belum sempat nanya." sahutnya singkat. Ia melirik dua cowok itu bergantian.
"Muntahannya udah dibersihin?" tanyanya balik karena teringat Chaby yang muntah di kelas mereka.
Bara mengangguk. Setelah Decklan membawa Chaby keluar, ia dan Andra langsung membersihkan muntahan gadis itu.
"Lo berdua jagain dia bentar, gue mau ambil tasnya di kelas sekalian ijin pulang. Kata dokter dia harus istirahat beberapa hari." ucap Decklan lagi sekaligus menjelaskan.
Bara dan Andra mengangguk mengerti. Bara bisa lihat cowok itu yang tampak lesuh. Caranya berjalan keluar saja tidak bersemangat. Pandangannya berpindah ke Chaby. Wajah gadis itu terlihat pucat namun tidak mengurangi kecantikannya.
"Gue rasa Decklan bisa gila kalo kehilangan nih cewek." gumam Andra. Sejak tadi ia terus menatap Chaby juga. Selama ini ia terus memperhatikan bagaimana Decklan memperlakukan gadis itu. Bara disebelahnya hanya tersenyum tipis. Ia juga punya pemikiran yang sama dengan Andra. Didepan Chaby, Decklan sangat berbeda. Cowok itu terlihat sangat bahagia dan lebih menikmati hidupnya. Berbeda jauh ketika cowok itu sedang sendirian.
***
Saat mendengar kejadian yang menimpa adiknya, Danzel langsung membatalkan semua proyeknya di luar Kota. Ia terlalu khawatir pada Chaby. Ia bahkan memutuskan cuti selama beberapa hari untuk menjaga gadis itu.
Galen lah yang harus rela tetap kerja padahal dirinya sama khawatirnya. Ya sudahlah, yang penting ada yang menemani dan menjaga Chaby.
__ADS_1
Sebenarnya kondisi gadis itu sudah berangsur-angsur membaik, hanya saja orang-orang didekatnya itu yang terlalu khawatir. Padahal dirinya merasa sudah sehat. Lihat saja sekarang, ia terus menerus di paksa minum obat padahal dia paling benci sama obat-obatan pahit kayak gitu.
"Ayo di minum dulu obatnya." pinta Danzel menyodorkan menyodorkan sebutir obat ke mulut Chaby. Gadis itu merengek manja menatap kakaknya.
"Chaby, dengerin kakak." ucap pria itu lagi kali ini nada bicaranya terdengar tegas dan menatap tajam gadis itu. Mau tak mau Chaby terpaksa membuka mulutnya membiarkan kakaknya memasukan pil itu dan menelannya. Ia cepat-cepat mengambil air yang di pegang Danzel dan meminumnya sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa pahit.
Danzel terkekeh. Dasar manja. Kelakuannya tidak pernah berubah.
"Kakak, nanti aku bisa pesan martabak nggak kalau kak Decklan sama Pika datang sebentar?"
Danzel menatap Chaby itu menimbang-nimbang. Decklan memang selalu datang menjenguk gadis itu semenjak dia ijin dua hari ini. Danzel juga bisa melihat sikap tulus dan perhatian cowok itu pada adiknya. Decklan memperlakukan Chaby dengan sangat baik dan amat menjaganya.
Kalau soal makanan, mereka sama-sama tahu kalau Chaby itu suka sekali makan sembarangan padahal tubuhnya lemah dan sering sakit kalau salah makan. Danzel rasa gadis itu akan lebih menurut pada Decklan kalau cowok itu yang melarang.
"Terserah kamu saja." ucap pria itu kemudian. Ia yakin sekali Decklan nggak akan memenuhi permintaan gadis itu. Makanya setuju-setuju saja.
Chaby berubah senang lalu cepat-cepat meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Decklan.
***
Sorenya, Chaby sudah tidak sabar menunggu kedatangan Decklan. Setelah menunggu lama akhirnya cowok itu datang bersama Pika.
Pika sendiri baru tahu kalau Chaby ijin sekolah selama dia nggak ada karena sakit. Ia terlalu sibuk dengan event melukisnya jadi tidak ada waktu saling chattingan sama tuh cewek sekedar menanyakan kabar. Ketika mendengar cerita tentang Chaby yang terjatuh dan perlu istirahat beberapa hari, ia langsung meminta buat ikut dengan Decklan menjenguk gadis itu.
Dan disinilah mereka sekarang. Berhadapan dengan cewek yang sejak tadi terus menatap mereka dengan ekspresi cerianya yang berlebihan. Pika mengerutkan kening. Sih Chaby ini sakit darimananya coba? Orang tuh cewek keliatan fresh banget gitu nggak ada lemah-lemahnya. Kayak orang gila iya. Lihat aja tuh mukanya dari tadi malah senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Lo beneran sakit?" tanyanya ragu.
"Udah nggak." sahut Chaby tersenyum lebar. Pandangannya berpindah ke Decklan yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik dan menaruhnya diatas meja dekat tempat tidur gadis itu.
"Kak Decklan, pesanan aku mana?" matanya mencari-cari martabak yang dipesannya tadi tapi tidak menemukan makanan yang ia cari itu. Hanya ada bermacam-macam buah-buahan segar yang disusun-susun rapi oleh cowok itu diatas meja kecilnya.
Decklan menghentikan kegiatannya sebentar lalu menarik kursi ke sisi tempat tidur gadis itu dan duduk.
"Kamu baru sembuh. Makannya yang sehat-sehat dulu kayak buah-buahan." katanya. Ekspresi Chaby langsung berubah cemberut.
"Nggak asik ah kak Decklannya." cewek itu mengambek lalu cepat-cepat menyembunyikan dirinya kedalam selimut. Padahal ia sudah senang banget dari tadi nungguin, tapi malah di prang.
"Udah nggak usah ngambek gitu ah. Lo tuh udah besar Chaby." timpal Pika. Chaby lalu menyibak kasar kain yang menutupi tubuhnya dan menatap Pika.
"Tapi aku tuh udah kirimin pesan ke kak Decklan. Aku pikir kak Decklan nggak bales pesan aku karena udah iyain beliin martabaknya. Kalo nggak di ijinin bilang dong biar aku nggak ngerasa di php in kayak gini, hmph!"
celoteh Chaby panjang lebar dan kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu.
Pika hanya tertawa kecil menatap gadis itu lalu melirik Decklan yang sedang tersenyum juga. Cowok itu malah merasa pacarnya itu lebih bertambah manis kalau sedang ngambek begitu.
Dari ambang pintu kamar itu berdiri Danzel. Sejak tadi ia ikut menjadi penonton dan tertawa sendiri dengan kelakuan adiknya yang sangat kekanakan itu. Pria itu memutuskan balik ke ruang kerjanya, membiarkan adiknya ditemani Decklan dan Pika.
"Kak Decklan urusin nih anak gih, aku mau nelpon temen les aku bentar." ucap Pika lalu keluar.
Sebenarnya sih ia hanya beralasan saja biar kakaknya ada waktu berdua sama sahabatnya itu.
__ADS_1